Belajar Memberantas Korupsi dari Kisah Nabi Syuaib as

0 13

“Sesungguhnya dari kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang yang berpikir”. Demikian firman Allah swt di akhir surah Yusuf (baca: belajar dari kisah nabi Yusuf). “Jangan sekali-kali lupakan sejarah”. Kata bung Karno. Sejarah pasti berulang. Kisah masa lalu yang tercatat dalam narasi sejarah, pun berulang dengan variasi berkembang. Seperti halnya penyakit kronis korupsi yang melanda bangsa kita ternyata sudah terjadi di Negeri Madyan (nama lain dari Aykah), tempat dimana Nabi Syu’aib berdakwah.

Dalam peta, kota Madyan terletak di Yordania sekarang. Di kota inilah Nabi Musa as bertemu dengan seorang wanita yang kemudian menjadi istrinya. Wanita itu bernama Shafura, sekaligus anak dari Syuaib as. Kaum Madyan adalah penduduk keturuna Ibrahim dari istrinya Qanthura. Dari pasangan ini lahir enam anak, dan salah satunya adalah Madian (Madyan). Keturunan Madian inilah hidup di sebelah barat laut Hijaz dan sebelah timur laut Aqaba, dan disebut dengan Madyan.

Kaum Madyan hidup dalam kemaksiatan hasil dari kebiasaan. Terbiasa membajak, mencuri melebihkan mengurangi takaran atau timbangan, mengambil hak orang lain, dan itu sudah menjadi hal biasa. Mudah bagi mereka memberikan pembenaran atas tingkah itu, persis sama dengan kehidupan sosial sekarang. Dalam hal ibadah, kaum Madyan menyembah pohon lebat yang disebut Aikah. Itulah sebabnya, dalam al-Quran, kaum Madyan juga disebut dengan Aykah.

Perilaku kaum Madyan yang suka melebihkan dan mengurangi timbangan motifnya sama dengan perbuatan korupsi hari ini. Semangatnya sama. Dari segi wujud ditemukan kesamaan pada definisi korupsi sebagai upaya memperkaya diri dengan cara yang tidak benar. Tujuan melebihkan dan mengurangi takaran seperti yang dilakukan kaum Madyan tujuannya juga untuk memperkaya diri. Siapa yang memiliki timbangan sebagai alat, dialah yang memiliki peluang untuk melebihkan. Siapa yang memiliki kekuasaan di jaman sekarang, dialah yang berpeluang untuk melakukan tindak pidana korupsi. Inilah titik temu kesamaan perilaku kaum Madyan dari kisah Nabi Syuaib as dengan para koruptor hari ini.

Takaran dan timbangan bisa mengacu pada siapa yang menakar, dan untuk siapa takaran itu. Orang kuat, hebat, orang besar yang menakar barangnya, tidak akan dikurangi. Hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Korupsi hari ini juga demikian, buah dari perilaku seorang koruptor kemudian diolah dengan motivasi memperkaya diri sendiri. Mungkin inilah yang dikatakan Adam Smith (1723-1790) “setiap individu secara terus-menerus senantiasa mencari pekerjaan yang paling menguntungkan dirinya.”

Kecurangan yang sudah menjadi kebiasaan dan telah menjadi kebiasaan sosial itulah kemudian menjadi target dakwah Nabi Syuaib as. Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan baik (makmur). Dan sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang membinasakan (kiamat).” (QS. Hud: 84). Inilah pesan wahyu yang dibawa Syuaib kepada kaumnya, Madyan.

Jika melihat dari cara dan apa yang disampaikan Nabi Syuaib as, tersirat bahwa apa yang dilakukan oleh kaumnya bermuara pada ketimpangan tauhid. Nabi Syuaib as terlebih dahulu memerintahkan untuk menyembah Allah dengan baik, setelah itu melarang melebihkan dan mengurangi timbangan. Korupsi dengan melebihkan dan mengurangi takaran, tidak bisa diselesaikan dengan menyalahkan sistem, tapi membentuk sistem yang menekankan pada kekuatan tauhid.

Perjuangan Nabi Syuaib as bukan perjuangan yang mudah. Kaum Madyan yang beriman hanya sedikit saja, sedangkan sebagian besar mereka kafir. Meskipun begitu, Nabi Syuaib as tidak berputus asa terhadap penolakan mereka, bahkan tetap sabar mendakwahi mereka dan mengingatkan mereka nikmat-nikmat Allah yang tidak terhingga. Akan tetapi kaumnya tetap tidak menerima nasihat dan dakwahnya, bahkan mereka berkata kepada Nabi Syuaib as sambil mengolok-olok, “Wahai Syuaib! Apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.” (QS. Huud: 87)

Apa yang diinginkan masyarakat hari ini untuk menghilangkan korupsi juga bukan perbuatan mudah. Segala upaya dilakukan oleh pemilik timbangan (kekuasaan). Adakah yang membantah, berjuang seperti bantahan Nabi Syuaib as “Wahai kaumku! Bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Huud: 88).

Dibutuhkan sosok yang tegas, berani, dan kuat. Dalam sejarah Nabi Syuaib as, kaum Madyan bahkan mengancam akan menghukum Beliau, mereka berkata, “Wahai Syu’aib! Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidak karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang kuat di sisi kami.” (QS. Huud: 91). Pun dibutuhkan seorang yang memiliki pegangan yang kuat tanpa peduli dengan kroni maupun kekuatan keluarga, tapi semata-mata dengan tauhid. “Wahai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan di belakang (tidak dipedulikan)? Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud: 91)

Cukuplah musibah yang menimpa negeri para koruptor sebagai teguran. Bisa jadi seperti bunga api yang membakar dan api yang bergejolak sehingga membakar kaum Madyan semua. Waktu itu bumi berguncang dan mereka ditimpa suara yang mengguntur yang mencabut nyawa mereka sehingga mereka menjadi jasad-jasad yang mati bergelimpangan. “Mereka mendustakannya (Syu’aib), maka mereka ditimpa gempa yang dahsyat, lalu jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka.” (QS. Al Ankabut: 37)

Begitulah akhir kisah tragis penduduk pelaku korupsi sebagai kebiasaan meng-enak-kan. Perdagangan yang tidak dilandaskan pada asas kejujuran dan keadilan telah membuat orang-orang terjerumus ke lembah hitam azab Allah swt. Dan semoga bangsa Indonesia bisa belajar dari kisah Nabi Syuaib terhadap kaumnya yang seperti para koruptor hari ini.

Komentar
Loading...