4 Tokoh dan Pendekatan Pembelajaran Mereka

0 11

Tokoh Pembelajaran dunia. Lahirnya sebuah strategi, pendekatan, metode, dan taktik dalam pembelajaran, biasanya berasal dari penemuan seorang tokoh. Temuan mereka kemudian dikembangkan, diolah, sehingga menginspirasi melahirkan teori baru dalam pembelajaran. Uniknya, tokoh tersebut tidak semua berlatar pengajar dari awal.

Tulisan saya kali ini, akan mengungkap empat tokoh yang menemukan pendekatan dalam pembelajaran dan dasar teorinya. Teori yang mereka kemukakan akan kita lihat dari riwayat hidup mereka secara ringkas, dan bisa menjadi pendekatan pembelajaran alternatif dalam pengajaran.

Maria Montessori

maria montesorri

Maria Montessori, lahir tanggal 31 Agustus 1870, di Chiaravalle, Marche, Italia. Montesorri sebenarnya adalah seorang ahli fisika, sekaligus wanita pertama di Italia yang mendapat gelar doctor dalam bidang pendidikan dimulai saat dia mengajar 50 siswa miskin di pinggiran Roma pada tahun 1907. Sebelumnya Montessori adalah pembimbing khusus mahasiswa di perguruan tinggi.

Maria Montesorri, tidak sepakat dengan teori “papan tulis kosong”, yaitu teori yang menyebutkan bahwa anak lahir dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Montesorri bahkan berpendapat sebaliknya, bahwa anak dilahirkan mampu menyerap pengetahuan sendiri (self-directed learning). Atas dasar prinsip inilah, saat mengajar, Maria Montesorri memberikan kebebasan penuh kepada anak didiknya untuk memilih. Anak-anak menghabiskan waktu di sekolah, diberdayakan dengan kebebasan. Semakin lama anak di sekolah, maka semakin mudah memberdayakannya. Posisi guru hanya mengkontrol.

Montessori percaya bahwa anak-anak membutuhkan masa konsentrasi yang panjang dan itu adalah hak anak. Menurutnya, dengan pelajaran terstruktur dan kurikulum baku, justru akan menghambat perkembangan alamiah anak. Siswa yang belajar di sekolah Maria Montesorri kala itu, bebas dan sangat menyukai berada di sekolah, dan pada saatnya sedikit demi sedikit anak di-inject dengan pengetahuan sesuai kemampuannya.

Montessori adalah pendukung utama pembelajaran taktil. Belajar adalah bermain, dan hampir tak ada tes. Tahun 2006, sebuah penelitian menunjukan keberhasilan teori Montesorri ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa cara mengajar Montessori membuat keterampilan sosial dan akademik anak lebih baik.

Rudolf Steiner/ Waldorf

Rudolf steiner

Rudolf Steiner, lahir tanggal 27 Februari, 1861, Donji Kraljevec, Croatia seorang ilmuwan dan filsuf. Salah satu teori Steiner yang terkenal adalah bahwa manusia memiliki kebijaksanaan yang melekat untuk mengungkap misteri dunia spiritual.

Dalam bidang pendidikan dan pengajaran Steiner mengembangkan model pendidikan yang berfokus pada pengembangan “totality”, yaitu pengembangan kreatifitas terhadap tubuh, jiwa, dan roh anak. Pemikiran ini sebenarnya dipengaruhi oleh orang-orang dekatnya sendiri seperti Goethe dan Jean Piaget.

Steiner percaya bahwa 7 tahun pertama kehidupan anak, adalah periode belajar meniru berbasis sensorik. Masa itu digunakan untuk mengembangkan kemampuan non-kognitif anak. Untuk itu, anak-anak TK di sekolah Waldorf didorong untuk bermain dan berinteraksi dengan lingkungan mereka bukannya diajarkan konten akademik. Steiner juga menerapkan bahwa anak-anak harus belajar menulis sebelum mereka belajar membaca, bahwa anak tidak harus belajar membaca sebelum usia 7 tahun.

Teori pendidikan Steiner biasa disebut Waldorf, istilah “Waldorf” digunakan bergantian dengan Steiner. Menggambarkan sekolah dengan kurikulum berdasarkan ajaran Steiner. Berawal dari aktifitas Steiner tahun 1919 yang mengajar anak-anak pekerja di pabrik rokok Waldorf-Astoria. Saat itu, steiner mengajar dengan penekanan pada ekspresi kreatif dan nilai-nilai sosial dan spiritual. Hanya kurun waktu 10 tahun, sekolah Steiner itu menjadi sekolah swasta terbesar di Jerman. Ketika Nazi menutup sekolah-sekolah Jerman selama Perang Dunia II, Waldorf melarikan diri ke negara lain.

Edward Harkness

edward harkness

Edward Harkness, lahir tanggal 22 Januari, 1874, di Cleveland, Ohio, Amerika. Edward Harkness pada dasarnya bukanlah pakar pendidikan sejak awal. Tapi seorang raja minyak nan dermawan. Tahun 1930, Harkness memberikan sumbangan jutaan Dollar ke Phillips Exeter Academy, sebuah sekolah menengah swasta di New Hampshire, dengan syarat bahwa uang itu akan digunakan untuk menerapkan metode pendidikan baru yang akan melibatkan semua siswa dalam proses pembelajaran. Dana abadi Harkness dibayar untuk mempekerjakan guru dengan jumlah terbatas, yaitu hanya 26 guru, dengan jumlah siswa yang banyak dalam satu kelas.

Dari situlah muncul istilah teori Harkness, bahwa efektifnya sebuah pembelajaran di sekolah tergantung efektifitas komunikasi peserta didik dalam satu kelas. Pada tiap kelas Harkness kala itu, disediakan meja oval besar yang menjadi pusat dari setiap kelas yang menggunakan metode Harkness mengajar. Siswa duduk dengan teman sekelas dan guru mereka di sekitar meja dan membahas setiap dan semua mata pelajaran.

Metode Harkness merupakan revolusi signifikan dari setting kelas tradisional dimana guru berada di depan bersama papan tulis, dan siswa duduk di deretan meja. Metode Harkness, menempatkan guru sebagai penaggungjawabdan memastikan bahwa tidak ada satu siswa mendominasi, semua sama, dan memiliki hak yang sama.

Loris Malaguzzi/ Reggio Emilia

Loris Malaguzzi

Loris Malaguzzi lahir di Corregio, Italy in 1920. Loris Malaguzzi adalah seorang guru yang mengajar anak-anak usia 3 sampai 6. Saat mengajar, Malaguzzi memakai pendekatan baru untuk pendidikan anak usia dini. Teori Malaguzzi dalam pembelajaran kemudian dikelan dengan teori Reggio Emilia.

Teori Reggio Emilia didasarkan pada keyakinan bahwa anak-anak yang kompeten, penasaran dan percaya diri, dapat berkembang dengan jika antara antara guru dan siswa saling menghormati.

Sekolah yang menerapkan teori Reggio Emilia menekankan pentingnya orang tua mengambil peran aktif dalam pendidikan awal anak. Dalam kelas pun demikian, kesan ruang kelas dirancang terlihat seperti di rumah dan kurikulum yang fleksibel.

***

Empat pendekatan dalam pembelajaran yang berasal dari tokoh tadi, tidak semua dapat diterima dengan baik di kalangan pendidikan sendiri. Alasan utamanya tentu karena hal tersebut sifatnya adalah pendekatan, dan penerapan untuk mencapai keberhasilan maksimal, sangatlah kondisional. Beberapa kalangan agamis, bahkan mengkritik kalau kebanyakan dari teori itu bertentangan dengan ajaran agama.

Komentar
Loading...