Guru Pendidik itu Berhak Menghukum dalam Bentuk Apapun!

Cara Guru Menghukum

Guru pendidik adalah orang bijak. Orang bijak adalah orang yang tidak pernah berhenti belajar dalam hidupnya. Belajar bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan bagian dari hidup manusia yang harus dijalaninya hingga maut menjemputnya. Karena itu, tidak ada istilah terlambat bagi mereka yang mau belajar.

Guru pendidik adalah guru yang melihat murid-muridnya sebagai intan murni. Guru yang bijaksana adalah guru yang tidak pernah berhenti belajar sepanjang hidupnya, bahkan murid-muridnya pun dijadikan materi dan bahan belajar atau guru. Karena sebenarnya, eksistensi guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi harus sebagai pendidik.

Betapa banyak guru menganggap para murid-muridnya adalah anak-anak kemarin sore, tidak berpengalaman, tidak tahu apa-apa, dan sangat lugu. Namun, guru sebagai orang tua ke-2 memiliki hak untuk memberikan hukuman mendidik bagi “anak-anaknya”

Memahami makna kata mengajar dan mendidik sebagai suatu hal yang sama adalah keliru. Seorang yang hanya mengajar tidak peduli murid-muridnya mengerti atau tidak. Sebaliknya, seorang yang mendidik, akan mengajar hingga siswa mengerti apa yang diajarkan oleh guru. itulah esensi yang sering diabaikan oleh mereka yang menyandang profesi sebagai guru.

Guru pendidik
Ilustrasi Guru pendidik

Dulu saat masih di bangku sekolah, pernah karena teman saya salah menerapkan rumus matematika yang diajarkan hari itu, semua siswa sederet mendapat hukuman. Rambut pelipis kami ditarik dan dicabut.

Setelah itu beliau mengatakan, “itulah konsekuensi yang harus ditanggung oleh orang yang salah. Orang yang salah terkadang tidak mesti menanggung hukuman sendirian. Kesalahan berefek kepada orang yang tidak melakukan kesalahan sekalipun. Belajarlah untuk pahit dan manis bersama.”

Opini Terkait
1 daripada 97

Demikian kalimat beliau yang masih terngiang sampai sekarang. Kami muridnya, tidak pernah kecewa, marah, apalagi dendam kepada guru yang melakukan itu. Justru kami merasa, pesan yang disampaikan dengan kondisi seperti itu sangat berkesan.

Peristiwa yang sudah 20 tahun silam, hingga saat ini pun sangat sulit dan bahkan tidak dapat terlupakan. Seiring berjalannya waktu, sekarang kami mulai merasakan dan mengerti maksud semuanya. Betapa susah mengendalikan manusia dengan berbagai kualitas, dan latarbelakang masing-masing. Pantas saja semua Nabi pernah menggembalakan kambing, binatang yang paling susah dikendalikan, ternyata salah satu tujuannya adalah latihan untuk mengendalikan manusia.

Miris dengan nasib guru hari ini. Siswa akan melaporkan gurunya ke pihak berwajib jika mereka mendapatkan hukuman fisik. Dalam hati saya sedih. Mereka adalah pendidik, orang tua kedua kita. Mereka juga manusia yang memiliki nilai kemanusiaan. Guru itu seorang teladan kehidupan, pemikir masa depan, orangtua kedua dari para murid, dan sedangkan murid-murid hanya titipan Tuhan untuk mendapatkan pendidikan formal. Sangat mulia.

Betapa berbeda siswa hari ini. Mereka tidak lagi menganggap seorang pendidik sebagai orang tua mereka. Kemurnian ilmu bagai cahaya seperti hadis Nabi, mestinya didukung terutama dari segi proses transfer pengetahuan. Posisi guru berbeda dengan murid, tidak sama. Guru adalah subjek dan murid adalah objek. Keberkahan pengetahuan bukan hanya berasal dari pengetahuan yang ditransfer, tapi juga wadah tempat menerima pengetahuan itu.

Guru pendidik berhak menghukum, apapun bentuk hukuman itu. Apapun? Iya apapun! karena hukuman guru pendidik pasti mendidik. Jangan katakan hukuman fisik tidak mendidik, karena Nabi saw mengajarkan “Pukulah anakmu jika dalam 10 tahun dia tidak shalat.” (Baca: aturan Islam memukul anak)

“Tamparlah anakku, sebelum kerasnya dunia menamparnya. Permalukan anakku sebelum, kebodohan mempermalukan dia. Hukum anakku jika itu mendidik dia.” Ungkapan Sudjiwo Tedjo terkait guru yang menghukum peserta didik.

Kerena nila setitik, rusak susu sebelanga. Ternyata pepatah Melayu ini sangat relevan dalam banyak kasus. Artinya, betapa banyak guru yang merasa tidak melakukan hal-hal yang tidak memposisikan dirinya sebagai subjek, tetapi merasa tercoreng, ternodai nama baiknya, merasa dipermalukan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab dalam dunia pendidikan.

Loading...