Dzikir Lisan, Hati dan Sirr

Dzikir Lisan, Hati dan Sirr

Memahami dzikir tak lepas dari pengertian dzikir menurut bahasa. Dzikir menurut bahasa berarti menyebut, dan mengingat. Artinya, aktifitas dzikir tak lepas dari penyebutan dan mengingat. Hanya saja, bagaimana cara menyebut dan bagaimana cara mengingat, ulama berbeda-beda. Menyebut nama yang Maha Kuasa dan mengingatnya sudah termasuk berdzikir. (Baca: mekanisme Dzikir)

Dzikir kemudian definisikan berbeda dari pengertian tadi. Misalnya dzikir dianggap sebagai cara melepaskan diri dari kelalaian dengan selalu menghadirkan al-Haq dalam hati. Cara menghadirkan al-Haq dalam hati tentu tak sekedar menyebut nama secara berulang. Dibutuhkan pemahaman mendalam agar dzikir dilakukan dengan baik.

Olehnya itu, banyak ulama mengajarkan dzikir melalui sarana dan perbuatan tertentu seperti membaca, mengingat, bersyair, menyanyi, ceramah, dan bercerita. Maka, dengan pemahaman seperti ini, mereka yang berbicara tentang kebenaran Allah, atau yang merenungkan keagungan, kemuliaan, dan tanda-tanda kekuasaan-Nya di langit dan di bumi, maka secara tidak langsung mereka melakukan dzikir.

Banyak ulama juga mengajarkan dzikir bukan sekedar teori dan praktik tapi lebih jauh menggunakan washilah atau perantara, misalnya dengan ulama, sosok yang lebih dahulu dekat dan memahami kedekatannya dengan Allah. Kedekatan terhadap ulama yang akan memunculkan stimulus baru dalam hati dan perasaan orang yang berdzikir, meski tanpa mempelajari cara berdzikir sebelumnya.

Dzikir tahap pertama ada pada lisan. Dzikir seperti ini adalah cara berdzikir orang awam. Bentuknya mengulang ulang menyebut nama Allah atau sifatNya. Lebih lanjut dzikir dengan hati. Dzikir dengan hati adalah menyebut nama al-Haq dalam hati. Ketiga, menghadirkan dzikir dalam sirr.

Sirr bermakna rahasia. Karena sirr adalah rahasia antara hamba dengan Tuhannya secara individu, maka pembahasan mengenai hal ini sangat subjektif. Lebih jauh, karena sifatnya rahasia maka membahasakan apa yang dialami hanya sebatas berusaha memberikan pemaknaan yang paling dekat dengan hal itu.

Opini Terkait
1 daripada 92

Perbedaan dzikir lisan hati dan sirr secara detil sebagai berikut; berdzikir dengan ungkapan kata-kata tanpa rasa hudhur disebut dzikir lisan, berdzikir dengan merasakan kehadiran kalbu bersama Allah disebut dzikir kalbu, sementara berdzikir tanpa menyadari kehadiran segala sesuatu selain Allah disebut dzikir sirr. Itulah yang disebut dengan dzikir khafiy. Seperti halnya arti khafiy, dzikir sirr akan membuat pelaku dzikir merasa ringan.

Bagaimana tanda dzikir sudah sampai pada tahap dzikir hati? Saat pe-dzikir dan objek dzikirnya lenyap tersembunyi, tenggelam di dalamnya, bukan lagi lisan dan hati, maka dzikir sirr terwujud. Tandanya, dzikir itu melekat. Dzikir tak lepas dari pe-dzikir. Artinya, di mana pun berada, selalu dalam kondisi berdzikir.

Dzikir tersebut masuk ke dalam diri untuk menyadarkan dari kondisi tidak sadar kepada kondisi hudhur (hadirnya kalbu). Salah satu tandanya, dzikir itu akan menarik kepala dan seluruh organ tubuh sehingga seolah-olah tertarik oleh rantai. Indikasinya, dzikir tersebut tak pernah padam dan cahayanya tak pernah redup. Tetapi, pe-dzikir akan menyaksikan cahaya dirinya selalu naik turun, sementara api yang ada di sekitarmu senantiasa bersih menyala.

Dzikir dalam sirr terwujud dalam bentuk diamnya si pe-dzikir seolah-olah lisannya tertusuk jarum. Atau, semua wajahnya adalah lisan yang sedang berdzikir dengan cahaya yang mengalir darinya.1Pemahaman dzikir semacam ini seperti yang diungkapkan syekh Ibnu Atha’illah. Namanya lengkapnya adalah Taj al-Din Abu’l Fadl Ahmad ibn Muhammad ibn ‘Abd al-Karim ibn Atha ‘illah al-Iskandari al-Syadzili adalah tokoh Tarekat Syadziliyah. Ia lahir di Iskandariah (Mesir) pada 648 H/1250 M, dan meninggal di Kairo pada 1309 M. Julukan Al-Iskandari atau As-Sakandari merujuk kota kelahirannya itu

Sebagaimana jasmani yang butuh makanan, makanan rohani adalah dzikir. Wujud rezeki lahir adalah gerakan badan. Rezeki batin dengan gerakan hati. Dan rezeki hati ada pada diam. Diam yang bukan tanpa aktifitas. Tapi diam karena ketenangan seorang hamba dengan Tuhannya.

Dzikir lisan

Semua makhluk yang mendengar dzikir sirr sebenarnya juga ikut berdzikir. Sebab, berdzikir dengan lisan, pada saat yang sama semua benda mati akan berdzikir. Berdzikir dengan kalbu, pada saat yang sama alam beserta isinya ikut berdzikir bersama kalbu pelaku dzikir. Berdzikir dalam sirr, pada saat yang sama seluruh langit beserta isinya juga turut berdzikir.

Loading...