Bukan Salah Guru, Tapi Tayangan Sinetron!

Indera yang paling sering disebut dalam al-Quran adalah pendengaran dan penglihatan, dan televisi melalui tayangan sinetron mengambil peran keduanya. Sebuah acara televisi dapat disaksikan oleh jutaan manusia secara bersamaan. Dan pada saat yang sama pula, fungsi pendengaran dan penglihatan mendapat jatah pengaruh dari apa yang ditampilkan.

Sebagai media komunikasi paling efektif untuk menyampaikan pesan dan mempengaruhi orang, televisi memiliki posisi strategis untuk menyampaikan pesan terselubung, dan itulah yang terjadi terhadap anak hari ini.

Video mesum SMP 4 Jakarta, penjarahan anak SMA di angkutan umum, dan masih banyak lagi bentuk ketidakwajaran perilaku siswa yang ujung-ujungnya menyudutkan guru. Meski sedikit apologetic, tulisan saya sebelumnya menggambarkan fakta, bahwa kini media televisi mengambil peran guru sebagai ujung tombak pendidikan. Tentu tidak semua tayangan menjadi sebab akan hal itu, sebagian saja, dan salah satunya adalah sinetron.

Ada beberapa faktor yang mendorong lakunya permintaan terhadap tayangan sinetron. Faktor tersebut diantaranya adalah daya tarik konten cerita, dan tokoh cerita yang digemari. Padahal, jika mengamati konten cerita yang disuguhkan, relatif tidak ada perubahan dari satu sinetron ke sinetron yang lain.

Bukan rahasia lagi, tayangan sinetron jauh dari peran mendidik dan bahkan menjadi lawan guru ketika mengambil hak mengajarnya di kelas. Dari pengamatan saya, setidaknya ada beberapa tipe yang menjadi tantangan guru buah dari efek sinetron.

Pertama: Kebanyakan tayangan sinetron mencontoh kehidupan dan latar belakang kebudayaan luar, dan bahkan menempatkannya sebagai sugesti kalau budaya seperti itulah yang benar. Padahal, negara kita mempunyai kebudayaan yang terbingkai dengan ajaran agama khas. Sebut saja, tayangan sinetron yang member contoh makan berjalan, gadis yang berteriak melompat-lompat, dan gaya hedonis lainnya.

Di sekolah, sudah bukan barang langka lagi, siswi dengan gamblang berteriak tentang haidh; “pak saya haidh” dan perilaku imbas dari tayangan seperti itu. salah benarnya tentu masih debatebel, tapi sangat jauh dari budaya ketimuran bangsa Indonesia. (Baca: kesalahan pendidikan)

Kedua: tayangan sinetron, secara tidak langsung memberikan pendidikan materialis. Dalam alur sinetron, yang berkecukupan dinomorkan satukan, dan yang lemah, miskin, beragama, berjilbab digambarkan sebagai yang tunduk dan dianggap nista. Sinetron seperti ini, ternyata bukan Cuma satu, hampir semua.

Opini Terkait
1 daripada 303

Akibatnya, tertanam dalam pikiran siswa bahwa menjadi yang terbaik harus dengan kekayaan, dan materi yang cukup. Masalah agama, menjadi nomor sekian. Tak sulit mendapatkan siswa hanya ingin ke sekolah jika ada unag jajan lebih dari cukup. Mereka dari keluarga borjuis pun dengan mudah membuat pelanggaran, tak takut apapun karena mereka tahu segalanya akan selesai dengan materi.

Ketiga; tayangan sinetron yang dengan vulgar menayangkan cara pembunuhan, cara pemerkosaan, cara penculikan dan kekerasan, adegan memakai senjata api, dll. Akibatnya, tentu tertanam dalam pikiran siswa kalau senjata api itu mudah didapatkan. Lahirlah inspirasi di kepala mereka cara jitu agar tidak ketahuan, dan inspirasi negative lain.

Keempat: tayangan sinetron yang secara tidak langsung menempatkan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan penuh aturan dan tidak demokratis. Diperlihatkan, remaja yang berbusana muslim (yang sebenarnya adalah artis) tak ragu memperlihatkan pegangan tangan dan bahkan berpelukan. Bisa dilihat pada sinetron pada bulan ramadhan.

“Buat apa masuk pesantren, di sana kita akan terpenjara, kalau busana muslim juga masih begitu sama saja.” Demikian pemikiran yang lahir dari tayangan sinetron seperti ini. Dan, masih banyak tipe sinetron lain dari segi konten yang entah mengapa masih dianggap layak untuk ditayangkan tanpa filter.

Tantangan terbesar untuk semua itu tentulah pihak orang tua. Tapi waktu dan tenaga tak menjamin hal itu. Lebih parah lagi, penayangan sinetron tersebut, diputar saat waktu lowong anak yang otomatis menyita waktu belajarnya.

Pengaruh televisi terhadap anak
Ilustrasi Pengaruh televisi terhadap anak

 

Di sekolah ada guru, sama saja. Kemasan Pendidikan agama dan Pendidikan Kewarganegaraan yang hanya mendapat jatah dua jam perpekan menjadi problema baru. Terbukti, semakin hari, perilaku siswa semakin jelas warisan dari sinetron yang ditontonnya di rumah.

Mengantisipasi hal ini, pemerintahan adalah harapan satu-satunya, dengan mengambil peran memperketat dan pengawasan tak pandang bulu. Tayangan sinetron tak mendidik bahkan bertentangan dengan materi pendidikan berbangsa dan berbudaya dengan tegas harus dihentikan. Tak perlu berpura-pura tertipu dengan etiket karya anak bangsa dan modern.

Mari…

Komentar
Loading...