Burasa’

0 74

Burasa’, [efn_note]Sebutan asalnya “Buras” karena kebiasaan berbahasa Bugis Makassar kerap mematikan huruf vokal dan menjadikan “ng” pada kata berakhiran “n”.[/efn_note] makanan wajib saat lebaran baik Idul Fitri atau Idul Adha. Sepertinya tak afdhal jika lebaran tanpa makanan satu ini, karena memang rasanya maknyus jika tersaji bersama Coto Keera ataupun Opor Ayam. Selain itu, Burasa’ yang menjadi wajib saat lebaran ternyata memiliki filosofi tersendiri yang akan kita lihat pada artikel ini.

Emangnya, Burasa’ makanan khas Bugis-Makassar? Iya, bukan yang lain. Bukan makanan khas Jawa, Madura apalagi Malaysia. Kalau Burasa’ ditemukan di luar Sulawesi Selatan, maka hal itu kemungkinan besar dari masyarakat perantau asal Bugis-Makassar yang sudah beranak pinak di sana, lalu menjadikan Burasa’ sebagai makanan khas yang berasal dari kampung halamannya.

Memang ada beberapa penganan khas yang mirip dengan Burasa’, seperti Lontong dan Ketupat, namun ketiganya berbeda satu sama lain. Burasa’ dan Lontong sama-sama dimasak, dan sama-sama dibungkus daun pisang. Perbedaannya, tampilan Lontong yang tunggal. Artinya, dari sisi bentuk, Burasa’ adalah dua Lontong yang diikat jadi satu. Ketupat apalagi. Dari sisi pembuatan jauh berbeda. Ketupat tidak dibungkus dengan daun pisang tetapi dari daun Janur Kelapa yang dianyam. Ketupat juga tidak terbuat dari beras setengah matang bersantan seperti pada Burasa’.

Ke-khas-an Burasa’ di mulai dari pembuatannya. Burasa’ diambil dari beras yang bukan pulut lalu dicuci sehingga bersih, beras tersebut kemudian ditanak setengah masak. Setelah itu diangkat dan diaduk bersama dengan santan kelapa asli, kemudian dibungkus dan dibalut dengan daun pisang berbentuk batangan tunggal yang pipih. Batangan tunggal pipih ini lalu disatukan dan diikat dengan kuat menggunakan tali rajutan dari daun pandan yang sudah dikeringkan. Setelah itu, ikatan calon Burasa’ itu dimasak kali kedua. Burasa’ yang bagus adalah yang dimasak minimal tiga jam dan memasaknya dengan menggunakan kayu bakar. Semakin lama dimasak untuk kali kedua semakin enak dan Burasa’ akan bertahan lebih lama.

Langkah pembuatan Burasa’ itu wajib, karena disitulah nilai khasnya. Misalnya, kita ingin mencoba namun tidak setengah masak dan tanpa santan, jadinya nasi biasa. Tidak menggunakan daun pisang, bisa-bisa jadinya ketupat. Batangan tunggal pipih setelah dibungkus tapi tidak disatukan, jadinya Lontong. Meski demikian, banyak yang mempermudah, misal mengikat dengan tali rapia kecil bukan dari daun pandan, atau memasaknya dengan kompor gas bukan kayu bakar. Tapi rasanya akan beda!

Kelebihan Burasa’ selain rasanya yang cocok dengan berbagai makanan berkuah, juga dari sisi ketahanannya. Semakin lama Burasa’ dimasak maka semakin lama akan bertahan. Dalam durasi normal, Burasa’ mampu bertahan hingga dua sampai tiga hari dan bahkan bisa lebih lama, apalagi jika disimpan dalam kulkas.

Tak ada catatan yang penulis temukan asal muasal makanan Burasa’ ini, namun penulis memprediksi bahwa makanan ini sudah ada sejak abad ke-VIII. Opini ini berasal dari latarbelakang orang Bugis-Makassar sebagai pe sompe (perantau). Umunya, para perantau Bugis-Makassar melakukan perjalanan berhari-hari bahkan berbulan-bulan menggunakan kapal. Dalam melakukan perjalanan itu, tentu dibutuhkan makanan yang bisa bertahan lama selama dalam perjalanan, dan Burasa’ adalah salah satu pilihannya.

Dari sisi bentuk, sepertinya pembuat Burasa’ pertama kali memiliki sennu sennureng (tafa’ul). Perantau akan pergi, entah disebabkan karena ekonomi, kebebasan, mencari ilmu, atau massampo siri. Raga perantau boleh pergi, tapi hati mereka tetap menyatu. Itulah sebabnya, bentuk Burasa’ terdiri dari batangan tunggal yang pipih yang kemudian diikat menjadi satu kesatuan.

Seperti halnya saat lebaran, Burasa’ menjadi penganan pilihan yang sudah menjadi tradisi kental hampir wajib dalam kehidupan sosial masyarakat Bugis-Makassar, karena dalam pembuatan dan bentuk Burasa’ terdapat nilai yang menyiratkan penyatuan hubungan antara satu sama lain yang biasa diistilahkan dengan silaturrahim, dan Burasa’ sebagai simbol representatif dari hubungan itu.

Bagaiamana? Adakah yang ingin bersatu dengan saya seperti nilai penyatuan pada Burasa’?

Komentar
Loading...