Akibat Kenaikan Harga BBM; Bersedekah Ketika Sulit

Kenaikan Harga BBM

Dari beberapa masjid yang sempat saya sambangi bulan Ramadhan kali ini, hampir semua menunjukan penurunan kuantitas jumlah sumbangan atau sedekah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dan uniknya dari sekian banyak alasan masyarakat sehingga animo untuk memberi sedekah, satu jawaban tak pernah luput, “kami sulit karena kenaikan harga BBM, sebelum ramadhan.”

Kenaikan harga BBM, memang berdampak terhadap banyak hal, termasuk daya beli masyarakat. Dari persoalan daya beli ini saja, tentu akan menyulitkan para pedagang karena mengurangi pendapatan baik netto dan bruto. Biasanya harta yang disumbangkan adalah hasil bersih dari usaha yang dilakukan. Artinya, dengan berkurangnya penghasilan menyebabkan kurangnya sedekah secara kuantitas.

Masalah sumbangan, sedekah dan hal sejenis, memang terkait dengan keimanan seseorang. Bagi seorang yang memiliki tingkat keimanan yang sudah tidak diragukan, memberi saat sempit dan sulit, tidaklah menjadi beban. Karena di balik itu, mereka berpegang pada janji Allah swt.

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. 1QS. at-Thalak ayat 7

Opini Terkait
1 daripada 92

Bagi yang beriman, terdapat harapan dari kesempitan akibat dampak kenaikan harga BBM. Caranya dengan memberi berupa sedekah, sumbangan dll. Banyak ahli agama telah membuktikan janji Tuhan ini. Sebut saja, Yusuf Mansur, Jefri al-Buchari, demikian pula sederet ulama salaf yang masih hidup. Mereka justru merasa senang dengan datangnya kesempitan, dan segera memberikan hartanya, sebagai ibadah untuk jalan kebaikan. Karena mereka yakin, kesempitan yang ada adalah awal dari kelapangan.

sedekah ketika sulit
Ilustrasi

Bagaimana dengan kita? Seperti opini saya dalam paragraph sebelumnya, tergantung dengan kualitas keimanan seseorang. Jika dampak kenaikan harga BBM yang menggelitik nalar kita mengkalkulasi kesempitan bersedekah, tak bisa diimbangi dengan kualitas keimanan akan melihat dampak itu sebagai hal berbahaya, dan mencoba menyelasaikan dengan nalar kita pula.

Tentu ini akan sulit, karena sengat kontras dengan anjuran Allah swt. Dengan demikian, satu-satunya cara agar kita bisa tidak merasakan kesempitan dari dampak apapun termasuk kenaikan harga BBM, untuk tetap bersedekah dll, adalah tidak memakai nalar mengolahnya. Janji Tuhan adalah pasti, kita hanya perlu persiapan tanpa nalar, yaitu iman.

Loading...