Cara Nabi saw Mengatasi “Corona”

Cara Nabi saw menghadapi corona

“Pada hari ini aku sempurnakan agama (Islam) untukmu.” Penggalan ayat dalam surah al-Maidah ayat 3. Islam telah sempurna, melalui al-Quran dan Hadis. Penjabarannya, melalui ulama sebagai pewaris Nabi, untuk semua hal, dan untuk semua masalah. Jangankan corona, masuk kamar kecil saja diatur.

Nabi saw, bukan dokter, bukan ahli virus, bukan tabib, tapi semua yang diucapkan adalah wahyu. Itulah kenapa beliau diberi gelar “Shidq”, jujur. Tak satupun dari yang diucapkan tidak benar, bahkan bila hal yang diucapkan itu belum terjadi sekalipun.

Bagaimana cara Nabi saw mengatasi Corona, sedangkan pada saat itu Corona belum ada?

Keunikan solusi yang ditawarkan Islam baik dalam ayat al-Quran maupun hadis, tidak menyebut objek nya secara detil, tapi lebih kepada strategi penyelesaian secara umum dengan berdasarkan pada hal umum dan cirinya.

Tidak disebutkan cara menyembuhkan bersin begini, cara menyembuhkan kaki bengkak kejedok pintu, tidak! Tapi dengan solusi yang diberikan berdasarkan cirinya.

Suatu hari sahabat Nabi didatangi seorang laki-laki yang mengatakan dia sakit perut. Nabi saw menjawab, berikan dia madu! Sampai tiga kali laki-laki itu bolak balik, jawaban Nabi saw sama.

Ada banyak penyakit yang cirinya sakit perut. Tak perlu disebut secara sepesifik, maag, disentri, joli joli, dll, tak perlu! Bagi muslim, kalau cirnya sakit perut, berikan madu!

Corona covid 19, H5 N1, Flu Burung, macam-macam adalah nama khusus yang spesifik. Jangan cari hadis atau ayat al-Quran yang menyebut hal itu. Itu terlalu kecil. Tapi temukan cirinya, atau hal umum dari virus itu, maka dengan mudah ditemukan.

Corona berbahaya, Corona menular, Corona adalah wabah, Corona merusak sistem pernapasan, Corona akan kalah oleh daya tahan tubuh yang kuat, karena corona virus maka tidak bisa hidup di tempat yang bersih, masih banyak hal umum lainnya.

Apapun yang memiliki ciri seperti itu, meski dengan nama berbeda, tak masalah. Apalah arti sebuah nama hehehe. Dan sampai di sini saja, maka dengan mudah kita temukan bagaimana cara Nabi saw menghadapi wabah Corona.

Lalu bagaimana Nabi saw menghadapi Corona?

Corona berbahaya, Corona menular dan Corona adalah wabah

Nabi saw pernah mengingatkan, “Tha’un (dalam bahasa Arab berarti wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah swt untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka, apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari darinya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Kemudian dalam hadis lain, “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Dari dua hadis ini jelas, jika kita ingin menghadapi Corona dengan cara Nabi; pertama, karena wabah penyakit menular adalah ujian, maka bersabarlah. Ujian menuntut kita tenang, dan tidak panik. Ujian menuntut kita berpikir sehat. Ujian menuntut kita tidak grasak grusuk, tidak menyontek, dan ujian harap tenang!

Tak salah pemerintah selalu menekankan waspada tapi jangan panik, tetap tenang, dan tak pelu mengetahui siapa korbannya, kamu nyontek namanya!

Kedua, jika Corona berjangkit di Wuhan, jangan ke sana. Bahkan yang di sana dan bukan daerah keluarlah. Jika suatu waktu, ada daerah divonis terjangkit secara total, tinggalkan tempat itu.

Ketiga, Rasulullah juga menganjurkan untuk isolasi bagi yang sedang sakit dengan yang sehat agar penyakit yang dialaminya tidak menular kepada yang lain. Inilah yang sekarang dikenal dengan social distance, yakni membatasi hubungan antara satu dengan yang lain dalam rangka memutus rantai penyebaran wabah.

Olehnya itu, shalat berjamaah di masjid boleh diganti dengan salat di rumah. Shalat Jumat pun boleh diganti dengan salat Zhuhur di rumah guna menghindari wabah penyakit.

Inilah yang kemudian dalam hadis yang dijadikan kaidah fikih, yakni la dharara wala dhirar; ‘tidak boleh berbuat mudarat dan hal yang menimbulkan mudarat’ (HR Ibn Majah dan Ahmad ibn Hanbal dari Abdullah ibn ‘Abbas),

Dengan dalil hadis itulah keputusan yang menghindari mudarat yang lebih besar, kadang terpaksa harus diambil. Misalnya, lockdown, dll.

Corona merusak sistem pernapasan

Dalam hadis dari Abu Hurairah, ra. Nabi saw bersabda, “Apabila seseorang dari kalian berwudhu, hendaklah memasukkan air ke dalam hidung, kemudian menyemburkannya….” (HR Bukhari).

Apakah dengan cara ini efektif melawan Corona? Untuk menyembuhkan, perlu diadakan penelitian, tapi untuk pencegahan, cara ini sangat ampuh, karena membersihkan dan membuat saluran pernafasan menjadi serasa sangat tingan.

Saya pribadi, jika terkena flu dan batuk, cukup menggunakan cara ini. Hasilnya luar biasa.

Corona anti terhadap fisik yang kuat dan tempat yang bersih

Dalam sebuah hadis disebutkan: “Seorang mukmin yang kuat (fisik, mental, jiwa, dan raga) lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR Muslim).

Hadis lain, “Barang siapa tertidur dan di tangannya terdapat lemak (kotoran bekas makanan) dan dia belum mencucinya, lalu dia tertimpa oleh sesuatu, janganlah dia mencela melainkan dirinya sendiri.” (HR Abu Daud).

Dari dua hadis ini jelas, cara menghadapi Corona, kuatkan fisik dan jaga kebersihan. Ada beberapa usaha yang bisa dilakukan, isolasi diri, dan cuci tangan misalnya.

Orang yang terjangkit Corona butuh semangat dan motivasi

Jangan putus asa bagi yang terjangkit atau jika ada keluarga, teman yang terpapar virus ini. Nabi saw tak hanya memberikan cara jitu, tapi juga memberikan motivasi dan semangat untuk sembuh.

“Seorang sahabat berada bersama Nabi saw. Lalu, datanglah serombongan Arab dusun. Mereka bertanya, ‘Wahai, Rasulullah, bolehkah kami berobat?’ Beliau menjawab, ‘Iya, wahai para hamba Allah, berobatlah. Sebab, Allah tidaklah meletakkan sebuah penyakit melainkan meletakkan pula obatnya, kecuali satu penyakit.’ Mereka bertanya, ‘Penyakit apa itu?’ Beliau menjawab, ‘Penyakit tua.'” (HR Ahmad, Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan at-Tirmidzi).

Corona bukanlah penyakit tua. Corona bisa disembuhkan. Karena dia penyakit maka pasti ada obatnya. Jika belum ditemukan, cukup dengan mengikuti cara Nabi saw mengatasi Corona tadi.

Terakhir saya ingin mengingatkan, bahwa kita tahu kalau Nabi saw adalah teladan. Kita tahu kalau beliau adalah rahmat, tapi kadang kita lalai untuk mengikuti petunjuk yang diberikan. Menghadapi Corona, cukup dengan mengikuti cara Nabi saw menghadapinya.

 

Berikan Komentar

Alamat email bersifat pribadi