Betapa Penting Peran Orang Tua; Pelajaran dari Kasus Dul

“Susungguhnya dari kisah-kisah mereka, terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berpikir.” Demikian terjemahan dari akhir al-Quran surah Yusuf.

Banyak kejadian, kisah, kasus, tapi tak banyak dari kita mengambil pelajaran darinya. Seperti hari ini, kecelakaan yang mengakibatkan anak Ahmad Dani, Abdul Qadir Jaelani yang akrab disapa Dul, menjadi trending topik di berbagai situs dan portal berita online maupun cetak. Ahmad Dani selaku ayah menyesal, Maia selaku Ibu berurai air mata. Apa mau dikata, nasi telah menjadi bubur, kenyataan di depan mata, dan kita sebagai pihak ketiga hanya bisa mengambil sehubungan dengan pelajaran dari kasus Dul ini.

Sehubungan dengan pelajaran dari kasus Dul, saya masih ingat, di usia 13 tahunlah sebagai manusia yang dilahirkan laki-laki, perkelahian pertama kali kulakukan. Ini terjadi ketika sepulang sekolah, teman-teman mengejekku dengan seorang remaja yang kebetulan duduk bersebelahan di mobil angkot sepulang sekolah. “ada yang ma-cewe’ (istilah pacaran).” Teriak teman-temanku sambil menjulurkan lidahnya.

Lain dulu lain sekarang, pergaulan semakin berubah. Membandingkan saya dengan Dul sepertinya juga jauh api dari panggang. Dul yang masih bau kencur dan semestinya hanya belajar berkelahi dulu seperti saya, justru sudah memiliki pacar, bisa mengemudi sendiri dan ngebut di tengah malam. Bahkan, jika Rabu nanti Polisi menetapkan Dul sebagai tersangka, maka anak berumur 13 tahun sudah membunuh 6 orang, sebuah rekor yang layak dicatat di MURI.

Kini, banyak yang menyalahkan Ahmad Dani selaku pemilik hak asuh Dul. Dia dianggap tidak becus mendidik anaknya sehingga, bocah berumur 13 tahun sudah memiliki pacar, keluar malam, ngebut bahkan menginspirasi saya menulis tulisan ini. Ada banyak pelajaran sehubungan dengan kejadian naas ini.

Pelajaran dari kasus Dul ini setidaknya mencolek kesadaran orang tua bagaimana membimbing anaknya ke jalan yang benar.

Pertama, usia remaja semestinya perhatian terhadap pola asuh dan manajemen pendidikan semakin ditingkatkan. Usia remaja 13 tahun, tentunya sangat memerlukan bimbingan, kasih sayang, dan perhatian dari kedua orangtuanya, agar dia dapat bertumbuh dengan baik, dari segi emosi maupun psikis.

Opini Terkait
1 daripada 304

Dul yang memilih pacaran bisa jadi adalah bentuk pelarian dalam pencarian kasih sayang yang tidak didapatkan dari seorang ibu pasca cerai dengan suaminya. Emosi yang labil di usia 13 tahun, bukan berarti memberikan kebebasan mencari jati diri tanpa control, justru bagi saya harus semakin ditingkatkan.

Kedua, anak adalah prioritas. Di tengah kesibukan menumpuk pundi-pundi kekayaan, orang tua biasanya lupa dengan hal lain yang menjadi prioritas, yaitu anak. Anak adalah buah hati, anak adalah tanggungjawab. Lalai terhadap buah hati berarti lalai terhadap tanggungjawab. Tanggungjawab terhadap anak ada yang bisa diwakilkan dan ada yang tidak, tapi langsung dari orang tua. Seorang anak yang keseharian diantar oleh sopir, akan berbeda dengan anak yang diantar langsung oleh kedua orang tuanya. Keterikatan itu jelas karena anak adalah buah hati.

Ketiga, Stop hedonistic terhadap anak. Tradisi hedon-hedon, pesta-pesta kini bukan hanya di kalangan jetset saja, tapi mulai merambah di kalangan keluarga menengah dan bawah. Peran media sangat besar dalam hal ini. Pesta tidak dilarang terhadap anak, tapi tak boleh lepas dari nilai pendidikan di dalamnya.

“Biarkanlah dia bersengan-senang sesekali.” Kata ini kerap saya dengar dari seorang ibu ketika melihat anaknya tripping tanpa henti. Padahal, di sinilah awal seorang anak mulai menemukan dambaan dan menjadikannya sebagai jati diri tanpa filter.

Keempat, perdalam pengetahuan hukum dan agama. Seorang anak berusia 13 tahun jelas dilarang untuk mengemudi, karena belum memiliki SIM. Tapi orang tua malah mendidiknya dengan membelikan hadiah ultah berupa mobil. Banyak orang tua dengan alasan kasihan dan tak ada waktu untuk mengantar sang anak akhirnya secara tidak langsung mendidik anak melanggar hukum dengan membelikan kendaraan bermotor.

Pelajaran dari kasus Dul dari sisi agama sangat jelas. Anak tugasnya belajar, menghormati orang tua, tidak berbuat maksiat, zinah melalui pacaran. Orang tua jangan terjebak dan bertumpu dengan pelajaran agama dari sekolah, karena hal itu pasti tidak akan cukup. Mengajarkan agama, bisa dengan materi, keteladanan, atau sekedar memberi contoh.

Kasus Dul memang beda dengan kisah Doel anak sekolahan yang kerjanya sembahyang mengaji, tapi pernahkah kita bertanya mengenai pendidikan agama selaku orang tua terhadap anak?

Terlepas dari muatan hukum, kasus kecelakaan Dul, memberi ispirasi besar dan mencolek kesadaran orang tua terhadap pola asuh dan tanggungjawab terhadap anak-anaknya. Semoga 4 poin pelajaran dari kasus Dul tadi, dapat dijadikan poin pelajaran terhadap bagaimana kita mendidik anak di rumah.

Komentar
Loading...