Cara Agar Anak Mencintai al-Quran

Anak Mencintai al-Quran

Membuat anak mencintai al-Quran di tengah godaan yang sangat banyak di sekeliling mereka, bukan hal baru dari beberapa kesulitan orangtua mendidik anak mereka. Pengaruh HP, tontonan televisi, lingkungan sekitar anak, semua seakan menjadi peserta yang berkompetisi memperebutkan tempat di hati anak.

Sebelum mengajak anak belajar membaca dan menghapal al-Quran, terlebih dahulu membentuk mereka mencintai Quran. Ini penting, seperti saat anak mencintai salah satu film di tv, jangan coba-coba memindahkan chanel, anak akan menangis. Demikian pula jika anak mencintai al-Quran, jangan alihkan perhatian anak dari yang dicintainya, dia akan marah bahkan menangis.

Masalah utama, ketika orangtua menganggap hal itu biasa-biasa saja. Anak mencintai al-Quran dianggap bukanlah hal yang penting, sehingga usaha agar menjaga anak dari hal yang mempengaruhinya dari kecintaan terhadap al-Quran, tidak menjadi perhatiannya.

Pentingnya anak mencintai al-Quran

Saya pernah melihat video menarik. Dalam video itu terlihat seorang anak perempuan menidurkan adiknya yang masih balita dengan membacakan ayat al-Quran. Video itu viral, karena memang jarang. Bisa dipastikan, kedua anak itu mencintai al-Quran. Ayat al-Quran sudah terpatri di dalam hatinya.

Jadi salah satu hal kenapa anak penting mencintai al-Quran adalah menjadikan Quran sebagai alat. Alat yang diperdengarkan kepada orang lain, dan manfaat al-Quran yang berlaku utuh.

Kedua, dengan mencintai al-Quran, anak dengan enteng akan belajar sendiri, bertanya, bahkan suka mendengar latunan ayat al-Quran. Kesulitan belajar dan menghapal al-Quran dengan sendirinya terselesaikan saat anak mencintai al-Quran.

Ketiga, dengan membuat anak cinta al-Quran, maka pada saat yang sama akan mencintai apa saja terkait al-Quran. Anak akan menyukai suara pembaca al-Quran, anak suka acara tv yang memperlihatkan tontonan al-Quran, dst.

Keempat, anak yang cinta Quran secara tidak langsung juga akan membentuk intelegensi anak. Karena anak telah mengasah otaknya semenjak kecil, dan salah satu mukjizat al-Quran adalah I’jaz al-Ilmi yaitu mukjizat terkait pengetahuan pembacanya.

Trik agar anak mencintai al-Quran sejak dini

Sebelum melihat bagaimana langkah step by step agar anak cinta al-Quran, sebagai orang tua terlebih dahulu harus meyakini bahwa al-Quran adalah petunjuk. Membuat anak mencintai al-Quran, itu artinya membuat anak mencintai petunjuk. al-Quran adalah obat mujarab, berarti anak yang mencintai al-Quran, sama saja mereka mencintai obat mujarab buat mereka.

Dengan keyakinan tadi, maka orang tua akan mudah melakukan apapun agar anaknya mencintai al-Quran. Orangtua akan menjadikan usaha yang mereka lakukan sebagai prioritas karena sadar akan manfaatnya.

Selain langkah agar anak mencintai al-Quran, orang tua mesti mengajar anak menyebut huruf dengan benar satu demi satu, mengajar membaca, menulis. Intinya, apa yang akan disampaikan hanyalah trik agar anak mencintai bukan mengetahui.

Pertama, membaca al-Quran di depan anak

Orangtua yang membiasakan membaca al-Quran di depan anak, secara tidak langsung akan memberi kesan bahwa al-Quran sangat penting, anak akan melihat bahwa orang tuanya sangat memerhatikan al-Quran, buktinya, orangtua selalu membacanya. Demikian pula anak akan merasa heran dan bertanya dalam hati, “kenapa orangtuaku selalu membaca al-Quran.” Rasa itulah yang akan membentuk perhatian pada anak, dan cinta bermula dari perhatian.

Perhatian anak yang muncul saat melihat orang tua membaca al-Quran, tinggal dipertahankan dan dikembangkan ke step selanjutnya.

Kedua, memberikan hadiah berupa mushaf al-Quran dan menulis namanya di mushaf itu

Anak akan merasa senang dengan pemberian orangtuanya, apalagi jika pemberian itu dikemas dalam bentuk hadiah. Misal, anak berhasil melakukan sesuatu yang berkesan, hadiahnya adalah mushaf al-Quran.

Tapi anak tidak suka dengan hadiah yang diberikan? Tidak jadi masalah. Yang terpenting anak sadar bahwa orangtuanya memberikan sesuatu sebagai hadiah dan itu adalah mushaf al-Quran.

Tidak ada yang boleh menggunakan mushaf al-Quran hadiah itu. Itulah sebabnya, ditulis nama anak di mushaf itu. Cara ini akan menimbukan kesan kepemilikan dan kesan betapa berharganya mushaf hadiah itu.

Opini Terkait
1 daripada 138

Ketiga, merekam suara anak saat membaca al-Quran, memperdengarkan, mengulang dan memberikan pujian terbaik

Setelah anak bisa membaca satu ayat, satu kata, bahkan satu huruf, rekam suara anak, lalu perdengarkan, kemudian puji dia dengan pujian terbaik. Bisa juga dibarengi dengan tepuk tangan.

Karena pada dasarnya anak suka dipuji, maka cara ini akan membuat anak suka membaca ayat al-Quran meski satu huruf.

Keempat, merangsang anak membaca, melihat langsung (dengan mushaf) setelah anak bisa menyebut huruf

Jadikan mushaf hadiah yang nama anak tertulis di mushaf itu sebagai alat pembuktian, saat anak sudah bisa menyebut satu huruf.

Misal, anak sudah bisa menghapal surah an-Nas. Katakan padanya, surah an-Nas itu ada di sini, sambil memperlihatkan dari mushaf

Kelima, membacakan kisah-kisah dalam al-Quran saat dia akan tidur

Saat anak akan tidur, itulah waktu terakhir bagi anak hari itu. Alangkah baiknya, jika orang tua membacakan kisah yang diambil dari al-Quran kemudian diceritakan pada anak.

Bisa juga, orang tua bercerita tentang kisah para Nabi dengan memegang mushaf al-Quran. Apalagi dengan berkata, “Mushaf al-Quran kamu mana? Pinjam dong, ada cerita menarik di sana.”

Keenam, memperlihatkan keagungan al-Quran di depan anak

Bagaimana agar al-Quran terlihat agung di depan anak? Tergantung cara orangtua. Sebenarnya sangat mudah, cukup menunjukan bahwa mushaf al-Quran itu beda dengan benda lain.

Misalnya dengan kalimat perhatian, “Awas al-Quran nya jatuh!” atau kalimat perintah “al-Quran nya jangan disimpan di situ, simpan di atas!”

Saya sering, saat melihat anak memegang mushaf al-Quran, lalu tiba-tiba terjatuh, anak itu saya suruh mencium dulu sebelum disimpan ke tempatnya.

Kedengaran sepele, tapi kalimat-kalimat dan cara ini akan terpatri di alam bawah sadar anak, bahwa al-Quran itu agung, berbeda dengan benda selain al-Quran.

Ketujuh, memuji pada penghapal al-Quran dan memperdengarkan bacaan mereka

Seperti yang sudah disebutkan dalam paragraph awal, ada banyak persaingan memperebutkan hati anak, termasuk nama orang, tokoh, tokoh kartun, dll. Olehnya itu, sebagai orangtua, kita tempatkan tokoh al-Quran, para penghapal al-Quran dengan memperkenalkan mereka dan bacaan mereka.

“Nak, ini namanya Abd Rahman as-Sudais. Beliau peghapal al-Quran sejak kecil loh. Suaranya enak mana dibanding suara, Khalil Khushory?” Sambil memperdengarkan suara para penghapal al-Quran, lalu ajak anak menirunya.

Kedelapan, terus mengembangkan kecintaan al-Quran dan jangan menyerah

Bisa jadi, dari tujuh langkah agar anak mencintai al-Quran yang sudah saya sebutkan, ada yang mudah, ada yang sulit dilakukan orangtua, yang terpenting kontinuitas, istiqamah, dan tidak menyerah untuk terus melakukan cara agar anak mencintai al-Quran.

Selamat mencoba!

Loading...