Bahaya dan Dampak Sosial Corona serta Matinya Nalar Kita

Dampak Sosial Corona

Tiba-tiba, tak disangka, tak diduga, virus Corona yang awalnya menyebar di Wuhan, China, kini menyerang seluruh dunia. Tak peduli negara maju, Amerika, Israel, Jepang, Rusia, apalagi negara berkembang seperti Indonesia.

Corona tidak memandang dia siapa. Menteri, Bupati, Walikota, bahkan perdana Menteri terpapar virus aneh ini. 

Pun, Corona virus Covid 19 menyerang tak pandang agama. Umrah dibatalkan, ijtima dilarang, jumatan jangan dulu, Misa, Kebaktian, bahkan ritual menyembah Matahari di Jepang sana juga dihentikan.

Semua virus pasti berbahaya dan tidak kita inginkan, kecuali satu, virus virus cinta, ngeeekkk… virus Corona luar biasa bahayanya apalagi. Namun, bahaya antara virus lain dibanding Corona, bagi saya hanya satu, model penularannya. Sisanya adalah bahaya dampak yang merupakan akibat dari akibat dan bahaya yang kita ciptakan sendiri.

Demam berdarah berbahaya, tapi virus Dengue yang menjadi biangnya berasal dari nyamuk. Berantas nyamuknya, dan nyamuk nyata, selesai!

Aids berbahaya, tapi model penularannya melalu hubungan nganu, jarum suntik, dan hubungan darah dari ibu ke anaknya. Hentikan semua itu, selesai, aman!

Flu burung, flu Babi, sama! Apatah lagi sekedar virus Trojan yang akhir-akhir ini tak muncul sejak Windows 10 dirilis.

Tapi Corona? Beddu dari Wuhan, tak sengaja menekan tombol lift yang di permukaannya ada virus ini. Dia lalu ngucek matanya, virus masuk, Beddu terpapar. Beddu sempat salaman dengan Beddummussu, Beddummussu batuk depan 5 orang A, B dst

Penularan virus yang super cepat seperti contoh sederhana tadi didukung oleh penularan melalui media social. Sehingga tak salah jika dikatakan Corona bisa menyebar melalui Facebook, WA, Twitter, dll. Maksudnya informasinya, dan informasi itu memiliki dampak tersendiri.

Dampak sosial Corona Covid 19 dan matinya nalar kita

Riuh Corona dengan nama keren Covid 19 di jagat komunikasi media sosial, melahirkan dampak sosial baru yang entah sampai kapan dampak itu akan hilang.

Pertama, Virus Corona membalikan keadaan 180 derajat

Kemaren orang suka kumpul kumpul, di warkop, di penyingkul, meski sekedar ngumpul tapi tetap ngutak atik hp, tapi sekarang semua takut melakukan itu.

Dulu, ada slogan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Sekarang bercerai lebih bagus. Stop bersama sama dulu!

“Laki laki apaan ini, tidur melulu. Sana bantu bantu”. Karena dulu tidur dianggap tidak membantu. Sekarang, dengan adanya Corona, kita bisa membantu meringankan kerja paramedis dengan tidur. Tidur dan diam lah di rumah!

Opini Terkait
1 daripada 302

Masih hangat, orang banyak curiga dengan muslimah bercadar. Tak boleh bercadar ke kantor, bercadar kamu akan dicurigai. Bercadar akan mudah dianggap radikal. Tapi sekarang, Corona memaksa orang bercadar dengan masker!

Semua terbalik 180 derajat, dan semoga Corona tidak bisa membalikan arah terbit terbenamnya matahari.

Kedua, virus Corona di dramatisir seolah olah itu aib

Saya berani bertaruh kalau data jumlah ODP, PDP, suspect, terinfeksi, tidak akurat. Ada segelintir yang tidak terdeteksi, yaitu mereka yang enggan memeriksakan diri karena takut. Takut corona? Bukan! Takut karena masyarakat menganggap itu aib.

Social distance membentuk watak saling mencurigai antara satu dengan yang lain. Yang terpapar dianggap tidak bisa sembuh, dan tidak normal lagi. Please, hentikan hal ini!

Curiga boleh, kawatir boleh, tapi bisa tidak yang realistis saja? Saya pernah batuk di sebuah bank. Semua melihat saya, kompak dengan tatapan seakan saya hantu. What? Seburuk itukah? Ini cuma batuk dan batuk lebih senior dibanding Corona. Pliss eperibadi…

Corona menimbulkan korban, tapi tidak sedikit yang sembuh. Corona adalah penyakit, tapi jangan anggap itu aib karena semua berpotensi terpapar. Dan satu hal, semua penyakit ada obatnya!

Ketiga, Corona mematikan nalar kita sebagai manusia berakal

Saya tidak akan berbicara tentang penduduk sekampung Sanjay Duth dan Tuan Takur, dimana mereka dengan gagahnya meminum kencing sapi dan melahap kotorannya sebagai bentuk matinya nalar menghadapi Corona. Itu terlalu jauh!

Semalam jagat media sosial ramai dengan video editan tahun 2017 yang menggambarkan seorang bayi yang baru lahir dan bisa bicara. Suara yang terdengar di video itu diterjemahkan sebagai petunjuk “hadapi Corona dengan memakan telur rebus”.

Ditemukan ratusan akun Facebook menceritakan pengalaman mereka dibangunkan tengah malam untuk mencari telur, merebus, lalu memakannya sebagai obat menghadapi Corona.

Tak bisakah kita berpikir, itu video kapan, siapa yang buat, siapa yang publish, benarkah isinya, benarkah petunjuknya? Kenapa nalar kita mati hanya karena Corona? Kenapa kita Buntu Kullu?

Ada yang mencoba membela diri, “kan sekedar telur, tak mahal, tak susah. Kalau toh hoax, nggak rugi ja”. Betul! Tapi nalar Anda mati Ferguso!

Bukankah Corona dalam bahasa agama adalah ujian? Ujian butuh nalar, butuh ketenangan, butuh analisa. Pliss analisa setiap apa yang terkait Corona jangan matikan nalar Anda!

Terakhir saya ingin bertanya silahkan jawab dalam hati. “Apakah Anda percaya ikhtiar?” Kalau Anda percaya, ikhtiar tak akan bisa dilakukan dengan mati nya akal!

Komentar
Loading...