Gengsi Itu Bukan Hanya di Bandara

Apa itu Gengsi?

“Udah ambil aja sana! Tuh ada yang lebih bagus. Cuma 50 ribu kok.” Kata seorang laki-laki paruh baya kepada seorang anak kecil sambil menunjuk aneka roti yang ada di depannya, pas di depanku. Dari gaya dan cara bicaranya, sepertinya dia perlente, borjuis, pokoknya dari kalangan menengah ke atas lah. Kebetulan, banyak orang di sekitarku saat itu, hampir semua mirip gaya laki-laki itu. Maklum, bandara.

Karena ingin ngopi, tak ada pilihan lain, warung kopi di bagian kedatangan bandara hanya ada satu. Saya lalu terpaksa masuk dan memilih posisi sudut salah satu cafe kecil yang lagi sepi. Mungkin hanya kebetulan, berselang 5 menit, pria yang tadi berada tak jauh di tempat kududuk. Suasana cafe sepi. Hanya saya dengan laki-laki itu. Anak yang bersamanya tadi entah di mana.

“Engkamiroe, macculei. Nappaka waseng ma pesan e. e solii pa koe. Indome gelas 35 sebbu. Roti denre welli, awwee 50 sebbu.”

Samar-samar saya dengar kalimat itu. Tentu saya tahu artinya karena itu bahasa Bugis.

“Dia di sana lagi bermain. Barusan saya pesan. Mahal sekali apa-apa di sini. Indomie gelas 35 ribu. Tadi saya beli roti, masa sampai 50 ribu.”

Mungkin yang ada di benak pembaca, sama yang ada di benakku. Laki-laki itu terkena syndrom gengsi. Penyakit gengsi. Kalau toh gengsi itu dianggap syndrom atau penyakit. Kalau sekedar sikap, iya sikap gengsi.

Apa definisi gengsi? Gengsi itu suatu usaha baik berupa keinginan, penampilan, gaya, sikap, dalam rangka menyembunyikan satu sisi atau hal lain dari pengetahuan oleh orang lain. Gengsi sangat identik dengan malu. Sikap gengsi biasa dibela dengan kata malu.

Dalam kasus tadi, sepertinya laki-laki itu ingin menyembunyikan kepada orang lain di sekitarnya, bahwa harga bukan masalah. Dia tunjukanlah gaya dan ucapan untuk mewakili itu.

Masih banyak kasus lain. Di sekitar Anda mungkin banyak. Di bandara? Masya Allah. Sangat banyak orang gengsi. Membahasnya diperlukan negatif thinking yang berlebihan, dan kemampuan su’u dzhan yang tak biasa. Heheh

Gengsi Bukan Hanya di Bandara

Memang, gengsi tidak hanya di bandara. Di amana saja orang bisa bersikap gengsi. Namun, sepertinya bandara identik dengan gengsi. Entah…

Bentuk Gengsi yang paling umum adalah, menyembunyikan keadaan tidak mampu. Takut dianggap miskin, takut dianggap ndeso, takut dianggap tidak mampu, sehingga muncul kekawatiran dalam dirinya kalau dia dianggap tidak layak berada di tempat itu. Itulah mungkin menjadi sebab, banyak orang dari tanah suci, marah jika tidak dipanggil haji. Naik haji mahal lho… gengsi

Sialnya, gengsi ini tidak pandang umur. Tidak perlu akil baligh untuk gengsi. Syarat gengsi menjangkiti seseorang sederhana; jika seseorang sudah bisa membandingkan. Itu saja maka sikap gengsi sudah bisa hadir dalam sikap.

Saya pernah menemukan anak yang masih SD, ngamuk di rumahnya minta hp nya diganti. Alasannya sepele, dia merasa malu dengan hp nya sekarang. Menurutnya, hp temannya sudah jauh kelas dibanding punyanya. Anak itu bukan malu, dia hanya gengsi.

Opini Terkait
1 daripada 126

Bagi saya gengsi adalah kebohongan yang halus, sekaligus kemunafikan yang tertunda. Ketika ada usaha menyembunyikan sesuatu dengan menunjukan hal lain untuk menyembunyikan hal lain, di situlah kebohongan itu. Bohong kan berdosa? Tidak selamanya kok.. apakah bohong dengan bentuk gengsi adalah dosa

Pada level tertentu, banyak orang mempertahankan sikap gengsi sebagai sebuah hal yang wajib, karena sudah terbiasa. Demi menutupi yang sebenarnya tak perlu ditutupi, dia rela membuat masalah baru. Pinjam uang misalnya.

Argumen pembelaannya juga unik; menempatkan sesuatu pada tempatnya. Memang antara gengsi dan menyesuaikan diri itu beda-beda tipis. Tapi sederhana memahaminya. Menyesuaikan diri itu tidak pake bohong, dan tidak menimbulkan masalah baru.

Misal, saya mendapat undangan menghadiri pesta pernikahan anak Gubernur. Tentu mereka yang hadir adalah orang yang jauh berada di kelas saya. Oke, saya harus menyesuaikan diri, tapi saya tak perlu gengsi. Tamu yang akan datang, bisa dipastikan, bermobil, pake jas dan sepatu mengkilat. Jika saya merasa gengsi, maka saya akan berusa dengan cara apapun itu agar bisa tampil dengan jas dan sepatu mengkilat. Itu wajib. Namun jika saya hanya ingin menyesuaikan diri, saya akan berusaha semaksimal mungkin, namun dengan cara yang tidak menyusahkan diri saya dan orang lain. Karena itu tidak wajib.

Bedakan hasilnya. Jika saya gengsian, sampai di pesta, saya akan berselfie ria, lalu menulis “Lagi bersama Gubernur di pesta anaknya.” Dalam pikiran saya, agar orang tahu, tak sembarang orang loh yang ke sini; bermobil, memakai jas dan sepatu mengkilat. Saya ingin menutupi bahwa saya kesulitan mendapat mobil, jas dan sepatu mengkilat coy hehehe… namun jika saya tidak gengsian, kalau toh selfie ria, tak jauh dari dokumentasi saja.

Kerugian akibat gengsi

Teman-teman mari menghindari gengsi. Gengsi itu tak ada untungnya, merugikan malah. Oke teman-teman mu pada saat itu akan mengatakan “wah,” tapi akibat dari hal itu implikasinya sangat besar. Orang lain akan menganggap kamu, seperti apa yang kamu tampakkan selama ini dengan gengsi, bukan apa yang kamu sembunyikan.

Saya punya teman jomblo yang berusaha mencari pendamping hidup, dan meminta bantuak ke saya untuk mencarikan. Saya perlihatkanlah salah satu wanita melalui akun media sosialnya.

“Saya suka orangnya, tapi saya tidak mampu dan tidak pede, kamu tahu saya kan? Saya orangnya sederhana, tidak cocok dengan dia.” Kalimat jawabannya yang membuatku kaget.

Wanita yang saya perlihatkan kepadanya, biasa-biasa saja, sederhana, dan berbeda dengan apa yang dipahami temanku tadi. Namun nasi telah menjadi bubur. Poto-poto di media sosialnya terindikasi sikap gengsi, sehingga yang benar mengenai wanita itu tidak kelihatan.

Dia berpoto di depan mobil mewah. Saat di bandara. Saat di KFC, dan beberapa model poto yang memang tidak memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya. Belum lagi narasi status dalam poto. Tak satupun, potonya saat membantu orang tuanya macul di sawah atau lagi menjual putu di pinggir jalan.

Lain lagi dengan yang saya alami. Pernah saya meminta tolong ke teman saya yang sering sekali berada di bandara. Ini saya ketahui juga dari status facebooknya, “OTW bandara.” Pikiran saya, dia sering keluar daerah, traveling atau apa. Singkat cerita, dia menjawab “saya cuma mengantar ji.”

Dari bayangan kita tentang sikap gengsi, bisa disimpulkan beberapa kerugian sikap gengsi; menambah masalah baru, menempatkan diri pada kelas yang tidak benar akhirnya menjauhkan dari peluang yang datang, potensi menjadi kebohongan, dan masih banyak. Silahkan rangkum sendiri.

Cara mengatasi sikap gengsi

Langsung saja ya… jujurlah dalam sikap dan perbuatan. Kalau jujur adalah perbuatan baik, maka hasilnya akan baik. Kedua; jadilah diri sendiri, karena yang merasakan adalah Anda sendiri bukan yang menilai. Ketiga; jangan mencoba membuat penilaian orang dengan desain kita. Misal, saya pake baju begini, sekalinya orang bilang… sekalinya anu, sekalinya itu…

Loading...