Kenapa Bisa Percaya Kadang Tidak? Ini Enam Alasan Orang Percaya Sesuatu

Alasan Orang Percaya Sesuatu

Kenapa kadang kita percaya sesuatu kadang juga tidak? Pertanyaan ini adalah pertanyaan filosofis, tapi jika dipahami dengan baik, maka akan sangat membantu terutama bagaimana membuat orang bisa percaya dengan apa yang disampaikan.

Seorang penceramah berapi-api menyampaikan materi ceramahnya dengan segala kekuatan, metode, strategi komunikasi, toh orang kok sulit percaya. Sebaliknya, ada orang yang cara penyampaiannya biasa saja, intonasinya sederhana, suaranya bahkan sangat kecil, tapi apa yang disampaikan membuat orang percaya.

Dalam keadaan normal, ada orang gila berkata “Lihat aku yang gagah ini!” Orang tak akan percaya, bahkan membalas, “Dasar orang gila!”. Tiba-tiba malam harinya, orang gila itu berteriak, “Api!” orang banyak percaya dan mengamankan barangnya dari api. Mereka percaya dulu baru cek and ricek, benar atau tidak.

Seorang wanita yang dikhianati pacarnya, dia hampir bunuh diri, dia sudah tidak percaya bahkan tidak percaya semua laki-laki. Saban waktu, mereka saling mencintai lagi. Mantan berhasil membangun kepercayaan, berhasil membuat wanita itu percaya kepadanya lagi.

Saya menyampaikan kisah nyata karomah ulama, banyak yang percaya. Di lain waktu saya menyampaikan hal yang sama, banyak yang tidak percaya!

Sebab manusia percaya dan tidak percaya

Sebab orang percaya akan sesuatu, memang menjelma menjadi deretan teka-teki panjang. Apa sebab orang bisa percaya, dan apa sebab orang tidak percaya? Saya mencoba merumuskan hal itu, sebagai berikut:

Percaya karena itu kebenaran

Manusia akan percaya jika yang mereka temukan tidak sekedar benar, tapi memang itu adalah kebenaran. Namun, kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran sesuai yang diyakininya.

Misal, jika seorang muslim yakin bahwa kitab suci al-Quran adalah kebenaran, maka apapun yang didapati dari kitab suci al-Quran itu akan dipercayainya. Apapun! Bahkan meski hal itu tidak masuk akal.

Tapi itu tentu tidak berlaku bagi mereka yang tidak percaya. Misal penganut agama lain. Kemungkinan terbesarnya tidak percaya meski yang disampaikan kitab suci itu benar adanya.

Ini juga berarti bawah percaya itu muncul karena kepercayaan akan hal lain sebelumnya dan itu berhubungan. Akan kita bahas di poin empat.

Baca: perbedaan, percaya, yakin, dan iman

Percaya karena itu benar

Percaya bahwa itu benar berbeda dengan percaya karena itu kebenaran. Bedanya bahwa antara kebenaran terkait dengan keimanan. Sedangkan percaya karena itu benar terkait dengan empiri dan rasionalitas.

Kita percaya bahwa matahari terbit dari timur dan terbenam di barat adalah empiri, dan itu benar. Tapi kita juga percaya suatu saat matahari akan terbit dari barat dan terbenam di timur karena itu kebenaran yang terkait keimanan.

“Weh pintarnya anaknya yanu mbo, masa na hapal ini itu padahal umurnya masih 2 tahun.” Yang melihat secara empiri akan percaya. Tapi yang tidak, akan tidak percaya jika landasannya percaya karena itu benar.

“We, Yanu to empat istrinya serumah semua. Padahal wajahnya pas pasan.” Kata Beddu.

“Saya percaya karena sudah saya lihat dengan mata kepala sendiri.” Kata I Beddu

“Saya tidak percaya, nda pernah kulihat.” Kata I Beddu sebelumnya.

Percaya karena itu masuk akal (Rasional)

Orang akan percaya jika yang mereka temukan dan hadapi masuk akal. Percaya karena masuk akal adalah bentuk kepercayaan terbaik dalam interaksi sosial.

Opini Terkait
1 daripada 302

Percaya karena kebenaran butuh keimanan. Percaya karena itu benar butuh landasan empirikal; pernah melihat, pernah meraba, dst. Tapi ada banyak hal yang tidak bisa kita lihat, tidak bisa kita raba, dan tidak kita imani.

Lalu bagaimana bisa dipercaya? Saya melihat dengan cara sederhana. Rasional apa tidak? Andai tak ada kitab suci, bisakah kita percaya bahwa Tuhan itu ada? Bisa kalau kita percaya dengan landasan rasional.

Dalam contoh yang sama, seorang anak bisa menghapal ini itu padahal umurnya masih 2 tahun. Percaya? Saya bisa percaya kalau ruang masuk akal ada. Dan ternyata ada, misalnya dengan metode pendidikan sebelum lahir, dll.

Percaya karena percaya dengan orang yang mengatakan itu

Baginda Nabi saw bisa membuat sebagian penduduk Quraisy percaya dan beriman dengan apa yang beliau katakan, karena dia yang dipercaya.

Nabi saw dikenal jujur sejak kecil, dan orang tidak akan percaya jika ada yang mengatakan beliau bohong. Karena kejujuran itulah, apapun yang disampaikan Nabi saw, akan dipercaya.

Sebab manusia percaya karena percaya dengan hal berkaitan dengan itu, banyak diperankan ulama. Umat percaya apapun yang disampaikan seorang ulama, bukan karena itu empirik, tapi karena ulama itu dipercaya.

Masih banyak contoh lain. Kadang apa yang disarankan orang tua tidak masuk akal, tapi kita percaya karena kita percaya orang tua kita, akhirnya percaya dengan apapun yang disampaikan.

Para ahli marketing paling sering menggunakan teori ini. Dia jajakan dagangannya dan berkata, Gubernur juga pakai, karena dia tahu orang yang dia hadapi percaya sama Gubernur.

Kadang sulit karena bertentangan dengan akal, bertentangan dengan empiri manusia, tapi pilihan percaya menjadi harus.

Percaya karena tekanan

Percaya karena tekanan adalah bentuk sebab orang percaya sesuatu yang paling buruk dan tidak direkomendasikan. Ini banyak terjadi, sadar atau tidak sadar!

Ada orang yang memberi kita bantuan pada saat yang sulit, pada saat kita butuh, maka dengan mudah kita percaya orang itu. Kita tak sadar, kita tertekan dengan bantuan itu. Tekanan itulah yang membuat kita percaya.

Seorang pembantu rumah tangga dengan mudah percaya kepada tuannya, apapun yang disampaikan, kenapa karena tertekan, khawatir apa yang diterima dari tuannya, tidak diterima lagi.

Orang banyak menjatuhkan pilihan pada orang yang tidak tepat karena lalai dengan alasan percaya seperti ini. Kita pilih orang yang akhlaknya tidak bagus, kita mempercayainya, hanya karena serangan fajar misalnya.

Percaya tanpa sebab

Saya melihat ada juga alasan seseorang percaya sesuatu dan tidak diketahui sebabnya. Ada! Itu tidak benar, itu tidak empirik, itu tidak masuk akal, bukan juga tekanan. Entah sebabnya apa.

Banyak contoh. Seperti dalam kisah wanita pacaran, dikhianati dan hampir bunuh diri. Eh, tak tahunya balikan dan percaya lagi. Apa sebabnya? Entah!

***

Enam alasan seseorang percaya sesuatu tadi bisa dijadikan metode loh. Syaratnya satu, masih ada ruang orang itu untuk percaya. Cirinya adalah tidak mengatakan secara langsung kalau dia tidak percaya!

Misalnya, disampaikan kisah karomah salah satu ulama, dan ada yang berkata, “saya tidak percaya kamu”, maka tak perlu paksa diri, karena ruang percaya sudah ditutup. Dia akan bisa percaya hanya dengan tanpa sebab.

Wallahu A’lam

Komentar
Loading...