Bu Guru, Jangan Batasi Ide Saya ! (Review Cara Mengajar)

Banyak polemik yang muncul sebagai akibat dari kurangnya perhatian seorang guru kepada siswanya. Seperti, kenakalan siswa yang semakin membabi buta, ketidakpatuhan siswa pada guru, dan lain-lain. Sebaliknya, perhatian guru kepada siswa yang berlebihan juga akan mengganggu perkembangan pemikiran sang siswa.

Masalah itu muncul sebagai akibat dari doktrin yang diterapkan oleh sang guru kepada siswanya. Padahal, mengajar merupakan sebuah seni untuk menimbulkan pertanyaan, bukan hanya menyajikan. Karena menyajikan saja tanpa melahirkan sebuah pertanyaan di benak para siswa itu berarti sebuah doktrin, bukan ilmu. Cara mengajar yang baik akan mampu menumbuhkan sifat kritis pada siswa. Menularkan ilmu berarti memberikan informasi, lalu pengembangannya siswalah yang melakukannya.

Seringkali, seorang guru dengan tidak sengaja mematikan ide siswanya dengan menerapkan cara mengajar yang kurang tepat dan terkesan memaksa.

Contoh sederhananya, Seorang guru matematika mengajarkan cara menyelesaikan soal aljabar dengan cara-cara yang tertulis dalam buku, lengkap dan runut sesuai dengan isi buku yang menjadi pegangan guru dan siswa dalam satu kelas. Guru tersebut bahkan terkadang geram dan menyalahkan sang siswa yang tidak memakai cara seperti yang tertulis di buku, meskipun hasil akhirnya sama. Disadari atau tidak, hal ini bisa mematikan sifat dasar siswa tersebut yang sebenarnya senang berinovasi.

Hal kedua yang patut diwaspadai oleh sang guru adalah cara mendidik yang terkadang dapat menyusahkan hati sang siswa. Bagaimana cara mendidik yang satu ini dilakukan? Cara mendidik yang satu ini sangat sering kita jumpai di sekolah.

Begini kisahnya, pada jam terakhir, seorang guru memberikan PR (pekerjaan rumah) untuk sang siswa dengan kalimat “Pekerjaan rumahnya dari halaman 21 sampai 23, bagian A hingga C. Besok dikumpulkan. Dan ingat, yang tidak mengerjakan, besok harus berdiri di depan kelas.”

Kalimat pertama sang guru disambut dengan anggukan kepala dan sahutan “Ya, Bu” dengan gegap gempita, tapi bagian terakhir akan mendapat sahutan “Ya, Bu” dengan lemah lesu. Jawaban yang sama dengan penekanan kata yang berbeda.

Kalimat terakhir akan menyusahkan hati sang siswa secara langsung. Dengan hati yang susah itu, bukan tidak mungkin seorang siswa akan mengerjakannya secara bermalas-malasan atau mengerjakannya dengan asal-asalan. Asal jadi, asal selesai.

Perkenankan saya, mencoba memberikan kalimat pengganti untuk kalimat guru di atas. “PR-nya dari halaman 21 sampai 23, bagian A hingga C ya anak-anak… Biar nanti setelah membantu orang tua di rumah bisa ingat, dilingkari dulu PR-nya ya? Besok, yang mengumpulkan paling pertama dan hasilnya bagus akan mendapatkan reward dari Ibu.”

Selanjutnya, seorang guru juga patut berhati-hati dengan cara menilainya yang bisa jadi malah menghambat tumbuh kembang sang siswa. Kenapa saya bisa berpikiran seperti ini? Ya, saya mempunyai pengalaman mengenai hal ini sebelumnya. Seorang teman pernah diberikan nilai 4 oleh seorang guru Fisika. Saya sendiri mengakui, sebenarnya pengalaman guru saya yang satu ini tidak bisa dianggap “ecek-ecek”.

deskriminasi pendidikan

Oleh karena itulah, bersama dengan nilai yang beliau berikan, beliau memberikan kesempatan kedua untuk sang anak dengan “naik gantung”. Dan beliau bersikeras ingin mengajar di kelas di mana anak ini dimasukkan. Saya tau persis, ini beliau lakukan karena ingin melihat dan selalu memperhatikan perkembangan sang siswa.

Terakhir, guru seharusnya tak segan-segan untuk belajar dari sang siswa. Belajar apa? Belajar untuk memberikan yang terbaik bagi masa depan sang siswa tentunya. Pembelajaran ini bukan satu dua hari atau tiga empat bulan saja. Namun pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran yang sifatnya continue.

Berikan Komentar

Alamat email bersifat pribadi