Fenomena Geng dan Mentalitas Geng

Fenomena Geng

Fenomena geng yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia, bukan hanya menjadi tantangan aparat kepolisian, namun sudah meresahkan masyarakat, melecehkan nilai keluhuran dan keagungan agama, sekaligus merusak ikatan kekeluargaan. Fenomena geng adalah cerminan gagalnya pendidikan secara Nasional yang diharapkan mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk akhlak mulia.

Secara kultural, geng adalah sebuah model mentalitas yang meyimpang dari nilai-nilai sosial tapi sekaligus menjadi satu kekuatan yang terbentuk dalam lingkungan sosial. Setiap geng menyandarkan diri pada rasa persaudaraan, kekeluargaan dan solidaritas yang sangat kuat.

Kelompok anonime tersebut justru memiliki kekuatan persaudaraan dan kekeluargaan lebih hangat dibanding lingkungan keluarga para person anggotanya sendiri. Sayangnya, komitmen persaudaraan tersebut, dialihkan dan dibawa cenderung kepada hal-hal negatif dan kejahatan.

Entah belajar dari mana geng ini. Mentalitas geng yang terbentuk bisa saja belajar dari para koruptor yang mulai melakukan kejahatan secara berkelompok sistemik, dan berjamaah.

Opini Terkait
1 daripada 304

Bisa saja mereka belajar dari hakim yang dengan gagah menerima suap ketika toga masih nangkring di kapal. Belajar dari oknum polisi dengan seragam berlambang “memalak” di pinggir jalan. Atau mungkin belajar dari guru yang semestinya ditiru dan digugu tapi menerima uang haram lewat jendela.

Sebenarnya untuk menghapus mentalitas geng dari peradaban, sangat mudah, tetapi membutuhkan niat baik dan ketulusan. Menghadapi fenomena dan mentalitas geng cukup memutus rantai persaudaraan dan kekeluargaan di antara mereka. Dengan demikian tugas masyarakat dalam membantu aparat, adalah menghilangkan mentalitas geng dan bukan memberangus anak-anak geng.

mentalitas-geng“Siapa yang menghilangkan kejahatan dengan memberantas orang yang melakukan kejahatan, maka sebenarnya dia lebih jahat dari orang jahat tersebut.” Ungkapan ini dikatakan seorang tokoh terkenal dari India, Mahatma Ghandi. Untuk itu, menghadapi para geng, entah geng motor atau geng koruptor, maka mesti dicari akar mentalitas geng yang dimaksud. Baik mentalitas khusus san mentalitas umumnya.

Memukul dan menghakimi sendiri seorang geng motor dan membuatnya babak belur adalah salah satu contoh, hanya sedikit membantu menghapus kejahatan geng motor dari sisi efek jera. Tapi tidak menghapus kejahatan permanennya. Akar mentalitasnya adalah solidaritas hangat di antara mereka,hapus dan hilangkan atau mengalihkan mentalitas tersebut ke arah kegiatan positif. Siapa peduli?….

Komentar
Loading...