Gaya Pacaran yang Tak Layak Ditiru; Hati-Hati !

Gaya Pacaran

Kasihan melihat remaja itu. Masih muda, tapi aneh, seharian matanya sembab seperti habis menangis. Usut demi usut, ternyata dia ditinggal selingkuh sama pacarnya. Remaja itu hanya sampel dalam deretan ratusan bahkan ribuan korban bahaya negatif pacaran. Memang ada pacaran membawa kepada hal positif ? mungkin saja ada, tapi kemungkinannya sangat kecil. Alih-alih mencari peluang kecil itu, lebih baik tidak pacaran sekalian (baca: kerugian pacaran).

Tulisan ini saya dedikasikan kepada mereka yang terlanjur pacaran, yang sulit menghentikan, yang takut dikatakan kuper, yang takut dikatakan tidak modern, yang takut dikatakan tidak laku, dan ketakutan tak wajar lain. Sangat penting mengenal gaya pacaran yang tak layak ditiru. Jika itu negatif, jangan lakukan.

Pertama, berduaan. “jika ada dua jenis bertemu, ketiganya adalah iblis”, sabda Nabi saw. Dalang dari pertemuan berduaaan ini, biasanya dari laki-laki. Jebakannya bervariasi. Berduaan di tempat terbuka, berduaan di tempat tertutup, berduaan di tempat gelap, intinya berduaan, semua berdampak negatif minimal menimbulkan fitnah.

Rangkaian kalimat gombal biasanya digunakan untuk berduaan, misalnya, “ada sesuatu yang saya ingin sampaikan. Jangan di sana, aku malu. Bagaimana kalau di sini (sambil menunjukan tempat untuk berduaan)”. Kalau si wanita menolak, laki-laki akan memakai jurus lain, “katanya kamu sayang sama aku, masa bertemu saja takut?”. “Kamu ternyata menganggap aku sebagai orang yang ditakuti, bukan orang yang kamu sayangi”. Terdengar masuk akal. Kalau wanita merasa salah, berarti kalimat gombal berhasil.

Sederetan kalimat ajakan tak akan pernah habis dalam rangka mengajak pasangannya bertemu berdua. Padahal sangat berbahaya. Dari pertemuan berdua itu, sedikit demi sedikit akan menjadi kebiasaan. Melangkah lebih jauh, melakukan gaya pacaran yang tak layak ditiru berikutnya.

Kedua, pegang-pegangan. Memberi kesan melindungi. Memegang tangan, merangkul pundak, dan aneka model pegangan lain. Pegangan kini sudah bukan lagi hal tabu mengatasnamakan kemoderenan. “kan cuma pegangan doang”. “Biasalah kalau pacaran, namanya juga anak muda”. “Pegangan boleh, asal jangan keterusan”. Masih banyak slogan lain melegitimasi pegang-pegangan saat pacaran, padahal hal ini merupakan gaya pacaran yang tak layak ditiru. Sangat merugikan wanita.

Korban utamanya adalah wanita. Laki-laki tak ada masalah, tapi tidak bagi wanita. Wanita satu kali saja dipegang laki-laki yang bukan muhrim, apalagi dengan nafsu, maka pada dasarnya, dia adalah bekas, bekas pegangan dari laki-laki lain. Kalau pegangan saja dilarang, apalagi sentuhan lain, pegangan-pegangan berikutnya, pastinya dilarang.

Ketiga, memakai panggilan mama papa. Mungkin dalam pikiran remaja dimabuk asmara yang menggunakan panggilan ini, sebagai sugesti, motivasi. Alangkah indahnya hubungan kita, kamu bagaikan istri dengan panggilan “mama”, dan aku suami kamu dengan panggilan “papa”. Padahal cara ini justru fatal, dan merupakan gaya pacaran yang tak layak ditiru.

Opini Terkait
1 daripada 123

Alangkah indahnya hubungan itu, kamu mama aku papa. Sebuah sugesti yang merembet ke tugas papa lain, seperti memberikan nafkah. Mulai dari memberi uang jajan, mengantar ke sekolah, membantu. Nah, tugas mama apa? Dapur, sumur, kasur ? Ini yang akan membuat wanita terjebak melangkah ke hal-hal yang semestinya dilarang.

Kalau panggilan mama papa digunakan, relakah kamu dipanggil janda duda, saat hubungan berakhir?

Keempat, melakukan tindakan extrem atas nama bukti mencintai. Tindakan extrem itu bermacam-macam. Misalnya, menulis nama kekasihnya di lengan, bukan memakai pensil atau pen tapi dengan senjata tajam, pisau, silet dan sejenisnya. Dia ingin membuktikan, bahwa nama kekasihnya permanen dalam fisiknya. Tak peduli rasa sakit. Rasa sakit tertutupi oleh keindahan mencintai, katanya.

Bentuk extrem lain, adalah meneteskan darah pada jempol masing-masing lalu saling menempelkannya. “Hati kita bersatu, namun hati tak dapat dilihat. Mari kita buktkan dengan bersatunya darah kita”. Demikian slogannya.

Cara extreme seperti ini sebenarnya berbahaya dan tak ada gunanya. Kala umur masih muda, tak ada jaminan hubungan akan langgeng. Perjalanan masih jauh, masih ingin melanjutkan pendidikan, masa depan masih lebar terpampang di depan mata. Dan darah tidak dapat bahkan tidak bisa membantu melanggengkan hubungan pacaran itu.

Kelima, mempersembahkan kehormatan kepada pasangannya. Gaya pacaran yang tak layak ditiru dan paling menakutkan. Anehnya, memberikan kehormatan pada pasangan justru menjadi tren. Kehormatan seakan bukan lagi famali, bukan lagi hal tabu, dianggap biasa saja, murah dan hanya dijadikan bukti kesetiaan semu.

Wanitalah yang paling berkorban atas gaya pacaran seperti ini. Laki-laki tak ketahuan jika sudah tak perjaka, beda dengan wanita. Kehormatan yang sejatinya dipersembahkan kepada laki-laki melalui ikatan sah suami istri, justru dipersembahkan hanya karena terbuai dengan indahnya pacaran, dipersembahkan sebagai bukti klaim rasa sayang, tapi sebenarnya nafsu. Jangan ditiru !.

Para pembaca budiman, para orang tua perhatikan hal ini. Para remaja, cermati dan pahami hal ini. Lima gaya pacaran yang tak layak ditiru, kini sudah menjamur, sudah dianggap biasa-biasa saja karena dipengaruhi banyak hal. Lihat saja sinetron yang mempertontonkan gaya pegangan tangan fulgar, pelukan, berduaan, dan gaya pacaran yang mestinya tabu dan tidak boleh baik dari sisi agama maupun budaya ketimuran kita (baca: tiga prinsip menyatakan cinta).

Agama tidak melarang mengenal pasangan, tapi bukan pacaran. Okelah dinilai radikal, sudah terlanjur, pacaran jarak jauh, tak ketemuan bisa jadi solusi. Kecanggihan telekomunikasi bisa dijadikan alat. Berkomunikasilah sewajarnya, manfaatkan kecanggihan gadget yang kamu punyai, dan hindarilah gaya pacaran yang tak layak ditiru tadi.

Loading...