Hanya Satu yang Tak Berubah di Dunia Ini

0 11

Kita masih ingat, dulu tak ada sms dan telepon, sehingga jika ingin bertemu seseorang, janjiannya via pesan mulut ke mulut. Kalau jauh, kirim surat atau telegram. Syukur-syukur bisa telepon antrian di wartel (warung telekomunikasi). Zaman berganti, hal itu berubah. Lahirlah telepon selular. Saya masih ingat saat memiliki handphone pertama kali, harga kartu prabayar waktu itu mencapai 2 jutaan. Jarang hp berbunyi, karena pengguna memang masih jarang.

15 tahun lalu, kita tak mengenal Facebook. Tapi kini, raja media sosial dikuasai dengan pengguna milyaran. Untuk mengirim pesan publik yang tidak instan, tak perlu lagi kirim surat atau sms. Tulis saja status fb dengan menandai objek pesan yang dituju, atau bisa juga menggunakan facebook messenger hasil akusisi yahoo messenger. Inbox…

Saking banyaknya pengguna facebook dengan berbagai fitur mudah dan gratis, akhirnya menjadi media sosial yang dianggap kurang serius. Banyak hoax dan hal tak penting lahir dari permintaan, “apa yang Anda pikirkan.” Lalu lahirlah Twitter. Usianya kini dua tahun lebih muda di bawah facebook. Twitter menawarkan fitur cuit dengan jumlah huruf terbatas. Itu membuat pengguna hanya mencuit yang penting-penting saja. Dari sinilah kemudian, twitter lebih banyak digunakan pengguna yang lebih serius dibanding Facebook. (Baca: perbandingan Facebook dan Twitter)

Waktu terus berputar, lahirlah Whatsapp. Aplikasi mengirim pesan instan dan juga bisa menulis status. Whatsapp kini menjadi raja aplikasi chat yang mengungguli BBM yang juga pernah merajai aplikasi chat di tahun 2005. BBM kini mati seperti Path setelah bertahan 10 tahun. Menyusul G+ milik google pun akan menyusul tutup layanan.

Eksis tak cukup jika orang lain tak tahu. Inilah prinsip tak sadar yang terbangun sehingga dimanfaatkan Pinterest, situs tempat apload poto dan gambar. Seiring waktu, Pinterest akhirnya kalah oleh Instagram. Sedikit berbeda dengan video yang diunggah di youtube, kini mulai berubah bukan lagi orientasi eksis tapi mencari pundi pundi dollar di sana.

Masih banyak bentuk perubahan yang terjadi. Perubahan bukan hanya di dunia maya. Perubahan kehidupan anak, cara bermain, cara belajar, cara mengajar, sampai perubahan alam yang di Amrik sana membeku sedangkan di Ausi meleleh.

Apa yang kita bisa petik dari perubahan-perubahan ini? Pertama, perubahan itu harus diterima dan disikapi secara positif. Boro-boro melarang orang bermain Facebook, tapi yang dijaga itu bagaimana menjadi pengguna yang baik. Tak akan mampu melarang orang publish poto gambar di instagram, tapi kita wajib menjaga bagaimana orang mempublish poto dan gambar yang tidak melanggar aturan dan etika. Dst.

Kedua, perubahan-perubahan yang terjadi mengajarkan kita akan pentingnya inovasi kreatif. Inovasi yang menyesuaikan diri dengan perubahan akan membuat kita kuat bertahan. Hari ini, jika anda berdagang di facebook dengan status, pikirkan inovasi kreatif baru berdagang di tempat yang sama. Dst. Ingat, yahoo pernah menolak diakusisi oleh google dengan harga ratusa triliun. Hari ini, yahoo menawarkan dengan harga 15 M, namun ditolak karena google sudah menguasai semua fitur yang disediakan yahoo.

Ketiga, perubahan jangan sampai merusak hal-hal fundamental kehidupan kita. Akidah, akhlak, kultur yang baik, budaya malu, dll. Meski konten agama mengalami perubahan penafsiran, tapi agama tetap bertahan dengan prinsip ketuhananya. Maka sejatinya kultur yang baik, budaya malu, juga bertahan dan tidak tereduksi oleh perubahan zaman.

Perubahan adalah keniscayaan. Semua akan berubah. وتلك الاىام نداولها بين الناس. Hanya satu yang tidak berubah di dunia ini…. yaitu ketentuan bahwa semua akan berubah, itu tidak berubah

Komentar
Loading...