Melihat Perspektif Kepercayaan Terhadap Keris

  • Bagikan
perspektif keris
Sumber: nasionalisme.co

“Jelang tahun politik, para pemburu rejeki dari bisnis keris pasti seneng. Banyak para pemburu keris kuno yang blusukan ke dusun-dusun. mereka berharap dapat barang bagus dengan harga murah dan bisa dijual lagi, tapi yang penipu juga banyak. Misalnya, pakai bubuk di jempol agar ketika dioles ke bilah keris keluar asap.” Demikian rentetan tweet tentang keris yang ditulis oleh akun @ridlwanjogja.

Keris bukan barang baru lagi di telinga masyarakat Indonesia, terutama daerah Jawa. Keris banyak ditemukan di Jawa, Sumatera, Bali dan pulau-pulau lain di Nusantara, dan juga telah digunakan di Semenanjung Melayu, Filipina Selatan dan Thailand sejak abad ke-13.

Sampai saat ini, beberapa orang percaya keris tidak hanya menjadi senjata tetapi juga pusaka keluarga dan simbol status. Tak heran, sejak beberapa tahun lalu, wacana menjadikan hari keris sebagai hari Nasional sudah digemborkan. Tak heran pula, jika harga 16 keris Irjen Djoko Susilo harganya 1.5 Milyar.

Secara ilmiah, pandangan mengenai sesuatu yang memiliki kekuatan cukup sering untuk membuat efek dan disebut efek plasebo. Dan ini adalah masalah keyakinan, yang tentunya bukan bagi ajaran Islam. Banyak orang mengatakan, keris sering dapat dipakai untuk menangkal masalah. Nilai sebuah keris mungkin memiliki sebagai objek spiritual sepenuhnya tergantung pada kepercayaan pemilik.

Ada kepercayaan luas bahkan di kalangan terpelajar, bahwa keris merupakan representasi dari ular atau Naga. Bisa jadi jika dari kesamaan antara bentuk meliuknya. Berbicara tentang naga sebagai representasi dari keris, kita tidak berbicara hanya seekor ular, tapi mengacu pada kelas makhluk semi-ilahi, setengah manusia dan setengah ular yang terdegradasi ke kerajaan bawah tanah dalam aliran kepercayaan Brahma. Dalam sebagian ajaran itu, konon ketika mereka terlalu padat di bumi, dan sebagian individu berbentuk Naga.

Berbicara keris sebagai hal yang memiliki kekuatan lain, maka pertimbangan yang sering muncul tergantung perspektif apa yang dipilih. Banyak yang berpendapat bahwa perspektif budaya menjadi periode awal, dan bergerak lebih jauh dari periode sebelumnya, kemungkinan meningkat dari distorsi kumulatif perspektif budaya menjadi sebuah keyakinan.

Jika melihat dari proses pembuatan, keris di-ulek dari berbagai logam yang berbeda yang terdiri dari dua bahan, yaitu logam berasal dari tanah, dan logam yang berasal dari atmosfer. Bahan dari atmosfer berarti meteor dan asteroid. Perpaduan antara tanah dan atmosfer inilah kemudian dianggap sebagai pernikahan kosmos dan dunia, yang oleh sebahagian orang Jawa disebut “pernikahan antara BOPO angkoso dan ibu pertiwi,” dan keajaiban yang dihasilkan diistilahkan dengan pamor.

pamor keris
Ilustrasi sumber youtube.com

Pamor kemudian menjadi fitur yang paling mencolok dari keris, jauh dari sekedar desain meliuk sebuah besi. Dari pamorlah harapan tertentu hadir. Pandangan sebahagian masyarakat terhadap pamor ini sebenarnya berawal dari kebiasaan yang mungkin dari pengalaman, kepercayaan, mitos, dan legenda. Pandangan ini berubah sesuai dengan perubahan dalam sistem nilai dan pola-pola keyakinan budaya yang mereka mengadopsi.

Tapi dengan menggunakan dua perspektif tentang keris seperti ini, maka secara tidak langsung justru mengkalim dirinya sebagai orang yang konservatif, menghargai dan mempraktikkan cara hidup yang tampaknya seakan tidak berubah selama beberapa generasi, padahal perubahan senantiasa terjadi.

  • Bagikan