Debat vs Strategi Politik; Cerita Fiksi

Disaksikan warga sekitar, terjadi debat sengit tanpa kisi-kisi antara pak Ojol dan pak Soleh di warung Kopi La Cannuku. Keduanya kebetulan menjadi calon kepala desa setempat. Pak Ojol kebetulan masih menjabat sebagai kepala desa, statusnya petahana. Pak Soleh statusnya sebagai penantang. Warga berkerumun memberi dukungan ke calon idola mereka. Ada yang bertopang dagu, ada yang menganga, dan adapula yang planga plongo.

Selesai debat, pak Ojol ke belakang tempat para pendukungnya berkumpul sambil berjoget ria. Wajahnya tampak berbinar. Sambil menepuk dada yang kering tak rata, dia sesumbar, “Bagaimana? Mantep to performku dalam debat barusan?”

“Wah, hebat bener Pak, tapi ada sedikit koreksi dari saya…” Sahut Beddu, kepala tim sukes bidang komunikasi.

“Awwahh, koreksi apa lagi. Bukannya ini sudah kita presentasekan dua hari, latihan, capek tau.” Kata pak ojol kaget

“Tadi data-data yang disampaikan Pak Ojol banyak yang kurang valid, tak sesuai data, hoax pak hoax.” Kata pak Beddu sambil menunduk

“Contohnya yang mana?” Ujar pak Ojol

“Tadi bapak kan bilang dalam tiga tahun terakhir tidak pernah lagi terjadi kebakaran hutan bambu. Lha, bukannya bapak sempat poto poto di lokasi kebakaran? Satu lagi pak Ojol, bapak kok menyerang pak Soleh mengenai ratusan hektar sawahnya. Dia kan sewa pak, seperti pak Toke yang Taipan itu, bapak beri ijinnya malah. Khawatirnya besok orang-orang pada tahu soal ini, dan akan jadi blunder buat Bapak…” Cetus pak Beddu bersemangat.

“Halah, gitu aja dipikirin! Eh, tau nggak, yang nonton tadi itu pada malas klarifikasi, verifikasi, tabayyun. Mereka sibuk. Mereka paling suka nulis status doang, nonton atau game. Kalau ada yang permasalahkan, itu urusan pendukung di bawah kasi alasan, serang balik, pokoknya biar rame.” Tangkis pak Ojol santai.

Sekarang kan kesannya pak soleh punya harta gk halal, mafia tanah, serakah, pokoknya buruk. Minimal dia sibuk memberikan penjelasan ke masyarakat. Saya santai aja.” Sambung pak Ojol sambil terkekeh memperlihatkan giginya yang jarang.

“Tapi ya jangan gitulah Pak. Itu namanya Bapak membunuh karakter orang. Bagaimanapun juga, dulu yang membiayai Bapak waktu jadi kepala desa pertama kali kan dia.” Sambung Cukka Ulu di samping pak Beddu.

“Heh, kalian dukung siapa sih, saya atau pak Soleh?” Gertak pak Ojol marah.

Opini Terkait
1 daripada 302

debat

Cerita fiksi yang menarik dan menyiratkan banyak hikmah yang bisa diambil sebagai pelajaran. Saya ingin mengambil pelajaran dari sisi strategi politiknya saja. Terutama dalam konteks komunikasi politik instant, yaitu komunikasi yang tidak membutuhkan pemikiran yang lama saat mengucapkan sesuatu.

Pertama, memahami posisi audiens. Dalam debat di atas, pak Ojol sepertinya sudah paham betul bahwa debat dengan pak Soleh akan disaksikan banyak warga yang jarang berpikir dua kali dalam bertindak. Dia tahu, bahwa warga yang hadir tidak mau ambil pusing, yang utama apa yang mereka lihat dan dengar saat itu.

Pak Ojol mengambil langkah, harus menang dan memojokan lawan lawan debatnya, apapun caranya. Tak peduli data yang digunakan benar atau salah, toh warganya tak memperhatikan itu. Kalau toh mereka temukan manipulasi data, itu urusan belakangan.

Ini menarik dalam strategi politik. Karena terkadang pemilih menentukan pilihan hanya melihat sekilas, dan setelah pilihan mereka tentukan, maka sulit pindah ke lain hati. Banyak orang tidak mau diklaim salah meski yang mereka lakukan salah. Jadi, belakang hari manipulasi data ketahuan, pemilih yang sudah menentukan pilihan akan tetap pada pilihannya, karena tak mau dikatakan salah.

Kedua, strategi menyerang pribadi. Dalam debat dibutuhkan mental yang kuat. Nalar dan logika harus tetap berfungsi dengan baik, makanya ketenangan sangat dibutuhkan. Terkadang orang yang cerdas, pintar, harus keok dalam debat kecil hanya karena tidak tenang. Nah salah satu caranya, serang pribadinya. Pribadi yang dimaksud adalah hal yang melekat secara langsung dengan lawan debat. Misal, fisiknya, istrinya, hartanya, anaknya, dll.

Dalam strategi politik khusunya konteks debat, menyerang pribadi sebenarnya bisa dimainkan tetapi dengan cara yang cerdas, misalnya menanyakan prinsip cinta daerah seseorang dengan mengaitkan penguasaan sawah dan keserakahan. Jadi bukan dengan penyebutan langsung seperti cara pak Ojol. Saya sering melihat trik debat seperti ini dalam debat level tinggi. Debat Capres Amerika misalnya.

Ketiga, memainkan isu. Siapa yang pandai memainkan isu, dialah pemenangnya. Ini rumus dalam strategi politik. Jangan heran, kadang ada isu politik yang cetar membahana, menarik dan mengalihkan perhatian. Tujuannya banyak, minimal membuat lawan letih karena sibuk mengantisipasi isu yang dilontarkan.

Dalam debat, pak Ojol memainkan emosi sekaligus melempar isu baru penguasaan tanah. Kedengaran sepele, tapi isu seperti itu akan berdampak parah jika tidak segera diantisipasi. Cara mematahkan isu ada dua; mencari isu yang sama, karakternya serupa lalu dilempar ke publik. Jadi dalam cerita pak Ojol, jika pak Soleh ingin menyerang balik, dengan mengungkap isu baru, maka juga terkait karakter pak Ojol. Misal, justeru keserakahan ada pada pak Ojol, karena…. dst. Kedua, memaparkan isu tuduhan dengan bahasa lengkap yang paling mudah dipahami. Jadi saat diserang, pak Soleh harus menjelaskan dengan lengkap, bahwa tanahnya begini, sah, halal dan akibat buruknya jika tidak seperti itu. Tapi kembali lagi, itu butuh ketenangan.

Lanjutan cerita fiksi, pak Ojol dan Pak Soleh kemudian, mereka pulang lalu sibuk mempersiapkan strategi masing masing. Di bawah, warga kembali ke kesibukan masing. Sebagian anak muda yang masih punya daya klarifikasi sibuk membeberkan data yang mereka temukan. Kubu pak Ojol mengklaim menang, kubu pak Soleh juga demikian.

La Cannuku sebagai fasilitator debat tak peduli. Dia senyum sumringah, warkopnya jadi ramai. Banyak warga sambil nonton minum kopi. “Saya tak memilih, malas ambil KTP el.” Katanya dalam hati.

Komentar
Loading...