Haji Wanita Tanpa Ijin Suami

Haji Tanpa Ijin Suami

Haji wanita tanpa izin suami. Ibadah haji, hukumnya adalah wajib atas wanita, sebagaimana diwajibkan atas pria, keduanya sama dihadapan hukum haji, ketika wanita tersebut telah memenuhi syarat haji.

Ada permasalahan yang timbul berkaitan dengan ibadah haji wanita bersuami, yaitu masalah izin dari suami. Di satu sisi, wanita tersebut ada kemampuan secara materi, baik untuk bekal maupun biaya perjalanan, seperti mendapatkan harta warisan atau karena tugas dan fasilitas dari tempat bekerja, namun di sisi lain suami tidak ada kemampuan untuk pergi beribadah haji dengan istrinya.

Apakah izin suami termasuk hal yang harus didapatkan oleh wanita tersebut ketika hendak berhaji, kemudian bagaimana hukumnya apabila suami tidak memberi izin namun tetap pergi juga, atau suami bahkan melarangnya, karena gengsi atau sebab lain, dengan anggapan bahwa istri harus taat kepada suami dalam keadaan bagaimanapun, bahkan kewajiban kepada orang tua akan diakhirkan apabila harus berseberangan dengan kewajiban terhadap suami.

Dalam masalah izin suami ini, ulama ada yang membolehkan adapula yang melarang. Ulama yang membolehkan, mengatakan sah tidaknya haji tidak menjadi persoalan bagi wanita untuk meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya apabila hendak pergi menunaikan ibadah haji fardu. Diizinkan atau tidak diizinkan, wanita tersebut boleh pergi menunaikan ibadah haji, meskipun ada anjuran untuk meminta izin, sesungguhnya tiada hak bagi suaminya untuk mencegah atau melarang istrinya dalam keadaan yang demikian.

Adapun ulama yang melarang berpendapat sebaliknya, bahkan bukan hanya izin suami yang diperlukan, bahkan keikutsertaan suami menjadi salah satu syarat diperbolehkan ibadah haji, keberadaan suami atau muhrim dalam berhaji merupakan perwujudan istitha’ah bagi wanita.

Fuqaha juga berselisih pendapat mengenai, apakah untuk wajibnya haji seorang wanita disyaratkan harus ada suami atau seorang muhrim yang menyertainya dalam perjalanan melaksanakan ibadah haji.

Apabila dilihat dan dicermati lebih jauh, akan dapat diketahui bahwa antara ayat al-Quran yang secara umum mewajibkan ibadah haji dengan hadis yang secara umum pula membatasi wanita yang apabila bepergian haruslah disertai oleh muhrim atau suaminya tidaklah bertentangan satu dengan yang lain, karena sesungguhnya muhrim atau suami bagi wanita berkaitan dengan haji adalah termasuk unsur istitha’ah atau kesanggupan menunaikan ibadah haji yang menjadi salah satu dari syarat wajib haji, ketentuan semacam ini oleh al-Quran dinyatakan secara mutlak.

Dalam al-Qur’an hanya ada persyaratan istitha’ah saja, sedangkan ketentuan unsur apa saja yang termasuk dalam istitha’ah tidak ada. Oleh karena itu pertentangan antara dua pernyataan umum itu sebenarnya tidak ada. Bahkan tidak pula dikatakan bahwa istitha’ah yang disebutkan ayat al-Quran itu sudah diterangkan maksudnya, yaitu bekal dan kendaraan saja, sebab ternyata masih ada unsur yang lain, yaitu adanya muhrim dan suami yang menyertainya.

Namun ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain, mengenai kewajiban seorang wanita, yaitu:

Ketaatan Isteri pada Suami

Sesungguhnya kewajiban istri yang menjadi hak suami banyak hal, yang penting diantaranya adalah sebagaimana diterangkan oleh Imam al-Ghazali:

Opini Terkait
1 daripada 40

“Sesungguhnya hak-hak suami atas istri banyak macamnya, yang paling penting ada dua macam, yang pertama adalah menjaga dan memelihara (diri dan suami) sedangkan yang kedua adalah menghindarkan permintaan (kepada suami) diluar kebutuhan (yang wajar).”

Imam al-Ghazali bahkan menukil hadis yang menerangkan ketika taat kepada suami berseberangan dengan tata kepada orang tua, maka taat kepada suami yang didahulukan, yakni ketika wanita yang ditinggal bepergian suaminya untuk tidak bepergian selama suaminya tidak ada dirumah maka ketika orang tua wanita ini sakit hingga meninggal tetap berada dirumah, oleh Rasulullah tindakan wanita ini direstui hingga dosa orang tuanya itu diampuni karena taatnya kepada suami.

Sebagimana diriwayatkan oleh Nasr bin Muhammad Ibrahim Samarkand dalam sebuah sebuah hadis yang berbunyi:

“Atha’ meriwayatkan dari Ibnu Umar RA ia berkata: Seorang wanita datang kepada Nabi saw dan berkata: Wahai Rasulullah, apa hak suami atas istri, maka Nabi bersabda: “Yakni hendaklah (istri) tidak melarang suaminya untuk menggaulinya meskipun sedang berada diatas kendaraan, dan hendaklah (istri) tidak menjalankan puasa satu hari saja tanpa izin suaminya, kecuali puasa Ramadlan, sedangkan ia tetap berdosa, dan hendaklah (istri) pergi keluar dari rumah tanpa izin suaminya, dan apabila tetap pergi (tanpa seizin suami) maka malaikat Rahmat dan malaikat Azab melaknatinya sehingga ia pulang.”

Secara tersirat, hadis tersebut menyatakan bahwa, ketika hak suami yang menjadi kewajiban istri tersebut tidak sejalan atau justru berseberangan dengan hak Allah yang menjadi kewajiban manusia, dalam hal ini adalah haji yang wajib dilaksanakan dan menjadi salah satu rukun Islam.

Hak Allah dan Hak Hamba Allah menurut Kedudukan Masing-Masing

Pembahasan ini ditujukan kepada persoalan yang timbul ketika disatu sisi ada kewajiban istri untuk taat dan memberikan hak suami untuk tidak pergi keluar rumah tanpa izin suami, namun di sisi lain ada kewajiban untuk taat dan memperhatikan hak Allah yang menjadi kewajiban bagi hambanya.

Kenapa hari ibu
Ilustrasi Muslimah

Mengutamakan hak Allah serta mengabaikan hak suami adalah kewajiban hamba termasuk istri, maka dengan atau tanpa izin suami, istri tetap boleh dan wajib untuk pergi menunaikan ibadah haji yang menjadi hak Allah.

Ketentuan diatas memberikan pengertian bahwa ibadah atau mengabdi kepada Allah harus dilakukan pada segenap aspek hidup, dan tidak boleh meletakkan sesuatu yang dapat menghalanginya pada jalan menuju kepada pengabdian Allah yang menjadi satu-satunya alasan manusia diciptakan Allah swt.

Hakekat ibadah atau mengabdi itu adalah mensyukuri nikmat Allah swt, maka atas dasar inilah tidak dibenarkan, baik oleh syara’ maupun oleh akal untuk menyembah atau mengabdi kepada selain yang memberi nikmat yang berupa hidup, wujud dan segala yang berhubungan dengan keduanya, termasuk di dalamnya adalah kemampuan untuk menunaikan ibadah haji.

Loading...