Fenomena Ustad Google!

Ustad Google

Ustad Google, kalau tidak salah, istilah ini saya dengar dua tahun lalu melalui ceramah. “Hati-hati dengan Ustad Google.” Demikian penceramah berapi-api menyampaikan ini. Semoga google sebagai website raksasa dengan aplikasi andalannya, mesin pencari, tidak marah karena namanya dicatut oleh sang dai.

Pengertian Ustad Google

Waktu berjalan, kepikiran membahas Ustad Google jauh lebih dalam. Menarik, karena istilah Ustad Google kini bercabang dan berkembang. Setidaknya ada dua pengertian Ustad Google versi saya.

Pertama, Ustad Google adalah orang yang belajar, mencari, dan membutuhkan jawaban khusus terkait hukum syariah. Kemudian orang itu tidak mencari sosok guru yang sesuai dengan apa yang dicari, tapi lebih memilih Mbah Google, sang mesin pencari, untuk menemukan kebutuhannya.

Orang seperti ini tak perlu buang waktu, dengan gadget plus jaringan internet, seketika itu dia menemukan guru, menemukan apa yang dicari lalu dibaca, dihapal, kemudian disampaikan kepada jamaah.

Akhirnya orang ini naik pangkat menjadi ustad yang dianggap jago, pintar, dan mampu menjawab pertanyaan dan kebutuhan jemaah terkait masalah-masalah agama. Karena jamaah tak ambil pusing, jawaban yang dia terima bersumber dari mana.

Kedua, Ustad Google adalah ustad yang viral, terkenal di dunia maya, atau terkenal karena internet dan media sosial. Viralitas seorang ustad, terbagi dua. Ada yang viral karena memang ustad yang bersangkutan layak untuk itu. Tapi ada juga yang viral dengan modal kekuatan buzzer.

Ustad yang terkenal di dunia maya menyampaikan sesuatu yang bertanggungjawab, menarik, unik, mudah dicerna, jemaah suka, akhirnya video ceramah itu dishare, disebar. Ustad ini akhirnya terkenal. Terkenal di dunia maya, terkenal di Google.

Sebaliknya, ada juga ustad menyampaikan ceramah sumbernya tak jelas, tidak menarik, bahkan mengandung hoax, tapi terkenal. Ustad seperti ini juga masuk kategori Ustad Google. Ustad yang terkenal di Google.

Kenapa mesti Google?

Andai Google manusia, mungkin dia akan tersinggung namanya dicatut sebagai ustad. Google adalah perusahaan raksasa yang menyediakan beberapa aplikasi berbasis web kepada publik, dan umumnya bisa diakses secara gratis.

Produk andalan Google adalah mesin pencari, Blogspot, dan Youtube. Sebenarnya masih ada puluhan bahkan ratusan produk Google lainnya, tapi terkait Ustad Google, tiga produk ini yang paling berkaitan.

Google menjadi pilihan, karena hari ini dialah mesin pencari yang paling besar di dunia, dengan akurasi pencarian paling tepat dibanding mesin pencari yang lain seperti Bing, Yahoo, Baidu, Yandex, dll.

Saat saya menulis sesuatu di internet, di mana saja, baik melalui produk Google atau bukan, Google sebagai mesin pencari akan merekam, menyimpan data yang saya tulis secara rapi; konten, waktu, bentuk, type, ukuran, font, pokoknya semua dari apa yang saya tulis, disimpan Google dalam raksasa penyimpan datanya.

Misalnya saya menulis status Facebook dengan judul “Beddu yang mendua.” Besoknya, seseorang mencari di browser Google dengan mengetik “Beddu yang mendua di Facebook,” eh tulisan status saya muncul.

Kenapa yang ditemukan sedikit berbeda dari apa yang dicari? Iya karena Google akan menampilkan di tampilan hasil pencarian segala yang terkait dari apa yang dicari.

Ustad Abdul Somad pernah ditanya masalah salat qadha, simpel dia mengatakan cari di Google, dengan kata kunci atau mengetik “salat qadha Abdul Somad.” Akan muncul ratusan bahkan ratusan ribu konten terkait kata kunci itu. Bahkan mungkin saja yang muncul pada halaman pertama, bukan pendapat Abdul Somad.

Selain akurasi, Google dengan varian produknya memanjakan pengguna dengan fitur gratis yang simpel. Sudah gratis, simpel lagi.

Opini Terkait
1 daripada 125

Hari ini, orang sudah tidak lagi belajar agama kepada ulama yang seharusnya kita belajar, para aktifis dakwah sudah tidak merasa perlu lagi jauh-jauh kuliah ke luar negeri. Ada Youtube, ada Duo, ada Android, gratis, simpel dan semua milik Google.

Google secara tidak langsung memaksa pengguna dan masyarakat awam untuk menggunakan produknya, atau setidaknya menyebut namanya. Siapa saja termasuk ustad dan calon ustad.

Bahaya dan Kelemahan Ustad Google

Ada banyak sekali bahaya dan kelemahan Ustad Google, baik orang yang belajar melalui internet maupun ustad yang terkenal di internet;

Pertama, agama itu wajib dijaga originalitas isinya. Itulah sebabnya, Islam sebagai agama mewajibkan sanad yang jelas. Dari sini, yang diambil dari sana, dari sana, sampai ke Rasulullah saw. Ilmu agama dimiliki oleh para ulama, maka seyogyanya, sumber para ustad, langsung dari ulama.

Apakah yang ada di internet tidak original? Bisa jadi original, tapi ada banyak hal yang memengaruhi. Misalnya, saat Ustad Abdul Somad mengatakan cari di Google, ketik “salat qadha”. Orang mencari sayangya hanya menemukan konten lain, bukan yang dikatakan Ustad Abdul Somad. Bisa juga, konten yang ditemukan sudah diedit, dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga tidak origin lagi. Artinya, ada seribu satu macam cara peluang originalitas ajaran agama tereduksi

Kedua, Google sebagai media yang memudahkan publik, sebagiannya juga adalah bisnis. Google memiliki standar tersendiri, sehingga klaim kebenaran akan dipengaruhi oleh sistem itu. Karena Google bukan Ustad, sehingga kebenaran ajaran agama tidak layak dinisbahkan ke Google

Seringkali orang keliru menjadikan Google sebagai tolok ukur kebenaran. Caranya dengan melihat jumlah hasil apa yang ditampilkan Google ketika suatu masalah dicari. Padahal kebenaran itu tidak pernah diukur berdasarkan jumlah suara, sebab kebenaran tidak sama dengan demokrasi.

Sebagai contoh, ada 100 orang menulis di dunia maya bahwa mencuri itu halal, namun hanya ada satu orang yang menulis bahwa mencuri itu haram. Begitu ada orang yang mencari di Google dengan mengetik, “hukum mencuri” maka hasilnya akan muncul konten yang menghukumi bahwa mencuri itu halal.

Ketiga, masalah otoritas pembuat konten. Seorang teroris dengan mudah menipu publik, cukup dengan pakaian, sorban, lalu menyampaikan ceramah tentang jihad, upload di Youtube sesuai versinya. Adakah validasi pembuat kontent terkait ilmu dan apa yang dishare? Internet dalam hal ini Google tidak cukup sempurna sampai di situ.

Contoh lain, saya bukan latar ekonomi. Lalu saya menulis tentang ekonomi di sebuah laman web dengan mengcopy paste tulisan seorang pakar ekonomi handal. Saya publish dengan memerhatikan apa yang disukai dan memenuhi standar pencarian Google.

Walhasil, tulisan saya berada di halaman pertama pencarian, jauh mengalahkan tulisan asli tempat saya plagiat. Bisa? Sangat bisa! Itulah kelemahan sebuah sistem. Sang pakar ekonomi hanya menulis tentang ekonomi dengan hebat. Saya mempublish di internet dengan hebat. Ternyata yang unggul adalah tulisan saya di mata mesin pencari.

Orang membaca tulisan saya, dan menganggap saya hebat. Kemudian saat membaca tulisan pakar ekonomi tadi, publik menuduhnya plagiat. Sadis bukan?

Fenomena Ustad Google juga demikian. Ulama, ustad yang sebenarnya, akan kalah di dunia maya, bisa kalah di mata Google, kalau ulama, ustad sebenarnya tidak memerhatikan hal ini.

Keempat, hilangnya, Ruh al-Mudarris, ruh seorang guru kepada muridnya. Ada banyak ulama yang ilmunya luar biasa. Dengan ilmu yang sedemikian luasnya itu, sayangnya terhalang oleh metode lama.

Bisa saja kita mengambil langkah simpel, tampilkan Ulama, rekam, live, upload di Youtube. Oke. Dari sisi originalitas, otoritas, mungkin terpenuhi, tapi dari sisi ruh pengajar? Jangan anggap enteng tatapan langsung seorang guru, dan jangan anggap enteng sentuhan guru kepada murid, di dalam nya ada berkah.

Simalakama!

Lalu solusi kamu apa? Nantilah, capek ka…

Loading...