“Bajingan”; Kritik atas Cara Bicara Ahok

0 8

Ahok, mantan bupati Bangka Tengah, akhir-akhir ini menjadi kian terkenal pasca kasus pelajar SMA 46 Jakarta. Awal ketenaran WNI keturunan China ini, yaitu berhasil memecah rekor menjadi Wakil Gubernur berpasangan dengan Jokowi yang bukan berasal dari WNI murni. Kolaborasi serasi, adem ala Jokowi dan ganas ala Ahok dinilai banyak kalangan sebagai pasangan serasi merubah Jakarta menjadi lebih baik.

Celoteh saya ini pastinya beda dengan para pendukung dan pecinta Ahok, yang menganggap segala tingkah, dan cara bicaranya adalah bentuk ketegasan yang laik. Diakui Wagub disiplin ini memang memiliki ide cemerlang, mulai dari cara berdemokrasi sampai terobosan kinerja KPU, yang banyak dirilis fansnya di Youtube. Tapi bagaiamana dengan cara bicara Ahok?. Ini yang menjadi masalah bagi saya.

Masih teringat, ketika dengan enjoy menimpali ajakan Mendagri, Gamawan Fauzi untuk bekerja sama dengan semua ormas termasuk FPI, dengan kalimat “yang bener aja!.” Salah?. Secara hukum tentu tidak, tapi secara etika tidak laik. Tentu bukan tanpa kritik, banyak tulisan mengkritik cara bicara Ahok, namun gayung tak bersambut. 36 pelajar dikeluarkan dari sekolah untuk mengenyam pendidikan di sekolah lain disetujui sang Wakil Gubernur, plus dengan kata “bajingan.”

Ilustrasi sumber: tempo.co
Ilustrasi sumber: tempo.co

Sebenarnya kata bajingan memiliki dua makna jika dilihat dari sisi asal mula kata ini. Pertama, bajingan adalah kata yang berarti pengemudi grobak sapi. Gerobak sapi sebagai kendaraan jaman dahulu di beberapa daerah di daerah Jawa. Keterlambatan kedatangan gerobak sapi kemudian menggeser makna bajingan sebagai pengemudi gerobak sapi yang lelet. Kedua, bajingan berasal dari nama hewan, Bajing. Bajing adalh hewan yang ketika berjalan atau berlari tidak melihat kiri dan kanan, lurus dan susah membalikan badan. Dari pengertian inilah, orang yang tidak melihat lingkungan sekitarnya, membabi buta, tanpa perhitungan, nekat, disebut dengan bajingan.

Melihat dua makna bajingan tersebut, sepertinya Ahok memakai kata bajingan yang kedua. Ahok menilai perbuatan menjarah bus oleh sebagian siswa SMA 46 Jakarta, adalah cikal bakal bajingan. Uniknya, para fans Ahok justru mendukung ucapan ini tanpa melihat kalau ucapan dari seorang public figure adalah contoh bagi warganya. Ucapan yang buruk akan dengan mudah ditiru oleh pelajar. Ucapan itu menjadi cermin, dengan kata lain kalau perilaku sebagian pelajar SMA 46 adalah cikal bakal bajingan, maka cara bicara Ahok sebagai cermin adalah cikal bakal sebelumnya.

Kita harus cermat, bahwa kata bajingan sebagai konten bisa multi tafsir, tapi mengucapkan kata bajingan adalah perilaku. Tanpa melihat kiri dan kanan gaya berbicara lurus, spontan dan nekat, seperti cara berjalan bajing yang susah memutar, adalah perilaku “bajingan.” Dengan demikian bajingan ada dua, bajingan dengan perilaku, dan bajingan dengan ucapan (yang sebenarnya juga perilaku). Dan keduanya sama-sama buruk.

Wajar bagi saya, kalau Prabowo kemudian mengkritik cara bicara Ahok. Posisi ahok yang bukan WNI asli di tengah resistensi ke-bhineka-an, tentu akan mudah dijadikan bumbu pendek yang mudah tersulut. Jika dibiasakan bukan tak mungkin, gaya komunikasi seperti ini enteng saja menyentil masalah agama, dan hal ini tentunya sangat berbahaya. Ala bisa karena biasa. Berbicara seperti bajingan tidak apa-apa asal maknanya seperti pengemudi gerobak sapi yang telat.

Komentar
Loading...