Belajar dari Model Pembelajaran Nabi Khidir as

  • Bagikan
Ilustrasi pertemuan Nabi Khidir dengan Musa as
Ilustrasi pertemuan Nabi Khidir dengan Musa as. Sumber: bacaanmadani.com

Kisah-kisah terdahulu, seperti kisah para Nabi, selayaknya dijadikan pelajaran. Pelajaran yang diambil dari kisah itu bisa dijadikan suatu teori baru dalam segala hal termasuk pembelajaran antara guru dan peserta didik. Contohnya model pembelajaran yang diambil dari kisah Nabi Khidir as.

Suatu hal menggelitik, ketika puluhan model pembelajaran telah diserap dari negara lain masuk ke dalam kurikulum pendidikan kita, namun tak mampu membawa dampak signifikan ke arah tujuan pendidikan, terutama prestasi belajar afektif dan psikomotorik. Faktor yang paling sering dilupakan, bukan pada tataran praksis, namun lebih sering pada tatanan nilai

Al-Quran sebagai kita suci umat Islam, sekaligus pegangan dalam setiap perilaku keseharian, tak luput memberikan perhatian terhadap relasi guru dan peserta didik. Komunikasi yang jelas antara guru (pengajar) dengan siswa (peserta didik) sehingga terpadunya dua kegiatan, yakni kegiatan mengajar dan kegiatan belajar yang berdaya guna dalam mencapai tujuan pengajaran.

Perhatikan surah al-Kahfi ayat 66:

“Musa berkata pada Khidir: Apakah aku boleh mengikutimu supaya engkau mengajarkan aku dari apa yang telah diajarkan Allah swt kepadamu.”

Musthafa al-Maraghi menafsirkan ayat ini dan menegaskan adanya relasi persahabatan antara guru dan anak didik. Di ayat ini guru berperan sebagai teman setia yang melayani kebutuhan peserta didik akan ilmu. Demikian pula peserta didik dengan penuh setia menerima pelajaran dari gurunya.

Berdasarkan hal ini maka seorang guru diharapkan bisa menerapkan konsep persahabatan dalam hubungannya dengan murid. Akan tetapi persahabatan disini tentu saja tetap mendasarkan pada etika. Karena posisi guru tetaplah sebagai guru yang memiliki kedudukan tak sama dengan murid, demikian pula posisi murid tetaplah sebagai murid. Sehingga masing-masing hendaknya memperhatikan posisinya.

Relasi antara guru dan peserta didik, bukanlah relasi tanpa batas. Perhatikan ayat 70 surah al-Kahfi:

“Dia berkata, “jika kamu mengikutiku janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”

Dalam ayat ini, Khidir memberi syarat pada Musa agar ia tidak bertanya dulu sebelum Khidir menjelaskan semua yang akan ditunjukkan kepada Musa as. Hal ini menunjukkan bahwa seorang guru memiliki hak untuk dipatuhi perintahnya. Karena perintah yang berhubungan dengan proses belajar mengajar, sesungguhnya bertujuan untuk melancarkan proses belajar mengajar itu sendiri. Sehingga hendaknya peserta didik mentaati perintah gurunya.

Konteks ayat ini menjelaskan bahwa ketaatan peserta didik sangat penting. Hal ini seperti ditunjukkan oleh Khidir, dimana ketika Musa as melanggar perintahnya, Khidir tidak serta merta men-drop out Musa dari pencarian ilmunya. Khidir cukup memahami Musa yang kritis dan mengerti keinginan Musa. Sehingga Khidir tetap membolehkan Musa mengikutinya, sampai batas toleransi pelanggaran ketiga kalinya.

Ilustrasi pertemuan Nabi Khidir dengan Musa as
Ilustrasi pertemuan Nabi Khidir dengan Musa as. Sumber: bacaanmadani.com

Kejadian demi kejadian, seakan sulit diterima nalar Musa as. Protes dan kritik, tidak ditanggapi lisan, melainkan pola menunggu lebih dominan yang meliputi; membocorkan perahu, membunuh seorang anak, dan membetulkan rumah yang hampir roboh.

Interaksi yang semacam ini dalam pendidikan mengacu pada model perpaduan antara komunikasi sebagai aksi dan komunikasi sebagai interaksi. Model ini sampai sekarang masih sering diterapkan dan terbukti efektif. Interaksi ini lazim disebut interaksi belajar-mengajar. Namun dari sisi nilai berbeda. Perbedaan utamanya, terdapat pada kemampuan guru.

Pola menjawab dengan model menunggu, mungkin tak kita temukan dalam model pembelajaran tenar hari ini. Membuat menunggu, bukan berarti ber-apologi karena tak tahu. Nilai pendidikan ruhani berjalan seiring dengan pendidikan jasmani, dengan pola kesabaran.

Pelajaran dari kisah Nabi Khidir tentu bisa dijadikan model pembelajaran, paling tidak sebagai contoh bagaimana seorang siswa dan guru dalam bersikap.

Semoga bermanfaat!

  • Bagikan