Analisa Sederhana Kasus Penembakan Bripka Sukardi

Penembakan Bripka Sukardi

Teror terhadap polisi marak dalam 2 bulan terakhir. Tak tanggung, 5 Anggota Polri menjadi korban. Pada akhir Juli 2013, Aipda Patah Saktiyono, meninggal setelah ditembak di Ciputat, Tangerang Selatan. Belum terungkap, 11 hari berselang, kejadian yang sama kembali terulang, kali ini Aiptu Dwiyana anggota Polsek Metro Cilandak ditembak dalam perjalanan pulang di Jalan Otista Raya, Ciputat. Masih di bulan Agustus, Aipda Kus Hendratmo, dan Bripka Maulana, anggota Polsek Metro Pondok Aren, pun tewas ditembak saat perjalanan untuk apel malam di Mapolsek.

Kemarin malam, kasus penembakan mistrius yang mengorbankan aparat kepolisian kembali terulang. Kejadiannya di depan kantor Komisi Pemberantasan Korupsi Jl Rasuna Said Jakarta Selatan. Kali ini korbannya seorang anggota Provost Mabes Polri, Bripka Sukardi. Korban meninggal di tempat kejadian. Berdasarkan informasi hasil olah TKP, pelaku menembak 3 kali ke arah korban dan diduga menggunakan pistol jenis Revolver.

Spekulasi berkembang setelah kejadian ini. Banyak pengamat dengan mudahnya menggiring seakan bahwa penembakan mistrius terhadap Polisi, dilakukan oleh orang atau tujuan yang sama. Seperti presenter tv swasta kemarin malam, hampir semua pertanyaan yang ditujukan terkesan meyakini bahwa pelakunya adalah teroris yang melaksanakan aksinya berdasarkan keyakinan dan ideologi tertentu. Padahal, olah TKP saja belum selesai.

Selain hasil olah TKP yang dirilis kepolisian dan dimuat di beberapa media, ada beberapa fakta unik dari kejadian penembakan tersebut. Dari fakta unik tersebut, dapat menjadi bahan analisa sederhana kasus penembakan Bripka Sukardi ini. Analisa tersebut, tentunya hanyalah opini penulis, karena yang berhak menentukan siapa pelaku, motif, dan tujuan adalah aparat kepolisian sebagai penyidik sebuah kasus.

Pertama; penembakan dengan korban Bripka Sukardi terjadi pada malam tanggal 11 September, persis hari ulang tahun tragedi WTC tahun 2001. Bisa jadi hanyalah sebuah kebetulan saja. Tapi, fakta tersebut akan mudah menggiring opini dan melahirkan kata “jangan jangan, mungkin” pelakunya adalah teroris, dan stigma teroris tersebut digiring kepada agama tertentu.

Opini Terkait
1 daripada 302

Kedua; penembakan dilakukan di tengah memanasnya penolakan Miss World yang dilakukan hampir semua organisasi Islam besar di Indonesia. Mungkin juga hal ini adalah sebuah kebetulan, tapi jika opini bahwa pelaku dilakukan oleh teroris dengan latar belakang Islam, maka kekuatan penolakan dipastikan menurun pasca kejadian penembakan.

Ketiga; dari TKP terlihat, bahwa korban bukanlah target random, dilakukan secara professional, tempat kejadian adalah jalur lambat dan ramai, bahkan diduga pistol (senjata) korban sempat diambil oleh pelaku. Unsur penembakan terencana terlihat jelas. Artinya, jika kejadian ini direncanakan, maka akan muncul seribu satu pertanyaan. Kenapa mesti Bripka Sukardi?, kenapa di depan KPK?, dll.

Jika mencoba sedikit melakukan analisa sederhana kasus penembakan Bripka Sukardi kemarin malam berdasarkan 3 fakta unik tersebut, maka bagi saya pelakunya adalah professional, dengan beking besar di baliknya. Himbauan menyerahkan diri oleh pihak kepolisian melalui media terkesan ganjil.

Penembakan Bripka SukardiSangat aneh rentetan penembakan yang mengorbakan aparat, bebarengan dengan himbauan. Selain itu, analisa saya melihat ada upaya besar menyudutkan kelompok tertentu (agamis) yang sudah terlanjur mudah dicap teroris oleh kelompok tertentu.

Namun apapun itu, yang paling penting dari kejadian ini, aparat kepolisian harus segera mencari pelaku. Jika pembunuh Nasaruddin dalam kasus mantan ketua KPK Antasari, bisa ditemukan dalam 2 hari, semoga untuk kasus ini durasinya lebih cepat lagi.

Hal ini penting, karena menyangkut kredibilitas aparat, dan rasa aman masyarakat. Dan bagi keluarga almarhum Bripka Sukardi, semoga diberikan ketabahan oleh yang Maha Kuasa menjalani cobaan ini.

 

Komentar
Loading...