Beberapa Pengertian Puasa menurut Ulama

0 13

Memasuki bulan suci Ramadhan, tulisan saya akan difokuskan kepada hal seputar puasa. Kita mencoba memahami makna puasa dari berbagai sumber. Mulai dari pengertian, hukum, perbandingan, hikmah, dan polemik sekaitan dengan puasa. Insya Allah saya mulai dari pengertian puasa.

Kata puasa diadopsi dari bahasa Arab yaitu kata Shiyam. Kata ini disebut dalam al-Quran sebanyak 13 kali. 112 dalam pengertian hukum syariat, dan sekali yang berarti menahan diri untuk tidak berbicara. Kata Shaum untuk arti kedua terdapat dalam firman Allah swt ketika berkisah tentang Maryam:

Sesungguhnya Aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini. (QS. Maryam 19: 26).

Ucapan Maryam itu diajarkan Malaikat Jibril ketika seorang menanyakan kelahiran anaknya (Isa, as). Kata Shaum juga terdapat sekali dalam bentuk perintah berpuasa di bulan Ramadhan, sekali dalam bentuk kata kerja yang menyatakan bahwa berpuasa adalah baik untuk kamu, dan sekali menunjuk kepada pelaku pria dan wanita yang berpuasa yaitu al-Shaimina wa al-Shaimat.

Aneka bentuk kata yang berarti puasa dalam al-Quran, kesemuanya terambil dari akar kata yang sama yakni sa-wa-ma yang dari segi bahasa maknanya berkisar pada menahan dan berhenti atau tidak bergerak dari sesuatu.

Sedang menurut istilah para ahli fikih, puasa adalah menahan diri dari sesuatu yang membatalkan puasa selama satu hari penuh mulai dari terbitnya fajar sodiq sampai terbenamnya matahari dengan suatu persyaratan. (Baca: jenis puasa menurut ulama)

Dengan kata lain adalah menahan diri dari perbuatan serta menahan diri dari segala sesuatu agar tidak masuk perut seperti obat atau sejenisnya. Hal ini dilakukan pada waktu yang telah ditentukan yaitu semenjak terbitnya fajar kedua (fajar sadiq) sampai matahari terbenam, oleh orang tertentu yang berhak melakukannya yaitu orang Islam (muslim, berakal, tidak sedang haid dan tidak sedang haid).

Puasa harus dilakukan dengan niat yakni bertekad dalam hati untuk mewujudkan perbuatan itu secara pasti, tidak ragu-ragu. Tujuan niat adalah membedakan antara perbuatan ibadah dan perbuatan yang telah menjadi kebiasaan.

Beberapa Pengertian Puasa menurut Ulama

Mohammad Asad menyatakan bahwa puasa adalah “the obstinence of speech” memaksa diri untuk tidak bercakap-cakap. Perkataan yang negatif, berbahaya dan merugikan seperti memfitnah, berbohong, caci maki, berkata-kata porno, mengadu domba dan sebagainya.

Puasa dapat mendidik rasa sabar, tabah, disiplin, berjiwa moral tinggi, semangat sosial yang kuat. Sehingga membentuk kesadaran hidup manusia ketempat yang lebih tinggi, dan mampu menerobos ke alam kehidupan rohani manusia yang berahlak mulia, sekaligus mampu menciptakan kesehatan rohani yang lebih mulia.

Hasbi Ash Shiddieqy dalam buku Pedoman Puasa menyatakan bahwa puasa bisa menjadikan orang mampu membiasakan diri untuk dapat bersifat dengan salah satu sifat Allah. Sifat, tidak makan dan minum meskipun hanya untuk sementara waktu, sekaligus dapat menyerupakan diri dengan orang-orang yang muraqabah. Orang yang telah mampu menahan diri dari menuruti keinginan syahwat keduniaan.

Yusuf al-Qardawi menyatakan, puasa sebagai sarana pensucian jiwa dan raga dari segala hal yang memberatkan dalam kehidupan dunia sekaligus bentuk manifestasi rasa ketaatan seseorang dalam melaksanakan perintah Allah swt, dalam hal meninggalkan segala larangan untuk melatih jiwa dalam rangka menyempurnakan ibadah kepada-Nya.

Di pihak lain Syeikh Mansur Ali Nashif menyatakan, bahwa puasa dapat menjadi benteng dan pemelihara dari perbuatan-perbuatan maksiat. Dikatakan demikian karena puasa dapat menghancurkan nafsu syahwat, bahkan dapat memelihara diri pelakunya dari api neraka. Disebabkan mengingat hakikat puasa yaitu menahan dari berbagai macam nafsu, sedangkan neraka memang penuh diliputi oleh nafsu-nafsu itu. Hal itu seperti dalam sabda nabi yang berbunyi: “Puasa adalah perisai seseorang untuk membentengi dirinya.”

Komentar
Loading...