Guru Tak Semua Sama; Kisah La Beddu 3)

  • Bagikan
kisah-la-beddu
Ilustrasi

Sambungan dari Guru Tak Semua Sama; Kisah La Beddu 2)

Embun pagi menjuntai di ujung daun. Pagi yang dingin tak dipedulikan La Beddu demi melaksanakan tugas sehari-harinya sebagai seorang guru. Riang anak-anak menyambut kedatangannya di gerbang sekolah yang hampir roboh. Disapanya mereka dengan senyum. Mereka berlari ke kelas mendahului gurunya. “Semoga kalian mendapatkan harapan terbaikmu”, doa La Beddu dalam hati.

Bersemangat La Beddu memberikan pelajaran seperti hari biasanya. Silih berganti mereka mengacungkan tangan tanda interaksi proses berhasil. La Beddu memang setiap saat selalu mengupdate metode pembelajaran sesuai kebutuhan. Meski terkadang ada rasa penasaran, kenapa metode yang “berkeliaran” dalam kurikulum, semua berasal dari barat. Modern sudah berubah makna.

Memasuki jam ke-empat pelajaran, staf tata usaha mengetuk pintu kelas. “Pak, dipanggil sama pengawas lembaga dan bidang studi…!”. Katanya setengah teriak. Terdiam sejenak, La Beddu kemudian menjawab, “Sekalian jam istirahat, sudah dekat kok”. Staf tersebut pergi dengan tatapan mata heran.

Pelajaran dilanjutkan beberapa menit, kemudian terhenti ketika staf itu datang lagi, dan berkata, “Kepala sekolah marah, bapak harus datang menemui pengawas”. “Baik anak-anak, semua tetap belajar di kelas masing-masing, jangan ada yang meninggalkan ruangan”, kata La Beddu di depan anak-anak yang lebih dahulu bersorak gembira. Maklum anak-anak.

 

Dengan sopan La Beddu mengetuk pintu ruangan dan memberi salam, tak ada jawaban. Suasana hening sesaat.

“Mana perangkatmu?”, tanya pengawas yang datang dengan suara tegas.

La Beddu menyodorkan perangkat pembelajaran yang memang tiap hari dibawanya sebagai pedoman pelaksanaan pembelajarnnya. Dengan singkat, perangkat pembelajaran telah penuh dengan coretan. “ini salah”, kalimat berulang dalam pendengaran La Beddu. Sesaat terdiam, dia kemudian menyakan hal-hal yang salah dengan tanda coretan. “Tanya sama teman guru lain”, jawab sang pengawas dengan cuek.

Hati dan perasaan La Beddu mulai sesak. Mulai merasa ada yang salah. Pemahaman bahwa pengawas adalah rekan guru, membimbing guru, saling berkordinasi demi kelancaran, kemajuan, melahirkan win solution demi kemajuan pembelajaran tidak ditemukan. Dengan menarik nafas pelan, sambil tertunduk, dengan singkat La Beddu menjawab, “Iya pak”.

15 Menit berselang pembicaraan malah beralih ke topik yang sama sekali tak ada kaitannya dengan pendidikan, sampai sang pengawas pamit ke kepala sekolah. Sontak Kepala sekolah berdiri dan berjalan ke ruangan sebelah, “tunggu sebentar” katanya.

Dari tempat La Beddu sempat melihat lambaian tangan, La Beddu bergegas. “Kamu cari bendahara secepatnya, bilang pengawas mau pulang”, katanya kepadaku.

kisah-la-beddu
Ilustrasi

Dengan pikiran yang penuh tanda tanya, kujalankan perintah itu. Bendahara sekolah yang kebetulan mengajar di salah satu kelas kutemui. Begitu mendengar pesan dari kepala sekolah, tanpa ba bi bu segera meninggalan kelas, seiring dengan sorak sorai anak-anak.

La Beddu tak bisa berbuat apa-apa. Tak ada lagi pikiran “maklum anak-anak”. La Beddu terdiam lesu. Dua kelas proses pembelajarannya terganggu akibat salah memposisikan diri, salah memahami pentingnya pendidikan, salah akibat sistem.

Suara bel berdentang tanda waktu istirahat telah tiba.

  • Bagikan