Berhasilkah Mereka Mendesak allah?

Orasi berapi-api politisi partai Golkar asal Sulsel Ali Mochtar Ngabalin saat halal bi halal di Rumah markas pasangan Capres-Cawapres 2014 nomor urut satu, sontak menuai kontroversi. “Kita mendesak Allah swt berpihak kepada kebenaran, berpihak kepada Prabowo-Hatta. Setuju?” Kata laki brewok dengan khas sorban penutup kepala itu. Kalimat itu sontak disambut dengan kata “setuju”, dari puluhan orang yang hadir.

Awalnya, pribadi melihat hal itu hanya kalimat salah “ucat” belaka, dari seringnya tokoh salah ucap di Negara ini (baca: Pak Quraish salah “ucat”). Saat masih panas-panasnya demo dulu, saya kerap orasi, baik berupa kegiatan demonstrasi atau hanya sekedar manuver. Dalam rekaman (yang saya rekam sendiri), banyak kalimat yang saya sendiri sulit pertanggungjawabkan. Itulah orasi, banyak hal yang mempengaruhi lebih dari sekedar makna kalimat. Semangat, suasana bergemuruh, kondisi, maupun sugesti dari yang hadir berpotensi membuat orator salah ucap.

“Jangan biarkan perut-perut pejabat itu semakin bahenol”. Padahal maksud saya semakin gendut karena korupsi. “Kita kerap terlupakan akan tanggungjawab kita sebagai mahasiswa”. Padahal maksudnya “kita kerap melupakan tanggungjawab kita sebagai mahasiswa”. Yang terpenting dari sebuah orasi adalah substansi yang disampaikan. Dan dalam konteks orasi Ngabalin, tiada lain bermaksud membakar semangat simpatisan Prabowo-Hatta agar tidak surut memasuki tahap gugatan di MK dengan membawa nama Allah.

youtube.com/aIoO-jFz6Gg

Mencoba bijak melihat, ternyata tidak bersambut dari orator sendiri. “Tidak ada yang salah dengan pernyataan itu. Saya percaya kalau mendesak Allah Ta’ala berpihak kepada kebenaran, keadilan dan kepastian hukum dalam hal ini kepada Prabowo Subianto itu sah-sah saja dan saya tentu bisa pertanggungjawabkan,” kata Ngabalin kepada detikcom, Kamis (7/8/2014).

Tidak merasa salah dengan kalimat “mendesak Allah” dengan apologi doa agar Allah menurunkan bala tentaranya untuk mendukung kebenaran, menghilangkan simpati saya terhadap orang ini. Ada beberapa hal muncul di benak saya.

Opini Terkait
1 daripada 302

Pertama; kata “mendesak Allah” seringkali seringkali diucapkan Pendeta Kristen aliran Kharismatik dalam memotivasi jemaatnya saat ingin berdoa meminta sesuatu kepada Tuhan. Mungkinkah anggota tim pemenangan Prabowo ini berkeyakinan sama, atau setidaknya meniru hal itu? Bisa jadi, karena rangkaian kalimat sebelum kata mendesak allah itu adalah pembahasan doa. “Berpuasa dan hidup menurut kehendak Allah adalah prinsip doa sehingga Tuhan mau mengabulkan doa kita”.

Kedua; “mendesak allah” adalah sarkasme berlebihan yang objeknya bukan lagi manusia, tapi pencipta manusia. “ini istrinya yah pak?”. “iyah”. “oh, pantas wajah bapak lebih muda”. Kalimat percakapan itu adalah sarkasme yang tentu minimal membuat wajah istri masam. Padahal istri adalah manusia. Bagaimana jika sarkasme itu ditujukan kepada yang Maha segala Maha?

Ketiga; penggunaan kata “mendesak”. Kata kerja yang objek mendesak itu berpotensi untuk terdesak. Dan zat penggerak yang tak bergerak (Tuhan) mustahil tidak demikian. Menjadi menarik, jika kemudian Prabowo diputuskan menang di MK, mungkinkah itu berarti allah terdesak oleh Prabowo, atau allah terdesak oleh doa atas saran Mochtar Ngabalin? Itu tidak mungkin dan tak waras (baca: pembuktian Tuhan secara rasional).

Mendesak allah adalah kata berbalut emosi dengan mencoba mendrive Tuhan. Fenomena membawa agama boleh saja dalam memotivasi seseorang, karena agama memang tuntunan. Tapi membawa nama Allah, menyindir dan membuat derajat ciptaanNya lebih dari “diri” nya sendiri, adalah tak waras. Siapa Mochtar yang berani mendesak Allah? Dia adalah manusia yang terbatas, diciptakan oleh yang Maha tak terbatas.

Berhasilkah mereka mendesak allah? Layak kita tunggu. Salam bahagia.

*Tulisan “allah” dengan huruf kecil bermakna bukan yang Maha Kuasa (pen)

Komentar
Loading...