Apa Itu Santri; Refleksi Hari Santri Nasional 2019

Apa itu santri

Dulu, saat wacana full day school digaungkan, seorang teman bertanya pendapat saya terkait hal itu, saya jawab, “Saya kawatir malah sekolah umum jadi kosong. Semua justeru akan memasukkan anak nya jadi santri. Kalau toh seharian peserta didik di sekolah, orang tua akan berpikir mending sekalian di masukan ke pesantren.” Seperti diketahui, bahwa full day school adalah konsep menjadikan sekolah umum sebagai rumah kedua. Peserta didik istirahat, makan di sekolah, dan pulangnya sore.

Saya punya beberapa senior. Boleh di kata mantan preman-lah. Bercerita kenakalan di depannya ibarat mengajar orang masak air. Tak ada manfaatnya, hanya jadi bahan tertawaan, karena hampir semua bentuk nakal sudah dilakukan di masa mudanya. Background nya sekolah umum dan bukan santri. Anaknya? Alhamdulillah semua di masukan ke pondok pesantren. Semua jadi santri.

Hikmahnya luar biasa. Dulu dia yang shalatnya hanya jumat, “terpaksa” rajin shalat, berjamaah pula. Tumben! Katanya dia malu sama anaknya yang sudah jadi santri. Apalagi, konon anaknya pernah tanya, “Pak, kenapa ki tidak shalat?” Duarrr….

“Ini kok sepertinya buah yang jatuh akan jauh dari pohonnya?” Tanya ku kepadanya nyinyir.

“Saya tahu yang saya lakukan dulu salah. Kesalahan itu jangan dilakukan oleh anakku. Biar saya saja. Semoga karena dia jadi santri bisa menjauhkan dia dari sifat pohonnya, bukan pohonnya.” Jawabnya apologis.

Lain bolu lain cakalang, lain dulu lain sekarang. Dulu pesantren jadi bahan cibiran. Menjadi santri jadi bahan olok-olok. Santri dianggap tidak memiliki masa depan. Santri dianggap tidak bisa jadi PNS, bahkan santri dianggap hanya sebagai calon imam, calon katte,1pembantu imam dikampung dapat fee hanya saat Barzanji, atau acara keagamaan lain, tak lebih dari itu.

Saya masih ingat saat menjadi santri dulu. Ejekan yang paling sering saya dengar adalah kalimat, “Anak pangaji ma kasi (saya cuma santri kasian).” Kalimat yang mengandung makna, santri tidak ada apa-apanya dan hanya kasihan yang bisa membuatnya bertahan. Kura kura begitu.

Entah karena dunia sudah tua, atau masyarakat sudah pandai melihat fakta, memasukkan anak ke pondok pesantren kini menjadi trend. Paling tidak, madrasah. Saya menemukan banyak sekolah dasar, jumlah siswanya sangat memprihatinkan. Kenapa? Semua masuk madrasah. Jadi santri!

Bahkan pernah di kampung yang bersebelahan dengan kampung saya diadakan pertemuan para tokoh masyarakat, yang dibahas bagaimana agar Sekolah Dasar yang ada di kampung itu tidak “mati” karena jumlah siswa sedikit, orang tua yang ada di kampung itu ramai-ramai memasukan anaknya ke pondok pesantren atau madrasah. Madrasah akhirnya diminta memberikan sebagian siswanya ke sekolah itu.

Sepertinya kesadaran ini dimulai saat Abd. Rahman Wahid alias Gusdur menjadi Presiden RI ke-4. Sebuah torehan sejarah yang luar biasa. Bukan karena anak keturunan pendiri NU ini berbeda secara fisik, tapi karena beliau adalah santri. Sehingga cara menjalankan birokrasi pun dengan cara santri.

Saat almarhum Gusdur ditanya, “kenapa tidak melakukan perlawanan saat digulingkan?” Beliau menjawab, “Saya ini santri, ulama melarang saya. Saatnya saya naik kelas dan lulus dari ujian jabatan Presiden.”

Kalimat Gusdur itu menarik dan mendorong pertanyaan, santri itu apa sih?

Opini Terkait
1 daripada 60

Sebenarnya menjelaskan santri itu seperti apa, akan sreg jika langsung sendiri jadi santri. Ibarat menjelaskan rasa makanan, pasti ada rasa yang tidak bisa diungkap dengan eja bahasa. Membahas santri pun demikian.

Pertama, Santri itu terbiasa hidup susah. Nasi segenggam, garam dibalur minyak goreng tanpa ikan, dan Bajabu2Bajabu adalah ampas kelapa yang kering dan digoreng dicampur dengan kunyit, garam, dan bawang merah adalah makanan biasa seorang santri saat di pondok. Mau anak orang kaya, miskin, semua sama. Karena ada pelajaran besar di sana. Santri dididik agar tidak menjadikan harta sebagai tujuan akhir.

“Hai santri! Bahagia itu bukan dari banyaknya harta, tapi rasa syukur.” Kira-kira seperti itu yang akan ditanamkan dalam diri seorang santri.

Kedua, santri itu taat dan patuh terhadap ulama. Di pesantren dididik seperti itu. Ulama adalah orang tua kedua, agar kelak saat santri sudah keluar dari pondok, orang tua yang melahirkannya menikmati itu pelajaran tunduk dan patuh itu.

Santri yang selamanya santri, juga akan selamanya menganggap ulama itu orang tuanya. Makanya jangan heran, sehebat apapun seorang santri, saat bertemu dengan ulama, kepalanya kayak diketok godam besar, mati kutu, bungkuk salaman, cium tangan. Itu santri beneran, mengharap berkah!

hari santri nasional 2019
Ilustrasi hari santri nasional 2019

Ketiga, santri itu punya tradisi khusus tersendiri. Tradisi terkait dengan kehidupannya di tengah masyarakat. Baik itu pakaian, cara bicara, cara makan, bahkan cara menyukai lawan jenis.

Seorang santri yang memakai peci hitam berjalan bersama dengan non santri yang juga memakai peci hitam, seorang santri memakai sarung ke mall dengan seorang non santri melakukan hal yang sama, atau seorang santri pedekate dengan lawan jenis dengan non santri pedekate. Sama? Tidak!

Santri punya rasa tersendiri, karena sejak tinggal di pondok pesantren terbangun tradisi santri yang berbeda dengan tradisi non santri. Itulah sebabnya, dai yang pernah nyantri dengan dai yang bermodal stand up comedy, rasanya beda. Dai yang tidak pernah nyantri, mungkin rasanya enak dan punya jemaah banyak karena bisa melucu, tapi gizi ada pada yang pernah nyantri. Yang menyehatkan itu gizi bukan rasa!

Santri ada yang nakal, iya! Oknum santri… tapi ingat, karena santri punya rasa yang khas, maka nakalnya santri itu beda dengan nakal-nakal yang lain. Benar? Iya! Santri itu kalau nakal, tobatnya cepat, minta ampunnya pintar. Kan sudah dipelajari saat di pondok. Dan satu lagi, azabnya lebih besar di hari kemudian heheheh

Keempat, santri itu orangnya tenang. 10, 20, 30 tahun ditempa di pondok pesantren, ibarat air yang sudah dalam. air yang dalam itu tidak be-riak. santri itu tenang, tidak grasak grusuk, tenang. Biarkan saja, mereka ramai, toh akhirnya akan kembali ke pangkuan santri. Biarkan saja ramai cebong dan kampret, toh yang terpilih jadi wakil Presiden adalah seorang yang pernah jadi santri.

Selamat Hari Santri Nasional 2019

Loading...