Hari Santri Membungkam Orang yang Merendahkan Pelaku Keagamaan

  • Bagikan

“Aga dijama jama tu?” (Kegiatannya apa sekarang?)

“Dee, anak pangaji ma kasi’”. (Tidak kok, saya HANYA santri KASIAN)

Kalimat percakapan ini, dulu sering saya dengar saat mondok. Ada unsur kesengajaan memperdengarkan kalimat ini. Kata “hanya” dan “kasian”, jelas mengandung makna merendahkan. Seakan, santri itu tak bisa berbuat apa apa, sehingga harus dikasihani.

Datang dari jauh, tinggal di kolong rumah orang, makan elit waktu itu hanya nasi, ikan kering plus Bajabu’. Terkadang kami dipanggil untuk acara keagamaan, ma barsanji, ma panre temme’, pa temme’ Korang, dan acara lain. Dari situ kadang kami diberi sedekah ala kadarnya.

Aktivitas keseharian seperti itu, secara ringkas disimpulkan bahwa tak ada masa depan akan merasakan kehidupan yang layak dan baik jika menjadi santri. “Paling jadi imam kampung”. Tak heran, jika banyak orang merendahkan santri atau anak pangaji (istilah waktu itu).

Ternyata, sikap merendahkan itu tidak berhenti ditujukan kepada mereka yang masih nyantri, terus berlanjut, dan menyasar semua pelaku dan perilaku keagamaan. Meski mereka bukan lagi santri atau bahkan tidak pernah jadi santri sebelumnya.

Tak sulit menemukan kisah haru imam kampung yang mengampu sesi acara keagamaan tapi tidak mendapat penghargaan yang adil dibanding acara non keagamaan.

Dalam acara pernikahan, mari bandingkan nasib dan penghargaan antara Ustad penceramah dengan artis candoleng doleng. Bandingkan penghargaan antara imam kampung dengan fee juara domino sebagai bagian acara yang sama. Padahal, tanpa acara domino pelaksanaan pernikahan bisa sukses, tapi tanpa imam yang ma pakawing, acara pernikahan itu tak mungkin terlaksana. Meski kehadiran mereka posisinya primer, tapi penghargaan kebanyakan masyarakat, lebih kepada yang sekunder.

Kisah nyata para mantan santri, sebagai pemain inti dalam suatu acara tapi duduk di belakang, dicuekin, dianggap sebagai kasta rendahan, bukan lagi kisah unik. Penulis yakin, semua mantan santri pernah merasakan itu. Tapi bukan santri namanya kalau tak tahan banting. Bukan santri namanya jika tak sabar. Bukan santri namanya kalau tidak bisa menyesuaikan diri.

Saya pernah diundang ke sebuah acara untuk didaulat sebagai pembaca ayat suci Al-Quran. Lokasinya dekat, lebih efektif jika mengendarai sepeda motor. Tapi saya memilih menggunakan mobil. Dalam pikiran saya, jika menggunakan mobil, orang tak memandang enteng, tidak merendahkan, dan tidak tidak yang lain. Saya tahu ini bukan sikap santri tulen, kalau guru saya di pondok tahu isi hati saya, mungkin saya dimarahi karena tak mapan di ilmu ikhlas.

Waktu menjawab! Anggapan banyak orang kalau santri ujungnya jadi imam, jadi ustad, atau penceramah saja, ternyata keliru. Betapa banyak pejabat negara yang merupakan mantan dan bahkan masih nyantri. Aparat TNI-Polri yang pernah nyantri, komisaris BUMN, ASN, pengusaha sukses, hampir semua lini diisi santri.

Setali dua uang, sekali mendayung dua tiga pulau terlampau. Selain melakoni pekerjaan yang jauh hubungannya dengan pesantren, santri memiliki nilai plus. Aparat TNI-Polri sekaligus bisa khotbah, adalah contoh yang banyak terjadi.

Dari sinilah nilai substansi Hari Santi hadir membungkam dengan tegas dan telak sikap merendahkan para santri. Hari Santri hadir seakan membawa pesan, “hai kalian, jangan rendahkan, jangan menyepelekan santri, karena negara memperhatikan mereka!”

Hari Santri memang sifatnya musiman. Setahun sekali. Tapi hari itulah yang akan menjadi pemantik. Kelak, semua hari adalah hari Santri. Semua hari adalah sifat selayaknya santri.

Hari Santri memang masih terkesan formalitas, upacara dan acara lain yang mengekor. Tapi, semangat yang hadir dari semua sesi itu menghadirkan nuansa besar pranata sosial yang menyadarkan banyak orang. “Awas, santri itu tidak sedikit, kalian jangan merendahkan!” Kira-kira begitu pesan tersiratnya.

Pekerjaan rumah terbesar dari Hari Santri adalah mengajak semua orang untuk merayakannya. Negara gamblang memfasilitasi itu. Hari Santri sejatinya dirayakan oleh semua orang. Semua harus turut andil meski cuma setahun sekali. Dengan begitu, semua merasa jadi santri pada hari yang sama. Jika ada dari mereka pernah merendahkan, maka pada hari itu, semua sama.

Selamat Hari Santri Nasional 2021

  • Bagikan