Sejarah Terbentuknya FPI; FPI, PAMSWAKARSA dan Balkanisasi

  • Bagikan
sejarah FPI

Menulis tentang sejarah FPI saya jadikan topik aktual akhir-akhir ini di situs saya. Menarik dan memang menggugah perasaan. Waktu terporsir mencari data akurat dan disajikan minimal sebagai data pembanding bagi pembaca. Dan opini saya kali ini akan mengulas sedikit sejarah terbentuknya FPI, kaitan dengan PAMSWAKARSA dan “balkanisasi,” sebagai jawaban kenapa FPI sangat sulit dibubarkan di negara anti kekerasan ini;

Banyak dan bukan lagi kesan, kita hanya saling pandang membiarkan aksi FPI. Ada yang menyebutkan hal itu dikarenakan adanya mantan petinggi Polri yang terkait dengan terbentuknya FPI. Sebut saja Nugroho Djayoesman, bisa dilihat dalam buku “Biografi Noegroho Djayoesman, Meniti Gelombang Reformasi. Beliau adalah mantan Kapolda DKI Jakarta.

Sejarah Terbentuknya FPI

Terbentuknya FPI terkait dengan terbentuknya Pasukan Pengamanan Masyarakat Swakarsa atau PAMSWAKARSA, dan tentunya ini terkait dengan Wiranto, Kivlan Zen dan Nugroho Djayoesman. Untuk itu, sebelum membahas FPI lebih lanjut, kita lihat sejarah terbentuknya Pam Swakarsa terlebih dahulu.

Saat akan diselenggarakannya Sidang Istimewa MPR tanggal 10-13 Nop 1998, situasi politik dan keamanan Ibukota sangat rawan dan mencekam. Meski kerusuhan besar yang terjadi Mei 1998 sudah mereda, tapi demo massa yang berujung kekacauan masih terus terjadi dimana-mana. Mundurnya Suharto, dan naiknya Habibie sebagai presiden ternyata belum memuaskan sebagian masyarakat. Inilah kemudian yang memicu demo tak berhenti.

Bukan tanpa motif dan tujuan. Motif dan tujuan aktor intelektual anarkis ini untungnya diketahui oleh intelejen (BAKIN/ BAIS), dan diinfokan kepada tokoh-tokoh reformasi. Dalam laporan intelejen tersebut disebutkan ada sekelompok pihak yang ingin menggagalkan agenda bersama antara Habibie dan Kelompok reformis.

Strategi mereka adalah dengan membuat kekacauan besar lagi di indonesia yang dapat mendorong: 1) disintergrasi bangsa 2) intervensi militer asing, dengan cara balkanisasi.

Pada saat itu kekuatan ABRI masih terpecah, tidak solid. Banyak penyusup dan perwira-perwira indisipliner yang punya agenda sendiri. Kondisi sosial politik masyarakt pun sangat rawan dan saling mencurigai antar kelompok. NKRI saat itu diambang perpecahan. Ada agenda asing dan sekelompok orang yang jadi anteknya. menjadi penumpang gelap gerakan reformasi

Atas dasar informasi disampaikan pemerintah dan pimpinan ABRI, dan mayoritas tokoh reformasi sepakat untuk mengamankan agenda reformasi. Mereka sepakat bahwa NKRI harus dipertahankan. Kesempatan intervensi militer asing harus dicegah. Dan ini harga mati. NKRI tidak boleh “di-balkanisasi.” NKRI bukan Yugoslavia!.

BAKIN/BAIS juga melaporkan bahwa sejumlah negara sudah punya skenario menjadikan NKRI terpecah jadi beberapa negara. Strategi asing yang dibantu pengkhianat negara ini adalah dengan membenturkan massa demo dengan TNI/Polri hingga jatuh banyak korban jiwa yang tewas. Dengan modus ini, TNI/Polri nantinya akan disalahkan oleh dunia internasional dengan tuduhan pelanggaran HAM berat. Sementara itu, terdapat sejumlah pasukan liar dalam jumlah kecil yang tidak diketahui indentitasnya dan diduga akan “boncengi” demo

Untuk mengantisipasi hal itu, dimulailah dengan menyusupkan sejumlah intel TNI/Polri ke dalam kelompok-kelompok anti NKRI ini untuk operasi deception, kontra aksi, disorientasi dan misinformasi. Kedua, mempersiapkan massa dalam jumlah besar sebagai tandingan menghadapi massa-massa demo kelompok non-reformis itu, dan ABRI hanya sebagai back up.

Penanggung jawab penyediaan massa tandingan ini kemudian dikenal dengan nama PAMSWAKARSA di bawah kordinir Kaskostrad Mayjend Kivlan Zen. Untuk penyediaan massanya dibantu oleh tokoh Islam, kelompok reformis dan nasionalis yang cinta NKRI. Target massa 30.000 orang.

FPI dan PAMSWAKARSA

Apa kaitan PAMSWAKARSA dan FPI? FPI dideklarasikan pada 17 Agustus 1998 Ciputat, dihadiri petinggi miiter termasuk Kapolda Jakarta Nugroho Djayoesman. Pada rapat dengan pimpinan ormas Islam termasuk FPI. Kepada Kivlan Zen waktu itu, mereka janji kerahkan tambahan massa 30.000 orang. Tambahan massa ini untuk membantu ABRI yang menjaga SI MPR. Diharapkan bisa menaikan moral tentara yang harus berhadapan dengan rakyat. Pada waktu itu, massa FPI pendukung bikin apel di parkir timur dipimpin Panglima Divisi Kiblat (Komite Islam Bersatu Penyelamat Konstitusi), Daud Poliraja.

Alhasil, PAMSWAKARSA ini mampu menghadapi aksi demo massa brutal dari kelompok kiri, anti pancasila dan NKRI ini. Bentrokan terjadi dimana-mana. Tokoh-tokoh di balik aksi massa demo anti reformasi meradang. Dibantu oleh agen asing, LSM dan media bayaran, mereka kecam PAMSWAKARSA. Dengan segala cara mereka minta pemerintah membubarkan pamswakarsa. Opini sesat dibangun. Rekayasa diciptakan. Namun pemerintah bertahan dan PAMSWAKARSA efektif mencegah konflik fisik vertikal antara TNI/ Polri dan Massa.

PM Australia dan Singapore bahkan mendesak Presiden Habibie untuk bubarkan Pamswakarsa. Habibie menolak,

“No. This my countryI Know the best!!.”

Terlepas dari kontroversi ada korban jiwa, adanya tuduhan pelanggaran HAM. PAMSWAKARSA berjasa cegah balkanisasi di NKRI

Nah silakan pembaca menilai, jika sumber yang menyebutkan kaitan sejarah terbentuknya FPI dan kondisi NKRI ini benar, maka tak heran jika FPI sangat sulit dibubarkan.

Sejarah harus diluruskan. Opini sesat harus dibersihkan. Masyarakat harus banyak belajar, di tengah banyaknya informasi yang tidak benar.

Referensi: 1, 2, 3, 4, 5 *Semua sumber diakses tanggal 29 Juli 2013

  • Bagikan