Cinta Bantalia Berakhir di Bandara

Kisah Kerugian Pacaran

Kisah cinta Bantalia yang berakhir di bandara ini berdasarkan kisah nyata yang nama dan pemerannya saya ganti. Terjadi 20 tahun yang lalu. Keduanya teman saya.

Bantalia lahir di atas bantal, adiknya bernama Rosbanwati, lahir di atas rosban hehe. Seorang wanita lincah cerdas, dan menarik perhatian. Konon orang tuanya memberi nama keduanya berdasarkan tempat pertama kali dia tergeletak ketika keluar dari rahim ibunya.

Di Kelas, Bantalia disukai semua teman-temannya, laki-laki dan wanita. Suka menolong, periang, dan ramah, sisi lain dia juara kelas. Hanya satu sainganya seorang laki-laki yang sifatnya mirip Bantalia.

Andi’ Logo, siswa satu kelas dengan Bantalia. Dia sudah lama menaruh perasaan kuch-kuch kepadanya. Maklum masih usia SMP, sehingga belom tahu cara menyampaikan perasaan itu kepada pujaan hatinya. Belum waktunya….

Sebenarnya Bantalia juga memiliki perasaan yang sama. Namun sebagai perempuan, tentu rasa malu lebih menguasai. Terkadang hanya lirikan sesekali kepada sosok ramping tinggi semampai dengan wajah putih Andi saat masuk kelas, saat di kantin, atau di mana saja ada kesempatan melirik.

Tiga tahun mereka satu sekolah. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Hari itu sehabis acara penamatan sekolah, dan keduanya dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan. Rasa bahagia diwakili untaian tetes air mata haru. Namun bagi Andi, rasa sedih menyelimuti hati dan perasaanya.

Ada sesuatu yang belum kesampaian disaat mereka harus berpisah sekolah. Orang tua Andi berendana menyekolahkan anaknya di kota. Beda dengan Bantalia. Mungkin, bangku SMP adalah bangku sekolah terakhirnya.

Tekad besar tiba-tiba muncul. Ya.. “saya harus menyampaikan perasaan saya hari ini”. Gumamnya.

Siang, dibawah terik dekat pohon mangga depan sekolah. Andi memberanikan diri memanggil Bantalia.

“Maaf aku mengganggumu dik, ada sesuatu yang saya ingin sampaian”. Terbata-bata Andi memulai.

Bantalia diam membisu tak mampu menatap ke depan apalagi menjawab. Perasaannya seakan berbisik, kalau Andi ingin menyampaikan sesuatu yang ada dalam perasaannya juga. Hatinya berbunga, sampai tak mampu mendengar kata-kata sosok pujaan hati selanjutnya.

“Cinta” ungkapan nekat Andi tak bertepuk sebelah tangan meski jawaban Bantalia hanya diam tertunduk dengan rona wajah memerah.

Siang itu Andi begitu gembira. Dia pulang dengan kepuasan lebih dari temannya yang lain.

Bantalia?. Sama…. Meski dia tahu, kalau besok dia tidak akan melihat Andi lagi karena akan melanjutkan sekolahnya di luar daerah yang jauh, tapi Bantalia punya keyakinan, pasti masih bertemu. Pikiran “kalau jodoh tak akan kemana” entah datangnya darimana sehingga muncul di benak perempuan seusianya.

Masih pagi buta, suara dering sms membangunkan Bantalia.

“Maaf dik, kk harus berangkat lebih cepat dari yang direncanakan. Jaga perasaan adik baik-baik. Jika cita-cita menjadi kenyataan, suatu saat kk akan kembali. Saya janji, dan pertahankan janji saya ini”.

Bantalia  tidak mampu menahan kesedihannya membaca sms itu. “Jaga diri baik-baik kk”. Jemari lentik Bantalia hanya bisa membalas singkat.

***

10 tahun berlalu. Tak pernah ketemu, namun Bantalia masih bisa tersenyum dengan sms dari Andi yang datang hampir tiap hari. Sapaan template, “apa kabar”, dll.

Namun, hari itu Bantalia mulai gusar. Seharian tak ada kabar dari Andi…. “Ada apa gerangan?, apa dia berpaling ke yang lain?”. Pertanyaan yang memenuhi kepala Bantalia…. Jam 12 tengah malam baru bisa tertidur dengan harap cemas, semoga besok sudah ada kabar dari Andi.

Keesokan harinya, Lusa, seminggu, setahun, sms Andi tak kunjung datang. Sialnya, nomor handphone Andi juga tidak bisa dihubungi. Sedih…

Bantalia mulai gusar, kawatir dan sedih. Apalagi atas nama kesetiaan, semua laki-laki yang mendekat ditolak Bantalia, termasuk keinginan orang tuanya untuk menikahkan dengan kerabatnya yang sudah mapan. Penolakan keras Bantalia itu membuat orangtuanya jatuh sakit.

Sudah setahun lebih tak ada kabar dari Andi pujaan hatinya. Badan sontak menjadi kurus. Makan tidak lagi menjadi kebutuhan. Foto Andi yang dismbunyikan di bawah lipatan bantal, seakan tak mampu menghilangkan rindu yang terbalut cemas.

Opini Terkait
1 daripada 28

Hingga suatu sore… Nita Sepupu Andi yang sahabatnya, datang dengan nafas memburu menghentikannya aktifitas Bantalia di halaman rumah.

“Lia, tadi ada telepon katanya dari Andi tapi suaranya beda. Dia mau pulang lusa. Dia juga minta tolong agar aku menemani kamu ke bandara menjemputnya.”

“Iya tapi aku harus bagaiamana? Nanti orangtua ku tahu. Alasanku apa?”

“Ya sudah biar aku yang memberitahu ayah ibumu, entah dengan alasan apa. Pokoknya kamu siap-siap saja.” Kta Nita meyakinkan

Tak sabar menunggu detak jam seakan lambat satu satu menuju lusa. Keesokan harinya Bantalia segera ke salon.

“Aku harus tampil sempurna besok di depannya”. Katanya dalam hati.

cinta bantalia berakhir di bandara
Ilustrasi sumber brilio.net

Lusa subuh tepatnya hari kamis, Bantalia terbangun. Mandi, bersolek, dan memakai pakaian terbarunya. Bolak-balik dia ke depan cermin, takut ada cela di hadapan pujaan hatinya setelah sekian tahun tak bertemu.

Jam 9 pagi bersama Nita Bantalia sudah sampai di bandara. Meski jadwal kedatangan pesawat masih 2 jam lagi, Bantalia tak peduli.

Begitu terdengar info pesawat akan mendarat, segera ia ke ruang tunggu penjemput. Susah, sekuat tenaga dia menerobos ke depan, menembus barikade antrian penjemput lain. Satu-demi satu penumpang keluar, namun sosok Andi tak kelihatan.

“Apa dia sudah berubah total, sehingga aku tidak mampu mengenalnya?”, bisik Bantalia lirih.

“Iya nih, nomor HP nya juga kok tak aktif. Atau mungkin dia ingin membuat kejutan.” Ujar Nita menghiburku.

Jam sudah menujukan pukul 15.00 menjelang Ashar. Lesu Bantalia duduk di kursi berdebu bandara. Harapannya tampil sempurna seakan tinggal harapan…. Sampai beberapa menit kemudian, pundaknya dipegang seseorang. Bantalia menoleh kaget….

“Dah lama menunggu eke yah?. Kata orang yang mengagetkannya.

“Anda siapa?. Cowok pa cewek?”

“Iiiih, masa gitChu sehhhh… Ni ekke, Antiiii… Cewek doungg. Nih teman kamu, teman sekolah dulu. Kok lyupa steh. Ihh sebbel deh.”

Bantalia hanya bisa memicingkan mata berusaha mengenal siapa orang itu. Sama sekali tak ada gambaran sedikitpun.

“Dulu namaku Andi Logo. Sekarang Anti Lugiana…Iiiih bejemana seh…”

Pandangan Bantalia hitam, pekat… Dia tak sadarkan diri.

***

Ilustrasi dalam bentuk cerita di atas, hanya gambaran sedikit dari kerugian pacaran. Pacaran Bantalia dan Andi tergolong masih beradab, namun masih saja ada peluang untuk sakit hati… Pacaran tak ada jaminan hidup bersama, tapi menjamin kedekatan terhadap zina. Pacaran tidak jelas masa depannya, tapi jelas mungkarnya.

Baca: Kerugian pacaran

Manfaat pacaran setelah menikah

Semoga menjadi inspirasi dan bacaan penyadaran buat anak muda dan orang tua yang punya anak…

 

Loading...