Cinta atau Kasihan dan Cinta Karena Kasihan

Cinta dan Kasihan

Menulis tentang cinta memang selalu menarik. Di dalamnya ada sesuatu yang tak bisa diurai dengan rangkaian huruf dan kata. Definisi cinta jauh melampaui definisi dari definisi itu sendiri. Pengertian cinta tak seluas dari pengertian dari pengertian itu sendiri.

Cinta memang tak sesederhana opini, dan kita hanya bisa melihat tanda-tanda yang dialami para pecinta. Jangan salahkan orang yang mencintai Rasul saw lalu bersholawat kepadanya dengan memutar-mutar sorban di atas kepalanya, lari, lompat-lompat. Sesungguhnya mereka tidak bid’ah, hanya kita yang tidak mampu mendefinisikan cinta mereka.

Dalam opini saya mengenai cinta menurut Islam, ada kesulitan menyebut makna cinta yang sebenarnya. Secara ringkas cinta itu berasa dari sesuatu yang kecil, tumbuh menjadi besar. Cinta berasal dari relung hati yang dalam, dan cinta mewakili rasa yang meluap. (Baca; cinta menurut Islam)

Cinta atau Kasihan?

Cinta dan kasihan, dua kondisi perasaan yang memiliki persamaan. Cinta adalah rasa, kasihan juga demikian. Di dalam cinta ada empati bahkan lebih luas dari sekedar empati, dan kasihan juga demikian. Cinta memunculkan usaha berbuat kepada yang dicintai, kasihan juga demikian.

Ada perbedaan mendasar antara mencintai dan mengasihani. Untuk mempermudah, cukup dengan menjawab pertanyaan ini, “aku mencintaimu karena, dan aku kasihan kepadamu karena?”

Pertama; orang yang mencintai akan memperlakukan yang dicintainya secara lebih istimewa secara keseluruhan. Beda dengan kasihan. Kasihan akan memperlakukan hal yang dikasihani secara istimewa pada hal yang dikasihani, bukan secara keseluruhan.

Misalnya, pria yang baik akan memperlakukan wanita dengan baik pula. Dia akan memberi perlakuan istimwea seseorang yang dicintainya. Kalau dia kasihan karena wanita itu sakit, maka dia akan memperlakukan istimewa kepada sakit wanita itu, bukan wanita secara keseluruhan. Saat sakit sudah hilang, perlakuan istimewa juga akan hilang.

Kedua; orang yang mencintai akan berusaha dekat dengan orang-orang yang dekat dengan yang dicintai. Misal kamu mencintai Beddu, Beddu dekat dengan Beddummussu, maka kamu juga akan berusaha dekat dengan Beddummussu.

Rasa kasihan justeru sebaliknya. Kasihan tak peduli dengan siapa yang berada di dekatnya, dan tak peduli apa manfaat orang yang berada di dekatnya, karena orientasinya memang bukan totalitas objek yang dicintai tapi hanya pada bagian tertentu saja.

Ketiga; orang yang mencintai akan membagikan rahasia dari perjalanan hidupnya kepada orang yang dicintainya. Saat orang mencinta memberikan ruang hatinya khusus kepada yang dicintai, maka dia akan mempersilakan orang itu mengetahui lebih banyak hal tentang dirinya.

Berbeda dengan kasihan. Kasihan justeru sebaliknya, orang yang merasa kasihan yang akan berusaha mengetahui segala hal yang penting terkait hal yang membuatnya kasihan. Misal kasihan karena sakit, maka akan berusaha mengetahui apa saja hal yang membuat dia sakit, dan hal yang bisa membuatnya sembuh.

Keempat, orang yang mencintai akan mengorbankan hal penting untuk orang yang dicintainya, karena cinta memang butuh pengorbanan, dan cinta sejati itu dibuktikan dengan pengorbanan.

Berbeda dengan rasa kasihan. Orang yang kasihan tidak akan berkorban kecuali terkait hal yang dikasihaninya saja. Dalam contoh yang sama, kasihan karena sakit, maka pengorbanan mungkin hanya terkait penyakitnya saja.

Kelima; cinta memastikan ada rasa cemburunya di dalamnya. Rasa cemburu itu diperlihatkan atau tidak, rasa itu tetap ada. Berbeda dengan kasihan. Kasihan tidak menimbulkan rasa cemburu. Rasa sebatas kasihan, tidak akan menimbulkan rasa cemburu saat yang kamu cintai dekat dengan yang lain.

Kasihan Lebih Dominan dari Cinta

Dalam kehidupan sehari-hari, ternyata kasihan lebih dominan dari rasa cinta, apalagi kalau dalam hubungan suami isteri, atau ibu dan anak. Rasa cinta dianggap sudah melekat sehingga tak perlu diungkit lagi, kini kasihan datang dan mendominasi.

Opini Terkait
1 daripada 36

Mari kita lihat dalam contoh kecil. Anda punya anak. Anak itu suka makan permen dan Anda tahu kalau permen bagi anak memiliki bahaya terutama bahaya terhadap gigi dan penceranaan. Saat melarang anak itu makan permen, dia akan menangis. Karena kasihan hati Anda luluh. “Ya sudah berikan saja. Kasihan dia.”

Bedakan kalau Anda mencintai anak itu. Anak suka permen yang kita tahu bahayanya, tapi karena kita mencintainya, tangis sang anak tidak menggoyahkan rasa cinta kita untuk totalitas kebaikannya. Anak hanya sakit dan nangis sesaat, tapi dia terhindar dari bahaya permen yang berkepanjangan.

Mencintai Karena Kasihan

Banyak cinta lahir dari rasa kasihan. Awalnya tak ada rasa, lalu terjebak dalam rasa kasihan, lahir kedekatan, kedekatan itulah yang membawanya ke rasa yang diklaim sebagai cinta.

Lebih menarik lagi, banyak hubungan lahir karena kasihan bahkan bukan kasihan kepada yang dicintainya tapi orang dekat dengannya. Mencintai karena kasihan kepada orang tuanya? Banyak bukan!

Saya pernah melihat seorang pria dalam kisah nyata 13 tahun lalu. Dia sangat menyukai seorang wanita cantik yang sayangnya rasa itu bertepuk sebelah tangan. Yah, sama sekali wanita itu tidak memperlihatkan rasa suka terhadap pria itu.

Suatu hari dengan memberanikan diri, pria itu mengungkapkan rasanya dengan untaian kata bak penggila rasa, teratur dan puitis. Sudah diduga, kalimat puitisnya tak mempan. Fix, ditolak!

Pria itu galau tapi tak berputus asa, dia tunjukan kepeduliannya, dia pelihatkan perhatiannya, dia persembahkan semua yang dimiliki untuk orang yang dicintainya. Hasilnya tetap sama, ditolak!

Hingga suatu hari, saat pulang dari kampus teman saya melakukan hal nekat. Melihat sosok yang dicintainya jalan sendiri di trotoar yang ramai kendaraan, dia mendekat dan berkata, “Tolong terima rasa ini, kalau tidak saya akan membuka baju dan push up di tengah jalan raya biar semua melihat inilah aku yang tak punya malu terhadapmu!”

Ancaman itu tidak menghasilkan apa-apa, sang pujaan tetap berjalan tak peduli. Seakan ingin berkata, saya tetap pada pendirian ku, lakukan apa yang ingin kamu lakukan, saya tetap tidak menyukaimu. Tragis!

Tanpa pikir panjang, pria itu mengambil posisi di tengah jalan ramai 10 meter tepat di depan wanita pujaannya yang kokoh tidak menyukainya. Pria itu push up, dan bukan hanya itu dia juga membuka bajunya sambil berteriak, “Jika kamu berubah pikiran ulurkan tanganmu.”

Jalan jadi ramai, semua mata tertuju padanya. Ada yang memaki karena membuat macet. Ada yang berteriak karena mengganggu perjalanan. Tapi pria itu tak peduli. Air matanya menetes menanggung malu. Semua karena dia mencintai wanita itu. Nekat!

Akhirnya, rasa kasihan wanita itu muncul. Hatinya luluh melihat seorang pria membuang malu dengan tetesan air mata di hadapan banyak mata yang mencibir. Rasa kasihan yang membungkam penolakannya terhadap pria itu. Dengan rasa kasihan itu dia mengulurkan tangannya.

Tangan bersambut sebagai tanda kalau rasa cintanya diterima. Andai film India, mungkin mereka sudah menari gembira. Atau andai film Indonesia, film akan terpotong dengan iklan. Mereka menikah, naik haji bersama dan memiliki anak kemudian. Sayangnya mereka berpisah, entah karena sebab apa.

Cinta atau Kasihan
Ilustrasi

Ada banyak kisah cinta karena kasihan, karena memang rasa cinta paling mudah muncul karena rasa kasihan. Mungkin para pembaca pernah melihat kisah yang sama, atau mungkin mengalami kisah mencintai karena kasihan saat ini.

Bolehkah mencintai karena rasa kasihan? Kenapa tidak, hanya saja rasa kasihan itu harus dihilangkan ketika sudah hidup bersama. Caranya, perhatikan lima poin di bagian atas artikel ini.

Loading...