Hikmah Puasa dari Sisi Nilai Sosiologis

Hikmah Puasa

Puasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga. Ada banyak hikmah di balik ibadah puasa. Ada hikmah spiritual, hikmah puasa sisi psikologis, hikmah puasa dari sisi kesehatan, maupun hikmah puasa dari sisi sosiologis.

Salah satu bentuk jiwa keberagamaan yang telah lama dikembalikan umat Islam pada periode awal adalah sikap keberagamaan yang intrinsik, artinya aktualisasi ajaran agama tidak hanya bersifat formalitas belaka, tetapi juga mampu menyentuh substansi dari suatu ibadah.

Hikmah puasa dari sisi nilai sosiologis adalah satu bentuk cara mengingatkan orang kaya kepada penderitaan fakir miskin sehingga diharapkan nantinya ia mampu mengasihi dan menyayangi, yakni dengan cara ditempatkannya orang kaya dalam kesempitan.

Dengan tujuan orang tersebut bisa sekaligus ikut merasakannya, dengan prinsip bahwa cara untuk mengetahui perasaan orang lapar maka orang tersebut harus ikut berlapar-lapar secara bersama-sama, tidak memandang antara orang miskin ataupun kaya.

Puasa yang pada hakekatnya bukanlah sekedar menahan lapar dan dahaga. Puasa bukan pula sekedar menggugurkan kewajiban.

Opini Terkait
1 daripada 303

Dalam puasa nilai sosiologis lebih efektif dibanding yang diperoleh dari salat. Di mana pada salat orang kaya dan miskin, besar maupun kecil bisa ditempatkan di dalam satu lingkungan pemukiman yang sama, dapat berkumpul lima kali sehari dalam satu masjid dengan persamaan yang sempurna dan dengan cara itu hubungan sosial yang sehat dapat terbina. Namun dalam puasa terdapat gerak dan masa yang tidak hanya terbatas pada persamaan lingkungan atau bahkan pada satu masjid saja, tetapi melingkupi seluruh dunia.

Orang kaya dan miskin pada bulan tersebut bisa berdiri berjajar bersentuh pundak dalam satu barisan, dalam satu masjid padahal pada hari-hari biasa dari masing-masing pribadi mereka hidup dalam lingkungannya yang berbeda karakter, kebiasaan dan sebagainya.

Hal itu bisa dilihat dari kebiasaan kecil diantaranya adalah bagaimana dalam makan saja orang kaya bisa saja selalu duduk di depan meja yang dipenuhi dengan berbagai makanan serba enak dan mewah, sehingga mereka bisa saja menyantap empat bahkan enam kali dalam sehari, sedangkan orang miskin tidak dapat memperoleh makanan padahal sekedar untuk menghilangkan rasa laparnya meskipun hanya dua kali sehari.

Nilai sosiologis dalam puasa terbentuk otomatis dimulai dari kesadaran bahwa orang miskin seringkali merasakan pedihnya lapar, sedangkan orang kaya hanya merasa heran mengapa mereka bisa kelaparan. Memang secara logika saja bagaimana orang dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain dan dapat bersimpati kepadanya kalau dia belum merasakan sendiri seperti apa yang dialami orang lain tersebut.

Halangan yang terdapat diantara kedua kelas tersebut terlalu besar dan halangan tersebut hanya dapat dihilangkan atau minimal dikurangi apabila orang yang kaya dapat ikut merasakan pedihnya lapar, seperti saudara-saudara mereka yang miskin yang tidak dapat makan padahal untuk sehari sekali saja.

Sehingga dengan jalan tersebut seorang kaya yang selalu berkecukupan akan dapat merasakan dan menyadari bahwa betapa pahitnya dan getirnya rasa lapar, dahaga seperti yang dialami fakir miskin. Sehingga dari hal itu dapat menjadi pendorong ia untuk mau memberikan bantuan dengan penuh keikhlasan kepada fakir miskin yang memang butuh bantuan.

Komentar
Loading...