Bohong Hoax dan Ingkar Janji di Tahun Politik

Bohong, hoax dan ingkar janji, tiga perilaku, kejadian dan kondisi yang pada dasarnya semua manusia tak suka hal itu menimpa dirinya. Manusia pada dasarnya tak suka dibohongi, tak suka hoax, dan tak suka orang ingkar janji terhadapnya.

Bohong, hoax dan ingkar janji sepintas sama, dan memang ada persamaan tapi sebenarnya masing-masing ada perbedaan mendasar. Ketiganya adalah pengkondisian pikiran terhadap orang lain untuk tujuan sepihak. Bohong adalah meyakinkan orang lain untuk mempercayai sesuatu yang tidak benar. Orang yang melakukan kebohongan harus memiliki ingatan yang sangat kuat, karena membela kebohongan harus memberikan kebohongan baru.

Contoh; “Saya tidak pergi ke sekolah kemarin.” Kata Beddu dan dia bohong.

“Kenapa tidak pergi ke sekolah kemarin Beddu? Apakah kamu sakit?

Apapun jawaban Beddu, dia pastikan merupakan kebohongan baru dari Beddu.

Dalam sejarah, iblis adalah pelaku kebohongan pertama, saat mengatakan kepada Adam as, kalau buah Khuldi yang ada di surga adalah buah keabadian. “Makan buah ini Adam, maka kamu akan kekal di surga.” Buah Khuldi dimakan Adam as, dan dia dikeluarkan dari surga. Iblis berbohong.

Berbeda dengan hoax. Hoax adalah kebohongan yang tidak sepenuhnya. Hoax adalah kejadian nyata yang dipelintir sehingga yang diungkapkan bukan kejadian nyata seutuhnya. Hoax banyak dipengaruhi framing (Baca: framing, hoax tingkat tinggi)

Misalnya, “Lihat Beddu menjadi kepala desa, taraf hidup masyarakat meningkat.” Kalimat ini digunakan untuk meyakinkan orang lain. Fakta lain, taraf hidup masyarakat juga meningkat saat desa dipimpin orang lain sebelum Beddu. Maka, kalimat sebagai upaya pengkondisian pikiran tadi, itu adalah hoax.

Contoh hoax yang sering dilakukan banyak orang. “Eh, kamu di mana? Tinggal kamu yang belum datang.” Kata suara dalam telepon. Saat itu Anda kebetulan berada di jalan tapi belum berangkat, lalu menjawab,

“Iya tunggu sebentar kok. Saya sementara di jalan.” Anda tidak bohong karen memang berada di jalan, tapi melakukan hoax.

Antara bohong hoax dan ingkar janji, ingkar janji adalah yang paling parah, karena dalam ingkar janji pasti ada kebohongan atau hoax. Ingkar janji adalah lari dari akad yang sudah disepakati atau tidak disepakati.

“Saya akan beli tanahmu. Kamu mau menjualnya kan?”

“Deal, kita sepakat.” Di belakang hari ternyata tanah tidak jadi dibeli. Ingkar janji sekaligus bohong.

Opini Terkait
1 daripada 123

“Kalau saya jadi anu, saya akan sejahterakan masyarakat.” Tak ada kesepakatan, tapi ketika yang bersangkutan jadi anu, ternyata dia tidak mensejahterakan masyarakat, maka itu ingkar janji sekaligus bohong. Dia membela diri, keluargaku juga masyarakat kok. Maka dia ingkar janji tidak bohong tapi sekaligus melakukan hoax.

Bohong hoax dan ingkar janji

Tahun politik, adalah tahun tradisi bohong, hoax dan ingkar janji. Bahkan masyarakat sepertinya sudah terbiasa dengan tradisi tersebut. Masyarakat bisa jadi tahu kalau itu bohong, tapi kadang berusaha menikmati atau bahkan mengambil manfaat dari kebohongan itu. “Purasiki dibellei (Asyik saya sudah dibohongi)”, ujar anak muda sehabis menghadiri kampanye sambil memperlihatkan amplop warna putih.

Perlu juga diketahui bahwa bohong, hoax dan ingkar janji, tidak terjadi serta merta. Ada sebab. Ketika ada caleg datang dan berbohong, maka kita juga harus menalar kira-kira sebab kebohongan, hoax dan ingkar janji itu apa. Sebab pertama, karena yang bersangkutan memang suka bohong, hoax dan ingkar janji. Tiada hari tanpa bohong. Ada yang demikian? Ada. Tahun kemaren bohong dan kita sadar itu bohong. Hari ini datang lagi, bohong lagi. Besok?

Sebab kedua, biasa ada yang berbohong, hoax, berjanji (padahal kita tidak tahu itu tak mungkin ditepati), karena yang bersangkutan merasa belum saatnya jujur. Dia terpaksa melakukan itu. Tahun politik juga banyak terjadi seperti ini. “Apa kata dunia kalau mau jujur, padahal kenyataan membuat pemilih akan menjauh. Bohong deh…”

Ini biasa terjadi dalam kondisi sulit perang strategi dan isu politik. Berbohong, sebar hoax dan ingkar janji adalah pilihan buruk, tapi menurutnya harus dilakukan. “Pilih saya, kalau saya terpilih saya akan membangun pelabuhan (padahal tak ada sungai dan laut).”

Sebab ketiga, memanfaatkan rasa suka, rasa senang dan rasa cinta. Bohong, hoax dan ingkar janji seperti ini banyak terjadi di kalangan kaula muda. Dan biasanya yang dibohongi juga akan merasa senang.

“Kamu tak merasa aneh hari ini?”

“Memangnya kenapa?”

“Semua mata memandangmu. Kamu tercantik di ruangan ini.” Kikuk kikuk….

Orang yang jatuh cinta (terutama cinta buta) memang sudah tak peduli dengan kebohongan, hoax dan ingkar janji. Pembelaan akan selalu siap bagi siapa saja yang akan menyerang sosok yang dicintainya. Kebohongan, hoax dan ingkar janji itu akan dianggap benar, bahkan dibela. Cara membela yang paling buruk adalah menyerang balik.

“Ee junjunganmu bohong karena bla bla bla.”

Maka pembelaan paing buruk adalah dengan menjawab, “Junjunganmu juga demikian, karena bla bla bla.”
Dia tidak sadar, bahwa di balik jawabannya ada pengakuan. Bentuk pengakuan itu adalah mencari kesamaan perilaku pada orang lain.

Semoga bermanfaat opini ini. Jangan lupa share …

Loading...