Al-Quran, Mushaf, dan Teks al-Quran, Itu Berbeda

Al-Quran, Mushaf, dan Teks al-Quran

Suatu ketika, Bunda Ela berkata “Beddu, ambilkan sai ka itu al-Quran.” Maka yang dimaksud adalah mushaf al-Quran. “Beddu baca sai ko dulu ini al-Quran.” Maka yang dibaca Beddu adalah teks al-Quran.

Apa perbedaan, al-Quran, Mushaf dan teks al-Quran. Mari kita bahas secara ringkas pada artikel sederhana ini.

Al-Quran difirmankan Allah swt dengan arti sesuatu yang tertulis, hal ini disebut dalam banyak ayat-ayat al-Quran.

Salah satu contoh dalam surah 52:1-3. Rasulullah saw dalam beberapa sabda terkait, tidak mengacu pada al-Quran dihapal dalam hati mereka, namun mengacu kepada pengertian al-Quran sebagai mushaf, atau apa yang tertulis.

Abu Bakar saat menulis bagian catatan ayat al-Quran kemudian menyatukannya dan menamakan sebagai satu mushaf.

Zayd (Zaid) sebagai salah satu penyusun al-Quran dalam satu kumpulan tulisan mengatakan “Aku bersumpah demi Allah, saya tidak bisa bertugas memindahkan gunung, itu tidak akan lebih berat daripada tugas menyusun al-Quran menjadi satu mushaf.”

“Jika sekiranya al-Quran diturunkan di atas sebuah puncak gunung, niscaya gunung itu akan hancur.” (QS. Al-Hasyr). Dengan ayat ini, jelas bahwa antara al-Quran dengan mushaf itu memiliki perbedaan.

Opini Terkait
1 daripada 304

Al-Quran, Mushaf dan Teks al-Quran, tiga term tersebut memiliki makna yang berbeda satu sama lain. Sehingga al-Quran tidak bolah disamakan dengan Mushaf al-Quran maupun text alQuran. Mushaf al-Quran adalah kumpulan teks-teks al-Quran tersebut.

al-Quran adalah kalamullah. Sedangkan teks al Quran yang tercatat dalam mushaf al-Quran adalah sabda Nabi saw namun bersumber dari wahyu Allah swt.

Jika Ali bin Abi Thalib as mendengar firman Allah dari lisan Nabi saw, maka yang di dengar oleh Ali adalah suara Nabi dan bukan suara Allah. Maka apa yang disampaikan oleh Nabi itu dengan lisannya adalah kalam Nabi. Dengan kata lain, kalam Allah disampaikan kepada umat oleh Nabi melalui kalam Nabi.

Kaligrafi al-Quran hiasan Mushaf

Jadi, orang yang merasa sudah membaca teks-teks al-Quran dalam mushaf al-Quran, jangan disamakan dengan orang yang telah membaca al-Quran. Untuk bahasa awam, membaca teks-teks itu boleh disebut membaca al-Quran. Tapi untuk kaum berilmu hendaknya memahami bahwa al-Quran itu hanya bisa dibaca oleh mereka yang telah disucikan.

“Sesungguhnya al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, (77) pada kitab yang terpelihara (78) tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. (79) (Q.S 56:79).”

Lalu al-Quran yang sebenarnya yang mana? Pertanyaan ambisius. Begini, terkadang untuk menunjukkan sesuatu bukanlah dengan cara memperlihatkan. “Mana cintamu padaku?” Maka yang kita lakukan hanyalah membuktikan cinta itu sendiri.

Bagaimana merasakan adanya al-Quran, harus dengan al-Quran, mushaf al-Quran dan teks al-Quran. Bacalah agar kamu merasakan al-Quran dalam dadamu!

Komentar
Loading...