6 Kalimat Pembelaan yang Sesat dan Menyesatkan

Kalimat Pembelaan yang Sesat

Dalam diskusi atau debat, terkadang ada yang merasa terpojok, lalu munculah kalimat pembelaan yang sesat dan menyesatkan. Kalimat pembelaan karena membela dirinya atau ingin merasa menang dalam  diskusi atau debat itu. Sesat dan menyesatkan, karena kalimat pembelaan itu pada dasarnya tidak nyambung. Menyesatkan karena terkesan benar, padahal tidak benar.

Yah…. Sepintas kalimat pembelaan itu masuk akal, dan sulit dibantah. Sulit karena butuh jawaban panjang padahal kalimatnya simple dan sepele. Ini mirip dengan pengalihan perhatian, dan usaha mengembangkan kalimat setopik.

Kikuk kikuk tahun politik melahirkan perdebatan bukan hanya debat capres tapi juga debat medsos. Di sanalah saya melihat beberapa kalimat pembelaan yang sesat dan menyesatkan. Kalimat pembelaan itu akan kita lihat dan sisi menyesatkannya sekaligus menjadi bahan menjawabnya.

6 Kalimat Pembelaan yang Sesat dan Menyesatkan

siapapun presidennya, kalau Anda malas, juga tak ada gunanya.

Cebi Pendukung fanatik

 

Sering dengar kalimat itu bukan. Kalimat pembelaan ini muncul saat seorang ingin membela bahwa apa yang terjadi dan dirasakan saat ini bukan kesalahan siapa-siapa. Tapi kita sendirilah yang harus berubah.

Sepintas benar, tapi menyesatkan. Sisi penyesatannya sederhana. Karena kita harus jawab simpel, “kalau begitu tak usah ada presiden, tak ada pilpres, bikin repot, cukup kita rajin kerja saja.”

Bisa juga dengan jawaban, “kalau gitu kucing saja yang jadi presiden. Kita begini saja asal rajin kerja dan tidak malas.”

Ada kesan ingin mengalihkan kalau semua yang terjadi padamu adalah salahmu. Bukan karena siapa-siapa. Padahal, Anda rajin dan menjadi sukses tak lepas dari peran orang lain, termasuk pemerintah. Anda punya banyak lahan, tapi ternyata lahan itu disita dengan harga murah untuk kebijakan pemerintah. Nah…

Atau anda rajin ke sawah, sukses, panen penghasilan melimpah, tapi hasil panen tak laku karena beras melimpah datang dari ekspor. Dst.

“Kenapa kita ribut-ribut masalah yang sepele, Dilan, Kopar Kapir... Urus tuh koruptor, karena lebih berbahaya bagi bangsa kita ini.”

Cebi Pendukung fanatik

 

Kalimat pembelaan yang sepintas benar apalagi kalau kubu lawannya punya masalah seperti yang disebutkan. PKS pernah tersiksa dengan kalimat seperti ini. Para pembuat kalimat pembela, cukup mengatakan, “urus tuh sapi…”

Sisi menyesatkanya, kalimat ini sama saja dengan: “tidak usah urus maling ayam, urus maling motor saja”.

Padahal, perbuatan buruk, besar atau kecil, tetap harus dihalangi.. Jika orang tersebut menentang Dilan karena merusak akhlak remaja, bukan berarti juga diam saja terhadap koruptor. Bukankah lebih baik kita menjaga dari keduanya.

Tak usah mati-matian, karena Tuhan tak perlu dibela...

Cebi Pendukung fanatik

 

Sepintas benar bukan. Itulah kalimat pembelaan. Sisi sesatnya, hamba memang tak perlu membela yang lebih berkuasa darinya. Buat apa sia-sia. Tapi kita harus menunjukan kalau kita berada dalam posisi yang benar sesuai anjuran yang Maha Kuasa.

Opini Terkait
1 daripada 130

Pembelaan agama yang dilakukan selama ini, bukan untuk membela Tuhan, tapi, menyuarakan, dan mengakomodasi kepentingan dengan jalan benar sesuai standar kebenaran Tuhan.

“Kita tidak perlu menghakimi keburukan orang lain. Biarlah itu urusan dia dengan Tuhannya. Hanya Tuhan yang tahu mana yang paling benar. Hanya Tuhan lah yang berhak menghakimi semua di akhirat kelak.”

Cebi Pendukung fanatik

 

Kalimat ini saya dapatkan dengan beberapa bentuk kodifikasi berbeda. Misal, urusan kafir adalah urusan Tuhan, kita tak layak memanggil orang lain dengan panggilan kafir.” Wacccawwwwww…

Kalimat pembelaan yang sesat yang terkesan benar dan memang ada benarnya, tapi juga menyesatkan.

Jika saja hanya Tuhan yang berhak menghakimi, mari kita bubarkan semua lembaga peradilan, karena manusia tidak berhak menghakimi bukan?

Orang korupsi, menjadi gay dan lesbian, menghina agama, bahkan membunuh orang lain, biarkan saja. “Hanya Tuhan yang berhak”, katanya. Jadi jika ada polisi yang coba mendenda kita karena tidak membawa STNK, pelototin saja, dan katakan, “biar tuhan menghakimi saya”.

Apapun itu, mari kembali ke diri masing-masing...

Cebi Nyaung

 

Hebat benar sesatnya…. kalau negara ini didatangi oleh penjajah dengan menyamar menjadi TKA, atau mereka datang menyebar kebatilan, apa kembali ke diri masing-masing?

Kalau tergantung kepada diri masing-masing, anda tidak usah diajar, tidak usah ke sekolah, tidak usah ada hukum. Kembalikan aja pada diri masing-masing.

Ingat, kebenaran yang tidak terstruktur dengan baik akan kalah oleh kejahatan yang terstruktur dengan baik. Makanya, pola penyesuaian antara individu itu penting. Kekurangan A diisi B. Kekurangan B diisi C, dan seterusnya. Bukan malah kembali ke diri masing-masing.

“Kenapa sih kalian bisa nya cuma mengkritik? Apa yang sudah kamu lakukan untuk negara ini.”

Cebi Pendukung fanatik

 

Hellooo, ini diskusi. Kalau mau cari apa yang saya lakukan untuk negara ini jangan sekarang. Lagian, mengkritik itu positif buat siapa saja termasuk perangkat negara.

Mengkritik itu seperti membangunkan orang tidur, karena yang sudah duduk atau tidur di kursi empuk biasanya lupa bangun, lupa mengurus rakyatnya. Bangunkan meski tanpa solusi, karena mereka dibayar untuk mencari solusi. Itulah bentuk yang saya berikan untuk negara ini.

kalimat menyesatkan

Enam kalimat pembelaan yang sesat dan menyesatkan tersebut, bisa saja akan selalu bertambah. Mungkin Anda menemukan yang lebih aneh dan unik. Mari kita bedah sisi menyesatkannya bersama-sama.

Saya tidak usah menyebut, siapa-siapa yang mengatakan kalimat-kalimat tersebut, karena sangat mudah mendapatkannya. Cukup lihat timeline medsos anda, atau menonton tv. Banyak kok, komplit dengan desainnya.

Loading...