Kita Butuh Gelar dan Anak yang Jago Menghapal

Gelar dan Anak Jago Menghapal

Kita butuh gelar

Apa sih manfaat gelar, sehingga ada yang beranggapan kalau gelar tidak menjamin kompetensi?

Di satu sisi, memang terkadang gelar tidak dibutuhkan, tapi yang dibutuhkan adalah kompetensi. Entah salah siapa, ratusan alumni bergelar S1, S2, S3, justru tidak mampu menyelesaikan masalah yang mana masalah itu adalah bagian dari jurusan tempat dia mendapat gelarnya.

Emha Ainun Nadjib, budayawan kondang yang tak memiliki gelar secara akademik, tapi kompetensinya terkait budaya dan agama melebihi rata-rata. Rocky Gerung juga demikian. Pernah mengajar S3, padahal gelar yang dia punyai hanya S1.

Namun, di lain sisi gelar gelar dibutuhkan sebagai label otoritas. Orang butuh sesuatu sehingga dia percaya kalau yang dibawa seseorang, benar adanya, dan sesuatu itu bisa jadi adalah gelar.

Beddu mampu menyelami samudera yang sangat dalam, dan mengambil mutiara mutu manikam di dasar lautan. Barang berharga itu diangkat ke permukaan? Tapi apakah orang percaya kalau yang dibawa Beddu itu adalah mutiara? Jangan-jangan kelereng! Sebelum dibuktikan, Beddu harus dipercaya dulu untuk menunjukkan itu.

Saya belajar html, Search Engine Optimation, dll otodidak sejak 2009. Mungkinkah saya berbicara terkait itu di depan mahasiswa IT? Sebaliknya, sarjana IT memiliki gelar terkait bidangnya, mungkinkah saya mengundangnya berbicara terkait bidang saya?

Bisa saja, tapi saya harus percaya dulu dengan sarjana IT itu. Dan yang pertama akan saya lihat latarbelakangnya, salah satunya adalah gelar.

Pemerintah bahkan menjadikan gelar sebagai poin penting dalam menentukan pekerjaan. Buktinya ada banyak aturan terkait gelar. Misalnya, mendaftar CPNS formasi A harus ijazah A, dst. Mahasiswa S1 diajar oleh dosen minimal S2. Anak SD, diajar oleh guru yang minimal S1.

Andai saja gelar tidak diatur sedemikian rupa, maka dengan mudah orang akan mengangkat guru, dosen, Jendral, seenak udelnya. Patut menjadi perhatian, ruang nepotisme terbuka lebar, di tengah sulitnya mencari lapangan pekerjaan.

Kita butuh gelar, meski gelar tidak menjamin masa depan. Banyak orang tak memiliki gelar, tapi masa depannya bagus. Ada juga yang memiliki deretan panjang gelar, tapi masa depannya suram.

Kita butuh gelar, karena yang memiliki gelar pasti punya kompetensi. Kompetensi pertama yang dimilikinya adalah kemampuan mendapatkan gelar itu!

Kita butuh anak yang jago menghapal

Pengetahuan pertama anak pasti dilalui dengan menghapal, hanya cara menghapalnya berbeda. Ada yang dengan bermain, ada formal seperti ruang kelas, macam-macam.

Sebelum individu mengembangkan ilmu pengetahuannya, terlebih dahulu wajib menghapal pengetahuan dasar. Mau jago matematika, wajib menghapal perkalian, penjumlahan, dst. Ini dasar!

Semakin anak jago menghapal maka akan semakin banyak pengetahuan dasar yang dikuasai. Perkalian dikuasai, maka peluang mengembangkan matematika kedepannya semakin besar. Sharaf dikuasai, maka peluang mengembangkan bahasa Arab kelak semakin besar. Grammar, kosakata dikuasai, maka peluang menguasai bahasa semakin besar.

Betapa banyak anak mendapat ketiban rejeki dari pak Presiden hanya dengan menjawab pertanyaan “Sebutkan nama-nama ikan?” anak yang jago menghapal, akhirnya sumringah dengan membawa pulang sepeda.

Andai pak Presiden menganggap dunia tak butuh anak yang jago menghapal, maka kemungkinan pertanyaannya dalam bentuk analisa. “Kenapa ikan punya nama?” atau “Kenapa ada nama ikan Tongkol bukan ikan Kongtol?” Hasilnya tentu beda, karena dunia pengetahuan anak adalah pengetahuan dasar, dan itu butuh kekuatan menghapal.

Tidak semua anak sama. Seperti tidak semua kebutuhan dunia sama. Ada anak yang fungsi otak kiri lebih dominan dari otak kanan. Dunia kerja juga demikian; ada yang butuh tenaga kerja yang kuat hapalan, ada juga yang butuh kuat analisa.

Anak yang lebih dominan otak kanannya akan mampu berpikir secara intuitif dan visual, pandai berimajinasi, retorika dan pandai berkomunikasi. Dari anak yang fungsi otak kanan lebih dominan inilah lahir para pujangga, sastrawan hingga wartawan.

Anak yang lebih dominan menggunakan atau terbiasa berpikir dengan otak kiri, akan mudah memilih sesuatu yang berurutan, belajar dimulai dari bagian-bagian kemudian keseluruhan, lebih memilih sistem membaca fonetik, dan menyukai kata-kata simbol dan huruf. Dari sinilah akan lahir, ahli coding, penghapal al-Quran, ahli sandi, dll.

Dengan demikian, anak yang jago menghapal, otomatis dibutuhkan dunia. Dunia kerja, dunia maya, dan dunia-dunia yang lain.

Berikan Komentar

Alamat email bersifat pribadi