Guru Ini Memenuhi Syarat Masuk Surga

Guru masuk surga

Dalam sebuah majlis, seorang guru senior memberikan materi, penyampaian materinya hebat, dan saya terkesan. Hal ini membuat saya tergerak untuk mengetahui siapa dia gerangan. Ternyata dia adalah seorang guru yang telah banyak “mencetak” guru. Kini murid yang diajarnya adalah cucu dari muridnya dahulu.

Kehidupannya sederhana, terkesan jauh dari kelebihan seorang guru PNS. Tetangganya senantiasa mencarinya jika ada perhezlatan di kampung atau sekitar kampung. Sikapnya yang tidak sombong terlihat dari caranya menghadapi guru yang mantan muridnya. “kalau bisa dipermudah, kenapa mau dipersulit,” itulah prinsipnya.

Rumahnya terletak di komunitas sebuah organisasi keagamaan, namun dia tidak fanatik buta terhadap komunitas itu. Soal ibadah tiada yang meragukan lagi. Lampu rumahnya di malam hari dijadikan petunjuk jam oleh tetangga rumahnya. Jika menyala, berarti jam menunjukan pukul 2.00, karena waktu itulah dia senantiasa rutin mendirikan salat Tahajjud.

Memasuki bulan suci Ramadhan, panitia masjid sudah menyusun jadwal kegiatan keagamaan untuk satu bulan, dan pasti ada satu hari buat dia untuk acara jamuan buka puasa bersama dengan fakir miskin dan anak terlantar. Meski acara yang dibuatnya adalah acara besar, namun pantang baginya untuk berutang.

Sifat yang dimiliki guru ini benar-benar adalah sebuah keteladanan yang nyata. Jika melihat ketentuan dan tanda-tanda seorang akan masuk surga berdasarkan janji Allah dan sabda Rasul saw, hanya satu syarat yang tak terpenuhi sehingga akan dipastikan guru ini masuk surga.

Syarat Masuk Surga

Berikut syarat masuk surga berdasarkan firman Allah dan hadis Nabi saw:

Pertama: memberi makan. Rasulullah saw bersabda: “Sembahlah Allah Yang Maha Rahman, berikanlah makan, tebarkanlah salam, niscaya kamu masuk surga dengan selamat” (HR. Tirmidzi).

Kedua: menyambung silaturrahmi. “Ketika Rasulullah saw bertanya kepada pada sahabat tentang maukah aku beritahukan kepada kalian tentang orang yang akan menjadi penghuni surga? diantaranya beliau menjawab: Seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di penjuru kota dengan ikhlas karena Allah.” (HR. Ibnu Asakir, Abu Na’im dan Nasai).

Ketiga: salat Malam. Allah swt berfirman: “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji (surga).” (QS.al-Isra: 79).

Keempat: memudahkan orang lain. Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya seorang lelaki masuk surga. Dia ditanya: “Apa yang dulu kamu kerjakan?”. Dia menjawab, dia ingat atau diingatkan, dia menjawab: “Aku berjual beli dengan manusia lalu aku memberi tempo kepada orang yang dalam kesulitan dan mempermudah urusan dengan pembayaran dengan dinar atau dirham.” Maka dia diampuni (HR. Muslim dan Ibnu Majah).

Kelima: Berjihad di Jalan Allah. Firman-Nya: “Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama Dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. dan mereka Itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagimereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at Taubah: 88-89).

Keenam: tidak sombong. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang mati dan ia terbebas dari tiga hal, yakni sombong, fanatisme dan utang, maka ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi).

Ketujuh: Tidak memiliki fanatisme yang berlebihan. Hadis Nabi saw: “Bukan golongan kamu orang yang menyeru kepada ashabiyah, bukan golongan kami orang yang berperang atas ashabiyah dan bukan golongan kami orang yang mati atas ashabiyah.” (HR. Abu Daud).

Kedelapan: terbebas dari utang. Rasulullah saw bersabda: “Utang itu ada dua macam, barangsiapa yang mati meninggalkan utang, sedangkan ia berniat akan membayarnya, maka saya yang akan mengurusnya, dan barangsiapa yang mati, sedangkan ia tidak berniat akan membayarnya, maka pembayarannya akan diambil dari kebaikannya, karena di waktu itu tidak ada emas dan perak.” (HR. Thabrani).

Kesembilan: peka terhadap peringatan. Sabdanya: “Akan masuk surga kelak kaum-kaum yang hati mereka seperti hati burung.” (HR. Ahmad dan Muslim).

Kesepuluh: menahan amarah. Rasulullah saw bersabda: “Marah itu dapat merusak iman seperti pahitnya jadam merusak manisnya madu.” (HR. Baihaqi).

Kesebelas: ikhlas menerima kematian anak dan orang yang dicintai. Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada pembalasan dari bagi seorang hamba-Ku yang percaya, jika Aku mengambil kekasihnya di dunia, kemudian ia ridha dan berserah kepada-Ku, melainkan surga.” (HR. Bukhari).

Keduabelas: bersaksi atas kebenaran al-Quran. firman-Nya: …catatlah Kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran al-Quran dan kenabian Muhammad saw). Mengapa Kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada Kami, Padahal Kami sangat ingin agar Tuhan Kami memasukkan Kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh ?”. Maka Allah memberi mereka pahala terhadap Perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya). (QS. al-Maidah: 83-85).

Ketigabelas: berbagi kepada orang lain. Hadis Rasulullah saw: “Empat puluh kebaikan yang paling tinggi adalah pemberian seekor kambing yang diperah susunya. Tidak seorangpun yang melakukan salah satu darinya dengan mengharapkan pahala dan membenarkan apa yang dijanjikan karenanya, kecuali Allah memasukkannya ke dalam surga” (HR. Bukhari).

Keempatbelas: hakim yang benar. Rasulullah saw bersabda: Hakim-hakim itu ada tiga golongan, dua golongan di neraka dan satu golongan di surga: Orang yang mengetahui yang benar lalu memutus dengannya, maka dia di surga. Orang yang memberikan keputusan kepada orang-orang di atas kebodohan, maka dia itu di neraka dan orang yang mengetahui yang benar lalu dia menyeleweng dalam memberikan keputusan, maka dia di neraka (HR. Abu Daud).

Guru ini Masuk Surga?

Jika melihat syarat orang yang dijamin masuk surga, tersirat syarat itu tak mempertimbangkan masalah pekerjaan, artinya pertimbangan sebagai syarat masuk surga hanya berdasarkan bentuk amal yang dikerjakan kecuali satu hal. Dan yang satu ini, jika syarat masuk surga berdasarkan keseluruhan syarat, maka guru ini tidak akan masuk surga.

Bagi yang beragama Islam, tidak satupun yang tidak ingin masuk surga, meski dalam hadis Nabi dikatakan, “Semua umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan…” keengganan dalam hadis ini adalah keengganan terpaksa atau enggan yang tidak disengaja.

Orang beriman dan makrifat, masuk surga bukan lagi tujuan utamanya. Tujuan utamanya justru mendapatkan Rahmat dari yang maha Kuasa apapun bentuknya. Untuk mendapatkan surga baginya, otomatis akan terpenuhi jika memiliki sifat dan amal calon penghuninya dan usaha itu sekarang dalam kehidupan kita di dunia.

Berikan Komentar

Alamat email bersifat pribadi