Ajang Pencarian Bakat dan Nalar Cerdas Kita!

Ajang Pencarian Bakat

Acara televisi berbau hiburan yang dibungkus dalam bentuk pencarian bakat mulai populer era 90-an. Teringat bagaimana Akademi Fantasi menyihir para penonton sehingga rela begadang demi menuntaskan tontonannya.

Akademi Fantasi berhenti, muncul acara lain yang mirip. Ada Indonesia Mencari Bakat, X-Factor, Indonesian Idol, dan yang terkini Liga Dangdut, dengan masing-masing serialnya

Ibarat film menjelang iklan, presenter juga sangat pandai mengemas acara pencarian bakat itu, sehingga di setiap akhir babak, selalu saja momen yang membuat penasaran yang ditampilkan.

“Apakah Beddu tereliminasi?” teriak presenter dengan dentuman musik satu satu, menegangkan. Dan setelah itu kita tunggu malam berikutnya.

Dengan rangsangan kata “tereliminasi” penonton seakan terbius gaya menonton dengan mulut terbuka tanpa sadar. Songong!

Tak mau kalah. Bagi yang punya waktu dan dana lebih secara sukarela datang langsung ke studio mendukung jagoannya. Ada yel-yel di sana, tentu dengan format yang sudah diatur berdasarkan aturan tuan rumah.

Ajang pencarian bakat dan SMS

Awalnya saya sangat suka dengan format acara akademian seperti itu, hanya karena satu hal; memberikan kesempatan kepada khalayak untuk menilai dan mendukung jagoannya.

Dalam pikiran saya waktu itu, acara ini sangat menghargai pilihan publik dengan memberikan kesempatan memberikan dukungan melalui SMS. Siapa yang tereliminasi akan dipengaruhi berapa jumlah pendukungnya.

Mereka yang punya pulsa terbatas, cukup mengirim dukungan SMS semampunya. Sebaliknya, yang mampu mengirim lebih banyak, mereka tunjukkan kecintaan terhadap jagoan yang didukung.

Apalah arti harga SMS yang “hanya” sekian rupiah dibanding kecintaan terhadap jagoan. Mereka rela pulsa habis demi dukungan kepada sosok yang mungkin mereka sendiri tak mengenal.

Alasan “Sekampung, keunggulan fisik, sekeyakinan (karena berhijab misalnya), atau ikut-ikutan”, menjadi alasan kuat memborbardir dengan dukungan SMS

Ajang pencarian bakat yang mencurigakan

Apresiasi itu bergeser menjadi kecurigaan besar, setelah saya merenung ulang tanpa sadar. Logika sederhana berjalan, menyisihkan segala kepentingan atas cara mereka menunjukan dukungan dengan alasan apapun.

Ada beberapa hal yang menjadi bias, ambigu dan bahkan kontradiktif dari apa yang terjadi di ajang pencarian bakat itu;

Pertama, betulkah jumlah SMS yang mempengaruhi idola menjadi juara atau tidak terliminasi atau tidak dalam setiap babak?

Bukan! Akan sangat tidak masuk akal jika jawabannya, SMS adalah penentu seseorang menjadi juara, dengan berbagai pertimbangan;

  1. Kalau SMS sebagai penentu, buat apa ada juri? Okelah, bisa saja juri hanya sebagai pemberi saran, pemberi dukungan, masukan, dll.
  2. Tidak mungkin penyelenggara akan menobatkan sang juara dengan kualitas yang tidak memenuhi syarat, karena itu terkait kredibilitas penyelenggara, stasiun TV, dan dewan juri. Misalnya seperti ini: kontestan yang tersisa 4 orang. 3 diantaranya sangat bagus dan layak, sedangkan yang satu jauh di bawah standar dibandingkan yang 3 tadi. Andai yang satu ini mendapat dukungan SMS lebih banyak, entah karena dukungan keluarga, sikampong pemerintah, dll, bukan karena skill bakat yang dia tampilkan, tidak mungkin dia akan lolos dari eliminasi.
  3. Kalau SMS yang menjadi penentu maka, bakat ditentukan oleh siapa yang punya modal mengirim SMS
  4. Kalau SMS menjadi penentu juara, maka yang paling efektif adalah memesan bom SMS kepada provider jaringan seluler. Bukankah ada layanan seperti itu dengan harga malah di bawah harga normal.
  5. Adanya wild card, hak veto atau sejenisnya yang kerap muncul di tengah perjalanan ajang ini juga perlu dipertanyakan. Istilah ini merujuk kepada penyelematan salah satu peserta yang terancam tereliminasi, dimana juri memiliki otoritas untuk memberikan kesempatan kontestan dengan polling terendah untuk tampil pada kesempatan selanjutnya

Kedua, harga SMS dukungan yang naik hingga berkali-kali lipat

Jika Anda mengirim SMS biasa, kita asumsikan harga umum kisaran Rp. 150 (bahkan banyak lebih murah lagi) sampai Rp. 350. Tapi saat memberikan dukungan dalam bentuk SMS, maka pulsa Anda terpangkas bahkan sampai Rp. 1.800

Pertanyaan sederhana, kemana kelebihan harga itu? Kita memberikan dukungan atas nama cinta, kita ikhlas mengirim satu, dua, seratus, seribu SMS dengan harga termahal Rp.350/SMS, tapi ternyata harga dukungan tidak seperti itu. Ada kelebihan yang sampai sekarang tidak jelas kemana kelebihan itu!

“Kan cuma sedikit ndak cukup dua ribu”, kata lanturegge membela diri.

Betul sekali, sangat sedikit jika melihat personal. Namun jika ada 1 juta sms dalam satu sesi, maka ada 1.800.000.000 terkumpul yang kita tak tahu kemana uang itu.

Opini Terkait
1 daripada 125

Apakah kita saweran, kumpul-kumpul bersama untuk memberikan kepada sesuatu yang tidak jelas?

Ketiga, transparansi jumlah SMS dukungan yang masuk

Tak ada informasi akurat terpercaya mengenai jumlah, SMS masuk kepada siapa, kecuali yang diumumkan dan ditampilkan sepihak, baik presenter maupun penyelenggara.

Benar tidaknya jumlah yang disebutkan, penonton hanya bisa percaya. Ada ratusan bahkan mungkin jutaan SMS masuk, tak ada yang menjadi saksi terpercaya bahwa jumlahnya sekian untuk kontestan A, dan sekian untuk kontestan B.

Dalam dunia nyata saja, yang jelas disaksikan perhitungannya, tiap TPS pemilu butuh setidaknya 7 orang PTPS, belum lagi saksi dari masing-masing kontestan. Apalagi perhitungan digital seperti ini

Unik dan lucu, sangat sering terjadi selisih yang tidak terlalu berjauhan. Dan saya yakin agar masing-masing pendukung makin bersemangat mengirim SMS dukungan dengan kelebihan harga seperti yang sudah disebutkan.

Mudahnya mengambil uang orang lain tanpa sadar dengan dalih perasaan

Saat melihat poto, dan gambar anak-anak dengan bendera Palestian terluka, bersimbah darah, dengan mudah luluh perasaan kita. Akal seakan tidak berfungsi lagi.

Di situlah titik orang yang memperlihatkan poto dengan mudah meminta, mengambil uang memanfaatkan perasaan yang muncul

Kita lupa bertanya, benarkah poto itu? Bukankah sangat mudah membuat poto anak dengan bendera suatu negara dalam keadaan terlihat seperti ada bercak darah?

Kita juga lupa, betulkah uang yang kita berikan sampai sesuai apa yang kita inginkan dalam hati? Kasihan dengan anak dalam poto itu dan kita akan membantunya

Bahkan kita lupa bertanya, siapa orang yang memperlihatkan poto itu

Itulah salah satu contoh mudahnya mengambil uang dengan dalih perasaan. Rasa cinta, wujud kebersamaan, persatuan, apalagi kalau Bugis dengan “siri” yang banyak disalahpahami, nalar kita seakan mati bahkan lupa bertanya hal paling mendasar

Nyaris tak ada yang mau mempertanyakan mekanisme SMS dalam ajang pencarian bakat. Masyarakat cenderung tenggelam menikmati dengan nala mati, dalam ekstasi riuh kontes mengambil uang berbungkus pencarian bakat.

Para pemilik modal mengabaikan logika kritis ini karena keuntungan tampak lebih berarti. Semua seperti tak ada masalah, namun memang begini logika industri budaya bekerja. Masyarakat cenderung tidak merasa bahkan senang tereksploitasi.

Mari mendukung Siapapun yang berbakat dengan cerdas

Saya berapa kali menulis tentang ini, baik melalui FB, group, bahkan menyampaikan langsung kepada keluarga atau teman yang sudah terlena tanpa sadar, dan kebanyakan yang saya dapat jawaban, “biar saja asal saya dukung jagoanku.”

Mari mengapresiasi dan mendukung bakat yang dimiliki anak, generasi kita di bidang apapun, asal positif. Apresiasi dan dukungan, tentu sepantasnya dengan cara yang cerdas.

Beddu kita dukung dalam ajang pencarian bakat, kita apresiasi, tapi layakkah kita mendukung dalam bentuk sesuatu yang tidak memberi pengaruh apa-apa? Bahkan, yang ada kita membayar tanpa sadar.

Andai dengan bayaran itu toh memberi pengaruh kepada idola kita agar mendapat jatah kursi menjadi bintang, mungkin bisa dipertimbangkan. Tapi ini?

Yang paling cerdas menyikapi ini adalah politisi yang paham. Mereka pura-pura ikut larut mendukung, menunjukan perhatian dan memanfaatkan ketidaktahuanpublik.

Memang ada banyak massa, dan ada banyak pasang mata di sana. mendukung apa yang disukai khalayak, feedback nya dukungan balik dari masyarakat

Perlu adanya kesadaran bersama dengan mendesak lahirnya transparansi mekanisme dan hasil. Mereka berhak untuk mendapatkan keuntungan, tetapi kita sebagai publik pendukung juga harus cerdas menentukan sikap dalam mendukung.

Loading...