Apa dan Siapa Itu Bidadari Surga?

Bidadari Surga

Bidadari dikenal sebagai sosok yang sangat cantik namun tidak ada di dunia nyata. Bidadari di dunia nyata hanya ada dalam kalimat puitis dan gombal. Jika usia pernikahamu masih muda, coba katakan pada istrimu, “kau bagaikan bidadari tanpa sayap mengkilap telentang di atas beludru hitam.” Pasti istrimu klepek klepek. Tapi jangan coba jika usia pernikahan mu sudah puluhan tahun. Udah gak mempan, basi… heheh

Agama memandang Bidadari berbeda agama Hindu misalnya Bidadari disebut dengan Asfarah, yaitu sosok yang mengganggu para pertapa. Dalam tradisi Jawa Bali, bidadari juga disebut Hapsari, Widodori, Widyadari dan Dedari. Orang sunda menyebutnya Pohaci. Beragam, namun ditarik kesimpulan bahwa bidadari itu istilah yang menggambarkan sosok yang cantik jelita cetar membahana. Lawan kata bidadari adalah bidadara, yaitu sosok gagah seperti posisi bidadari yang cantik.

Dalam Islam, bidadari dipersiapkan untuk penghuni surga dengan istilah حور عين. Penghuni surga adalah yang beriman dan beramal shaleh baik laki-laki maupun perempuan. Penghuni surga berhak terhadap fasilitas surga.1Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan Kami hanyalah Allah kemudian mereka beristiqomah akan turun kepada mereka malaikat-malaikat. Janganlah takut dan Janganlah bersedih dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepada kamu. Kami pelindung pelindung kamu dalam kehidupan dunia dan akhirat dan bagi kamu di sana apa yang kamu inginkan dan bagi kamu juga disana Apa yang kamu minta sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha pengampun lagi Maha. (Surah Fushilat ayat 30 dan 31) Artinya, jika penghuni surga laki-laki mendapatkan layanan bidadari, maka semestinya penghuni surga wanita juga mendapatkan bidadara. Namun kenapa tidak disebutkan khusus seperti bidadari yang disebutkan dalam surah al-Rahman misalnya?

Hikmah Bidadari Surga

Penulis melihat ada tiga hikmah kenapa tidak disebutkan bahwa di surga pun disediakan bidadara. Pertama, bentuk penghormatan kepada wanita. Wanita tidak suka disebut sebagai sosok yang ingin meski tersedia, dan meski rasa inginnya sudah ingin tumpah. Sifat maskulin pada wanita membuatnya lebih suka dikejar dibanding mengejar. Tidak disebutkannya bidadara adalah bentuk penghormatan seakan-akan dikatakan, “telah disiapkan kepadamu, nanti bidadara itu akan mengejarmu.”

Kedua, sifat wanita yang cenderung mencintai satu hati saja. Wanita cenderung monogami sedangkan bagi laki-laki orientasinya poligami. Maksudnya, kabar gembira disediakannya bidadari di surga akan efektif bagi laki-laki, tidak bagi perempuan. “Hai wanita, di surga bidadara menunggumu.” Bisa-bisa wanita akan menjawab. “Aku tak mau, bidadaraku adalah suamiku.” Itulah sebabnya, penyebutan kabar gembira bahwa penghuni surga akan mendapatkan bidadari hanya untuk laki-laki

Ketiga, dengan kriteria khusus, wanita bisa menjadi bidadari di surga. Dalam sejarah disebutkan, saat sakit Rasulullah dijaga oleh istrinya Aisyah dan putrinya Fatimah az-Zahra. Suatu malam terdengar ketukan pintu dan Fatimah berdiri membukanya. Fatimah bertanya kepada orang yang datang, “ada apa gerangan?” Kemudian sosok tersebut menjawab, “Saya ingin bertemu Rasulullah”. Aisyah menjawab bahwa Rasulullah tidak ingin diganggu. Dan sosok itu pergi.

Opini Terkait
1 daripada 92

Rasulullah kemudian bertanya kepada Fatimah, “kamu tahu siapa yang datang?” Fatimah menjawab, “Saya tidak tahu.” “Yang datang itu dialah yang memisahkan suami dengan istri anak dengan orang tuanya.” Fatimah kemudian menangis. Rasulullah kemudian berkata, “mendekatlah kemari akan kuberi tahu sesuatu. Beliau lalu membisikkan kepada Fatimah. Fatimah lalu tersenyum. Melihat hal itu Aisyah merasa heran, tetapi merasa tidak enak menanyakan saat itu.

Lama setelah Rasulullah wafat Aisyah lalu bertanya kepada Fatimah, “Ya Fatimah, saat Rasulullah sakit kamu pernah menangis, namun saat Rasulullah membisikan sesuatu kepadamu, kamu kemudian tersenyum. Apa yang dibisikkan Rasulullah?”

Fathimah menjawab, “Rasulullah membisikan kepadaku, ‘tak usah bersedih karena di surga nanti ada empat wanita yang menjadi penghulu para Bidadari.'” Jawab Fatimah. “Siapa 4 wanita tersebut ya Fatimah?” Fatimah tidak langsung menjawab. Karena Aisyah terus bertanya, akhirnya Fatimah menjawab wanita pertama adalah Khadijah al-Kubra, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Aisyah istri Firaun.

Dalam biografi 4 wanita penghulu bidadari surga yang disebutkan tadi, keempatnya memiliki karakter dan sifat yang sama; yaitu teguh dalam keyakinan, ikhlas, istiqamah, dan pengabdi terhadap orang tua dan atau suami.

Artinya apa? Seorang wanita yang sifat cintanya hanya untuk satu hati, bisa menjadi bidadari untuk suaminya di surga kelak dengan cara memiliki sifat seperti empat sifat wanita penghulu bidadari surga itu.

Wallahu a’lam

Loading...