Kisah La Beddu; Guru dalam Tumpukan Berkas

Ilustrasi

Matahari nongol diufuk timur, seberkas cahaya menghangatkan, sehat. Burung-satu-satu tanpa siul mungkin gerah dengan deru kendaraan tanpa batas. Tiba saatnya pasti kembali ke sarang tak pasti. Hanya satu, pelajar kembali beraktifitas di awal Minggu ini.

Awal Minggu ritual upacara menjadi tradisi. Memberi rasa malas karena harus berdiri, diterik panasnya matahari sembari mendengarkan ceramah pembina upacara di mimbar tengah lapangan sana, dari dulu sejak jaman PSPB, PMP, dan ini bapak budi. Namun, tidak untuk aku. Bagiku, upacara yang menguras energi sarapanku, memberi rasa yang berbeda pada waktu biasanya.

Tentang yang kucinta, picingkan mata karena silaunya matahari, bertahan melihatnya dari kejauhan, bias merah. Lagu Indonesia Raya untuk-mu, dalam kawalan pengerek bendera merah putih.  Indah, jika karena engkau. Menghipnotisku dengan aura yang ada dalam dirinya. Rasa sayangku semakin bergejolak, rasa kagumku semakin mendalam meskipun itu tak pernah membuatnya berada dalam dekapanku. Indonesiaku…

La Beddu menyelesaikan puisinya. Puisi yang dia sendiri tak tahu, model apa. Karena yang dia tahu hanya akrostik. Tak sulit menderetkan huruf sebelum berjalan melalui tengah lapangan berumput tebal, hanya bersih ketika gubernur akan datang. Sisa 10 meter, La Beddu sadar, dia harus kembali. “Kewajiban” guru lain dilupakan.

Ilustrasi

15 menit berlalu sudah berada di tempat semula dengan membawa setenteng kertas berjilid rapi. Berat sehingga tas murah, usang tak mampu mewadahinya. Dari jauh kelihatan aneh, memakai tas sekaligus menenteng-Nya.

Upacara telah selesai. Di kelas, salam La Beddu dijawab riuh, sontak begemuruh. “Salam” kini meninggalkan hakikatnya, mungkin juga ditinggalkan. Gumam La Beddu dalam hati. 10 menit berjibaku, pelajaran belum dimulai, anak-anak mulai bosan, waktu tidak toleran, meja pun kelihatan sumpek tak muat. Sebelum tumpukan itu dikemas rapi di sudut meja. La Beddu menarik nafas. Pelajaran, BARU dimulai.

Opini Terkait
1 daripada 302

Jam berdetak, berputar menit-permenit dengan cepat. La Beddu harus bergegas, karena dia tahu ada finish, dan ada target. Selang waktu mengagetkan… 7 lembar tumpukan itu melayang diterpa angin, tak sengaja. Mereka yang lugu menolong gurunya sambil berteriak seperti mengejar layangan di atas rumah mbah Kaddaro, tetangga La Beddu. Sampai kemudian mereka tenang kembali.

Istirahat dihiasi dengan siraman teh manis pelepas dahaga, sebelum kabar penting pemeriksaan berkas yang dikemas dengan nama Perangkat Pembelajaran, dan administrasi guru. RPP, Silabus, Prota, Prosem, KKM, Absensi, Agenda Harian, Laporan Kinerja, Daftar Nilai, Daftar Hadir, Denah Kerja, Kalender Pendidikan, Bank Soal, Catatan Kejadian Siswa, Laporan Pengelola, Lembar Kerja Siswa de el el (ada 20).

Bejubel, ngejlumet, tak mungkin lolos, dari kesalahan mungkin sebagai manusia. La Beddu dengan PE DE yang dibuat-buat bersyukur sempat tidak ikut upacara tadi. Sempat dilirik sekilas tumpukan itu, dan mencoba membandingkan dengan tumpukan lain bangku sebelah. Hanya satu yang membuatnya segera dan bergegas, “Pengawas akan datang”.

Kalimat sakti mandraguna yang membuat mereka tertunduk dalam samudera tertekan. Tertekan karena tak tahu. Mereka itu bukan pengawas proyek kawan, bukan pengawas keuangan, bukan malikat Israfil, yang tinggal menunggu perintah yang Kuasa. Kawan… meraka itu rekan kita…

Guru kini bukan hanya harus mampu belajar, mampu mencerdaskan mereka yang polos, mampu memberikan keteladanan, mampu “kencing duduk” agar mereka kencing berdiri, mampu menjadikan mereka belajar dari kepongahan pengaruh ceribelle, dan yang lain. Kini La Beddu sadar, guru bukan hanya itu, guru mampu menenteng tumpukan itu tanpa ada inovasi mendesainnya dengan kata bukan tumpukan… 🙂

 ***

Kisah Guru La Beddu, cerminan guru adalah ujung tombak, mendidik tak hanya mengajar. Beban dan tanggungjawab yang tidak ringan. Tak perlu membebani pahlawan itu dengan tumpukan administratif yang bisa dikemas lebih simpel. Meski dia tak mungkin ngambek, karena itu kewajiban. Karena dia pahlawan.

 

Komentar
Loading...