Cara Berpikir “Buntu Kullu” dalam Menghadapi Wabah Corona Covid 19

Menghadapi Wabah Corona Covid 19

Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar dulu, pernah suatu waktu diadakan pertandingan sepakbola antar sekolah dan saya ikut. Dalam satu sesi pertandingan, saya menggiring bola, berhadapan dengan penjaga gawang, tapi sayang tendangan saya meleset. Pelatih teriak dari pinggir lapangan, “Awwee Buntu Kullu pa yye.”

Pernah juga seorang teman yang kebelet, sayang di kamar kecil tak ada air sama sekali. Dia cari air, ketemu, tapi sayang tak ada wadah memindahkan air itu kecuali ember yang sudah bocor.

Tak ada rotan akar pun jadi. Diambilnya air dengan ember bocor itu dan dibawa setengah berlari ke kamar kecil. Walhasil, hanya sedikit air yang sampai. Seorang penduduk sekitar yang melihat itu berkata, “Alangkah Buntu Kullu nya orang itu.”

“Buntu Kullu”, jika diartikan perkata, “Buntu,” artinya tak tersalur, terhalang, atau tersendat. Dan Kullu, berarti kepala. Terminologinya kira-kira, punya akal tapi tidak dipergunakan dengan baik sesuai harapan. Bisa juga berarti, cara berpikir yang tak sesuai jalur, terhalang sehingga tak sesuai harapan.

Siapa yang mengartikan seperti Buntu Kullu seperti itu? Ya saya, terminologi pribadi yang saya buat dengan cara Buntu Kullu. Mantap kan…? Tidak sepakat, mari kita diskusikan.

Buntu Kullu tidak selamanya memiliki konotasi negatif, karena penekanan sehingga seseorang diberi predikat Buntu Kullu adalah harapan yang tak sesuai. Andai tendangan saya tidak meleset, dan sesuai harapan pelatih waktu itu, dia pasti tak akan memberi saya gelar Buntu Kullu.

Buntu Kullu juga kadang lahir menjadi tuduhan karena melihat sesuatu perilaku yang terkesan bodoh. Padahal di balik perilaku itu ada hal yang tidak diketahui. Andai penduduk sekitar tahu bahwa teman saya kebelet, tak ada air, tak ada ember kecuali ember bocor, pasti mereka tak akan memberi gelar Buntu Kullu.

Lalu siapa yang salah? Tak perlu mencari siapa yang salah. Mari kita nikmati Buntu Kullu itu, sekaligus menambah istilah perbendaharaan kata kita dengan cara yang tidak Buntu Kullu.

Sengaja saya lama menjelaskan ini, supaya tidak salah paham. Jangan sampai menuduh tulisan ini Buntu Kullu.

Oke eperibadi, ledisenjentelemen… menghadapi wabah pandemi Corona Covid 19, ada banyak cara berpikir Buntu Kullu yang muncul. Lahir dari penentu kebijakan, dari pakar kesiangan, bahkan lahir dari masyarakat atas nama agama.

Menerima TKA dari China

Ini berita menarik! Andai saya lihat langsung, tak tahan pasti kuberteriak “Buntu Kullu!” Corona berasal dari Wuhan China, tapi TKA China masih bisa masuk.

49 TKA China mendarat di bandara Haluleo, Kendari, dan terbaru di Batam meski konon yang di Batam sudah dipulangkan. Buntu Kullu!

Virus dari Tuhan, kalau memang sudah takdir bla bla bla

Opini Terkait
1 daripada 302

Nah, ini juga menarik Buntu Kullu nya. Pasca keluar fatwa MUI nomor 14 2020, masih ada yang ngeyel, tetap membuat keramaian di Masjid dalam bentuk salat jamaah atau tablig akbar. Mereka beranggapan, bahwa hidup mati di tangan Tuhan jadi tak perlu takut virus Corona.

Kelompok masyarakat seperti ini, sepertinya lupa bahwa manusia punya hak ikhtiar. Lupa bahwa takdir manusia dipengaruhi oleh ikhtiarnya. Lupa kalau mereka Buntu Kullu.

Tidak salat Jumat, tapi salat Zuhur berjamaah di masjid pada hari Jumat

Peniadaan salat Jumat dalam rangka antisipasi wabah Corona Covid 19, itu disebabkan karena salat Jumat pasti ramai. Jika ramai, memudahkan kontak fisik. Jika kontak fisik memudahkan penyebaran virus.

Bisa nggak salat Jumat tapi tidak ramai? Bisa nggak tak ada kontak fisik jika ramai? Berarti ramainya yang jadi sebab, bukan salat, dan bukan Jumat nya. Artinya, jika tetap melaksanakan salat Zuhur secara berjamaah (ramai), berarti yang dianggap sebab adalah Jumat nya. Buntu Kullu!

Tidak salat Jumat dalam kondisi wabah seperti sekarang ini adalah sunnah Nabi saw, bukan bid’ah Ferguso! Jangankan wabah, hujan yang deras saja sehingga padangan kabur saking derasnya, bisa menggugurkan kewajiban salat Jumat. Dalilnya sahih!

Meniadakan salat Jumat dan salat jemaah, tapi membiarkan pasar

Salat Jumat ramai, salat jemaah ramai, oke dalam rangka mengantisipasi penyebaran virus Corona, bubarkan keramaian. Ditiadakan dulu salat Jumat dan salat Jemaah. Its oke. Tapi pasar?

Kita seakan ingin menyelamatkan para jemaah masjid dan mengorbankan penjual dan pembeli di pasar. Buktinya, mereka yang di pasar tidak dilarang berkerumun. Ramai, ada kontak fisik di sana! Bukankah virus Corona menyerang siapa saja, tak kenal merek, tak kenal kamu jemaah masjid atau penjual di pasar? Tidak!

Pasar kan terkait ekonomi, terkait perut. Bukankah Abu Jahal enggan memeluk Islam karena masalah perut? Mau makan apa, mau mati, dan seabrek alasan Buntu Kullu lainnya.

Dimaklumi! Tapi perlu disadari bahwa dalam situasi menghadapi wabah Corona, semua harus berkorban. Pejabat yang tak mendapat perjalanan dinas, Guru yang dipaksa mengajar online, siswa yang harus belajar di rumah, orang tua siswa yang terpaksa stress urus anak di waktu sekolah. Banyak, dan semua harus berkorban!

Ada banyak solusi misalnya, penjual didata degan baik. Penjual beras di sini, penjual Lambacee di sini, dst. Bagi yang ingin membeli akan diantarkan. Akhirnya interaksi bisa dikurangi, hanya pengantar dengan penjual saja, dan tak ada lagi keramaian.

Empat Buntu Kullu dalam menghadapi wabah virus Corona tadi mengajarkan kita banyak hal sesuai kaidah Buntuk Kullu yang sudah saya jelaskan sebelumnya.

Terakhir, mari sama-sama kita hadapi wabah Corona ini dengan cara Buntu Kullu lainnya, “Bercerai kita teguh bersatu kita runtuh.”

 

Komentar
Loading...