Demo Adalah …

Demonstrasi adalah

Demonstrasi atau disingkat demo adalah penyampaian aspirasi di depan umum sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah. Dari pengertian demo ini dipahami bahwa ada penyampaian aspirasi tapi bukan di depan umum. Misal, saya kenal dengan pejabat, dekat sekali. Saya sms dia, “Hei kebijakan mu itu tolong pikir dulu, ini begini begitu… dst.” Saya menyampaikan itu bukan di depan umum dan tak perlu ada orang yang tahu. Namun, tentu tak semua orang bisa menyampaikan aspiras seperti itu. Apalagi, penyampaian aspirasi di depan umum memiliki efek yang lebih terasa di banding tertutup.

Demo Anarkis

Demo kok anarkis, bakar ban segala, bahkan ada yang melempar, merusak, dll? Kenapa sih tidak melakukan aksi demo tanpa merusak. Damai saja, adem, kan enak…

Begini, saya tak sepenuhnya menyalahkan aksi demo anarkis seperti itu. Secara materil memang terlihat rugi, tapi mari kita mencoba menelisik lebih jauh alasan kenapa harus seperti itu. Terkadang pejabat terlelap keenakan di atas kursi jabatan yang empuk sehingga lupa diri. Tidurnya sungguh nyenyak sekali. Untuk membangunkan orang tidur lelap, ngorok lagi, kadang kita harus menggunakan cara-cara ekstrim sampai anarkis. Siram dia air. Eh masih belum bangun? Nyalakan korek depan hidungnya sampai dia bangun dan sadar.

Contoh ilustrasi sederhana. Pernah terjadi kebakaran hebat, dan diketahui di dalam salah satu rumah masih ada orang terlelap ketiduran tak sadar, kalau api sudah melahap rumahnya. Bagaimana menyelamatkannya, bangunkan dia. Jangan dengan cara halus karena diburu waktu. Anarkis tak apa-apa, meski akan rugi materil. Namun demi keselamatannya, lakukan!

Nah, perlukah demo anarkis? Tergantung, apakah pejabat sebagai objek menyampaikan aspirasi itu terlelap atau tidak! Saat aspirasi diam-diam sudah tidak mempan lagi. Demo masak sudah tak digubris lagi, long march diabaikan, maka perlu cara-cara ekstrim agar pejabat bangun dari lelapnya. Ini penting dipahami masyarakat umum, agar tak mudah mengorbankan dan menyalahkan para pendemo. Oke? Fix sampai di sini.

Siapa yang Layak Berdemo

Siapa saja yang pantas melakukan demonstrasi? Siapa saja. Orang tua, nenek-nenek, kakek-kakek, jomblo, semua bisa kecuali anak-anak. Hanya saja mahasiswa sebagai masyarakat sosial posisinya di tengah. Mahasiswa masih belajar, mahasiswa juga berada di gerbang kenyataan susahnya kehidupan. Mahasiswa bukan anak-anak lagi, tapi mahasiswa juga kebanyakan masih bergantung pada orangtua. Mahasiswa seabgai warga negara penikmat kebijakan, mahasiswa juga yang menelaah setiap kebijakan. Yah, mahasiswa itu agen perubahan, dan sebagai kontrol sosial.

Orang tua tidak punya waktu menelaah kebijakan secara teoritik apakah kebijakan itu betul apa salah. Mereka sibuk dan menghabiskan waktu mencari uang dan sebongkah berlian untuk biaya anaknya sebagai mahasiswa. Kalau ada kebijakan mengancam dan merugikan orang tua, kemungkinan para orang tua tidak tahu, masa sebagai anak membiarkan hal itu?

Contoh ni; Anda mahasiswa, orang tua petani. Hasil tani alhamdulillah cukup untuk biaya kuliah meski ngos-ngosan. Nah tiba-tiba muncul kebijakan impor beras. Sebagai mahasiswa, telaah kebijakan itu. Jika impor beras tidak efektif dan efisien, akan membuat beras lokal menjadi murah bahkan tidak laku. Imbasnya para petani, termasuk orang tua Anda, hasil pertanian akan dibawa kemana. Dijual murah, akhirnya tak cukup membiayai kuliah Anda. Olehnya itu, kritisi kebijakan itu pribadi maupun di depan umum. Eh pemangku kebijakan tak mendengar, bangunkan dia!

Mungkin kita terkadang merenung, kok bisa ya ada kebijakan yang merugikan masyarakat sendiri?

Pejabat itu manusia bukan malaikat. Manusia punya musuh iblis yang punya legalitas menggoda manusia, apalagi jika sudah berada di zona nyaman. Dengan menggunakan contoh di atas, bisa dibayangkan jika harga beras lokal 10 ribu per kg, sedangkan impor hanya 7 ribu per kg, ada selisih harga 3 ribu rupiah per kg. coba kalikan jika impor berasnya 1 juta ton. 1 juta ton = 907.184.740 kg x 3.000 = 2.721.554.220.000. Dua Triliun lebih, dan petani menangis…

Namun tak semua seperti itu, terkadang juga suatu kebijakan lahir dari ketidakpahaman, ikut trend, atau menyenangkan atasan. Ada banyak kebijakan diputus berdasakan penerapan kebijakan di luar negeri. Padahal, bisa saja suatu kebijakan cocok di luar tapi tak cocok di negeri ini.

Jadi, kalau ada orang tua yang tidak suka demo, maka ada beberapa kemungkinan; dia tidak mengerti implikasi dari demonstrasi, dia tidak paham apa akibat suatu kebijakan, atau orang tua maunya tahu apa yang dirasakan sekarang saja. Ada pula orang tua tak suka demo karena ketakutan. “nanti rumahku kena batu. Nanti anak ku ikut demo ada apa-apa. Nanti nanti…’ Ketakutan dari perkiraan yang belum pasti.

Demo adalah
Ilustrasi
Opini Terkait
1 daripada 126

Cara Melakukan Demo

Sekarang mari kita lihat bagaimana cara demonstrasi yang benar. “Iyya ya, demo itu penting ternyata. Mau ikut demo ah.” Tunggu dulu, mari kita pahami cara demonstrasi yang benar.

Petama, pahami apa yang akan Anda demo. Demonstrasi itu bukan ajang ramai-ramai gegap gempita loh jenawi. Demo itu jangan ikut-ikutan, karena manusia itu mudah terprovokasi. Alih-alih ingin membela dan menyampaikan aspirasi dan kritisi, ternyata dikerjain oleh provokator di balik layar. Pahami baik-baik apa yang akan Anda demo. Kebijakan? Kebijakan apa? Kebijakan itu implikasinya apa, manfaat mudharatnya apa?

Bolehlah mempercayakan hal itu kepada orang atau lembaga yang dipercaya, tapi ini pun harus penuh dengan kehati-hatian. Misalnya, Anda angota organisasi yang dipercaya. Organisasi memutuskan ada kebijakan yang salah dan harus dikritisi dengan demonstrasi, Anda ikut, tak masalah.

Ini penting karena ada banyak orang bermain untuk lahirnya sebuah kebijakan yang menguntungkan bisnisnya secara pribadi. Dalam kasus RKUHP yang lagi marak misalnya, mesti kita pahami dulu, RKUHP yang mana yang tidak disepakati? Jangan sampai, ada beberapa poin yang sebanarnya sudah benar, tapi Anda mengeneralisir keseluruhan. Akhirnya yang benar juga berubah.

Kedua, sampaikan aspirasi kepada objek yang tepat. Ini juga banyak terjadi. Misalnya saat pemilu kemaren. Saat KPU melakukan sesuatu sesuai regulasi, eh yang didemo KPU, padahal mestinya regulasinya yang dikritisi. Objeknya pembuat regulasi dalam hal ini DPR.

Itulah sebabnya yang paling tepat melakukan demonstrasi adalah mahasiswa, karena mereka punya waktu mencari apa dan siapa dalang dari sebuah kebijakan sehingga demonstrasi yang dilakukan tepat saaran terhadap objek yang didemo.

Ketiga, saat mulai bergerak, luruskan niatnya. Niat terbaik adalah untuk kebaikan karena kebaikan hasilnya pasti baik pula. Pendemo saya patikan niatnya beragam. Ada murni menyampaikan aspirasi seperti yang sudah saya ulas di atas. Namun tak sedikit pendemo niatnya bukan seperti itu. Niat demo bisa dilihat dari apa yang dilakukan peserta demo saat melakukan aksinya.

Saya pernah menemukan peserta aksi ikut demonstrasi karena diajak pacarnya. Lebih nyentrik lagi, ada peserta aksi tujuannya hanya untuk selfie agar dianggap eksis. “lihat nih lagi demo.”

Keempat, jaga persatuan saat demo dan jangan bercerai berai. Semakin kuat persatuan peserta aksi, maka semakin kuat penyampaian aspirasinya. Saya memiliki prinsip, lebih baik ikut aksi demo puluhan orang asal persatuannya bagus, dibanding 100 orang tapi tidak kokoh.

Itulah sebabnya, sebelum demonstrasi ada breafing untuk memastikan beberapa hal termasuk kekawatiran peserta aksi bercerai berai. Biasanya setiap peserta diberikan penanda untuk menghindari provokasi dan orang tak dikenal masuk dalam barisan.

Barisan aksi demo yang kokoh kelihatan kentara dan berbeda dengan kelompok lain. Mereka taat satu komando postulat. Komando mengatakan “setuju” barisan mengatakan hal yang sama. Komando menatakan lempar, semua melempar. Satu ditangkap, ditangkap semua, satu makan, makan semua. Mereka kuat.

Kelima. Tempatkan wanita terutama yang bisa berkomunikasi di bagian depan. Konflik yang biasa terjadi antara peserta demo dengan aparat akan terjadi jika terjadi kesalahpahaman, atau komunikasi yang tidak ada titik temu. Di sinilah peran wanita. Wanita yang mampu berkomunikasi dengan baik akan membuat siapa saja luluh, termasuk aparat. Saat terjadi crase berikan tempat wanita itu untuk mengkomunikasikannya terlebih dahulu.

“Pak saya melempar pak ya… jangan marah, 10 menit saja.” Saya pernah menemukan aksi demo seperti ini, dan aparat hanya senyum-senyum saja melihat cara wanita hebat itu berkomunikasi.

Saya harus garis bawahi, jadikan tindakan demonstrasi dalam bentuk membangunkan orang tidur sebagai pilihan terakhir. Kita punya akal untuk memilih banyak alternatif yang tepat untuk menyampaikan aspirasi di depan umum. Karena demo tak wajib anarkis.

Oke, manteman, pabapa, buibu, saya kira sampai di sini pemaparan saya terkait demo. Jika Anda tertarik dengan demo, lakukanlah dengan baik. Negara menjamin kebebasan menyampaikan pendapat kok… sampaikan tertutup atau terbuka, di belakang umum atau di depan umum.

Loading...