Belajar Menghormati Orang Tua dari Pengalaman

Satu kenangan masa kecilku yang tak terlupakan; ketika pulang sekolah siang itu, saya dan teman-teman singgah di pasar kampung yang juga hampir bubar. Jejeran penjual buah Langsat menggugah dan membuat kami ngiler. Kami mendekat dan pura-pura ingin membeli.

Sebelum membeli kami coba dulu, satu dua, kemudian pindah ke penjual buah langsat yang lain. Saat sampai pada jejeran terakhir, penjualnya orang tua dan sudah renta.

“berapa harga seliter?” kataku.

“2.000 rupiah.” Jawab orang tua itu.

Saya mencoba satu biji. Tak puas saya ambil lagi beberapa biji. Orang tua itu marah, dan memukul tanganku dengan literan langsatnya.

Kejadian itu ternyata disaksikan oleh tetanggaku, dan memberitahukan orang tuaku. Keduanya marah besar. Saya dipukul…

Opini Terkait
1 daripada 304

“Belajarlah menghargai orang tua. Coba bayangkan usahanya mencari nafkah, lantas kamu dengan mudah mengambil dengan berbohong membeli.”

Kata orang tuaku sembari mengibaskan sabuk hitam dari kulit ke kakiku. Sejak saat itu, saya tak lagi berani melakukan hal yang sama. Bahkan pesan agar menghargai orang tua selalu terngiang di telingaku.

Dalam perjalanan ke Ternate minggu kemaren, dari ruang tunggu menuju pesawat, seperti biasa bis yang ditumpangi selalu penuh dengan penumpang. Banyak yang berdiri. Meski perjalanan tidak jauh, saya mencari tempat duduk yang kosong namun tak ada. Di samping tempat saya berdiri seorang nenek bersama cucunya dengan susah memegang gagang gantungan penumpang, tak ada jalan lain karena di sebelahnya semua kursi memang sudah penuh.

Dengan memberanikan diri saya meminta kepada salah seorang penumpang berdiri bersama saya tukaran dengan nenek tadi. “terima kasih nak,” kata nenek itu sebelum turun.

Kemarin antrian panjang di sebuah bank, seorang wanita renta turut antri dalam panasnya ruangan tanpa AC. Seorang remaja berpakaian dinas tampak cuek saja melihatnya orang tua renta itu berdiri di sela antrian tempat duduk. Sambil mendengarkan musik dari headset gadgetnya, kakinya menumpu di atas tungkai kaki yang satu. Sesekali mengusap gadget hitamnya, khawatir barang itu lecet. Tak ada rasa kasihan untuk sekedar bertukar tempat dengan orang tua di sampingnya yang berdiri.

Memang, proses hormat menghormati apalagi menghormati orang tua harus dimulai dari kebiasaan. Mudah untuk diucapkan namun sangat sulit untuk diucapkan. Secara spontan dan tanpa sadar, kita seakan lebih mudah menghargai benda-benda mati. Kita kadang mengabaikan menghormati orang lain khususnya orang tua.

Komentar
Loading...