Carut Marut Kurikulum Pendidikan Kita

Kurikulum Pendidikan

Krisis dalam “referensi” perjalanan pendidikan kita memang sangat kompleks. Pemicunya tidak semata bersumber dari persoalan domestik, tetapi juga masalah-masalah internasional lainnya, seperti perubahan lingkungan, perubahan perkembangan berpikir dan kebijakan, serta perubahan pemikiran dalam pendidikan (Coombs, 1985).

Perubahan yang sedang dan akan terjadi harus menjadi pijakan bagi seluruh stake holders pada bidang pendidikan untuk menata kembali arah dan eksistensinya. Karena kurikulum merupakan elemen strategis dalam sebuah layanan program pendidikan, maka semestinya kurikulum menghasilkan proses dan produk pendidikan yang baik.

Betapa penting peran kurikulum dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional, pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk merevisi, mengembangkan dan menyempurnakan desain kurikulum pendidikan Indonesia yang bisa menghasilkan proses dan produk pendidikan yang bermutu dan kompetitif. Usaha penyempurnaan kurikulum ini sudah dimulai sejak Indonesia memprokalimirkan kemerdekaanya. Sampai saat ini, tercatat 10 kurikulum pernah dikembangkan dan dilaksanakan dalam sistem pendidikan nasional.

Kurikulum tingkat satuan pendidikan merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh sekolah. Ini merupakan kebijakan baru dari pemerintah dalam rangka mengakomodasi kepentingan sekolah, daerah dan sekaligus untuk mengembangkan potensi masyarakat. Namun dalam implementasinya masih menghadapi berbagai kendala yang meliputi antara lain manajemen kurikulum, organisasi dan manajemen sekolah, ketenagaan, sarana prasarana, peserta didik, pembiayaan, peran serta masyarakat, lingkungan dan kultur sekolah.

Kurikulum pendidikan yang saat ini berubah-ubah menjadi kebingungan tersendiri bagi pendidik maupun peserta didik. Siswa seakan-akan menjadi kelinci percobaan untuk menemukan kurikulum mana yang pengaruhnya lebih besar terhadap mutu pendidikan. Jadi tak heran bila belum genap satu tahun kurikulum sudah diisukan akan diganti dengan kurikulum yang lain. Lucunya lagi, perubahan kurikulum yang membingungkan menjadi ladang uang bagi pihak tertentu.

Tiap pergantian kurikulum maka buku ajarpun berganti walaupun sebenarnya yang berubah adalah cover buku yang dipoles lebih menarik, isinya sama saja dengan buku yang digunakan kurikulum lama, dan siswa diwajibkan untuk membeli buku baru.

Secara konseptual, sekurang-kurangnya kurikulum pendidikan masa depan perlu mangakomodasikan secara sistematis dimensi-dimensi pengembangan peserta didik sebagai berikut:

Pengembangan individu; aspek-aspek hidup pribadi (dimensi pribadi), yaitu; religi: kesadaran beragama, fisik: kesehatan jasmani dan pertumbuhan, emosi: kesehatan mental dan stabilitas emosi, etika: integritas moral, estétika: pengejaran kultural dan rekreasi

Pengembangan cara berpikir dan teknik memeriksa – kecerdasan yang terlatih (dimensi kecerdasan), yaitu; penguasaan pengetahuan: konsep-konsep dan informasi, komunikasi pengetahuan: keterampilan untuk memperoleh dan menyampaikan informasi, penciptaan pengetahuan: cara pemeriksaaan, diskriminasi, dan imaginasi, hasrat akan pengetahuan: kesukaan akan belajar.

Penyebaran warisan budaya, nilai-nilai civic dan moral bangsa (dimensi sosial), yaitu; hubungan antar manusia: kerjasama, toleransi, hubungan individu-negara: hak dan kewajiban civic, kesetiaan dan patriotisme, solidaritas nasional, hubungan individu-dunia: hubungan antar bangsa-bangsa, pemahaman dunia, hubungan individu-lingkungan hidupnya: ekologi.

Pemenuhan kebutuhan sosial yang vital dan menyumbang kepada kesejahteraan ekonomi, social, dan politik, lapangan teknik (dimensi produktif), yaitu; pilihan pekerjaan: informasi dan bimbingan, persiapan untuk bekerja: latihan dan penempatan, rumah dan keluarga: mengatur rumah tangga, ketrampilan mengerjakan sesuatu sendiri, perkawinan, konsumen: membeli, menjual, investasi.

Opini Terkait
1 daripada 97

Sebuah studi menemukan beberapa kelemahan yang cukup mendasar dalam dokumen kurikulum tingkat satuan pendidikan yang saat ini diimplementasikan di Indonesia. kelemahan tersebut disebabkan karena adanya penafsiran yang salah pada teori yang ada sehingga menyebabkan kerancuan dan ketidakjelasan dalam perumusan dokumen.

Beberapa kelemahan terkait dokumen kurikulum tersebut adalah: muatan lokal, program pengembangan diri, Ujian Nasional.

Ilustrasi sumber edyutomo.com

Muatan lokal

Menurut Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar Dan Menengah terbitan BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) tahun 2006, Muatan Lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada, atau materinya terlalu banyak sehingga harus menjadi mata pelajaran tersendiri. Substansi mata pelajaran muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan, tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan.

Namun dalam perumusannya, banyak sekali panduan mengenai pelaksanaan pembelajaran yang tidak sesuai dengan konsep muatan lokal yang sebenarnya. Hal ini tentu menyebabkan pendangkalan makna muatan lokal itu sendiri.

Pengembangan diri

Dalam struktur kurikulum pengembangan diri dikemas dalam Program Bimbingan Konseling dan ektrakurikuler. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.

Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik.

Kajian dilapangan menunjukkan bahwa Implementsi Pengembangan diri pelaksanaannya masih parsial, dan belum terintegrited dengan program Intra. Untuk terpadunya kegiatan pengembangan diri, maka perlu disusun Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Pengembangan diri peserta didik.

Ujian Nasional

Kenapa ujian nasional itu terbatas kepada empat mata pelajaran saja, padahal seseorang yang pandai akuntansi atau agama misalnya dia bisa berkiprah di masyarakat . Hanya disebabkan tidak lulus ujian bahasa Indonesia atau matematika, atau bahkan bahasa Inggris dia harus menelan pil pahit karena tidak lulus ujian Nasional.

Loading...