Hikmah Unik di Balik Pandemi Corona Covid 19

Hikmah Pandemi Corona

Dalam Mu’jam Taj al-Arus disebutkan bahwa hikmah adalah pengetahuan semestinya akan hakikat segala sesuatu. Hikmah juga kadang berarti pesan sebagai nasihat. Misalnya dalam al-Quran surah al-Baqarah ayat 231.

Kita gunakan dua pengertian hikmah itu saja untuk melanjutkan artikel ini. Jadi, jika dikatakan ada hikmah di balik pandemi corona Covid 19, maksudnya ada pengetahuan semestinya dan hakikat pengetahuan itu pada dasarnya adalah pesan nasihat kepada manusia.

Opini ini saya tulis tiada lain untuk membesarkan hati dari rasa galau, khawatir, rasa terancam akan covid 19. Oke, corona Covid 19 menakutkan, jangan khawatir, hentikan semua itu, karena ada pesan, ada hakikat, ada nasihat besar di balik itu.

Baca: menggapai hikmah

Ada banyak hikmah di balik pandemi corona Covid 19 yang sudah diungkapkan oleh ulama, sebut saja AA Gym, Quraish Shihab, dan tokoh lainnya. Tak elok tulisan ini mengulang hikmah yang sudah disebutkan guru-guru kita itu.

Olehnya itu, hikmah di balik pandemi corona Covid 19 yang akan saya sebutkan, adalah sesuatu yang unik, menjengkelkan karena berbau cocoklogi, tapi insya Allah memberi manfaat

Susahnya mendidik anak

Social distancing yang berdampak sekolah akhirnya diliburkan, menuntut seorang anak belajar di rumah. Interaksi antara guru dan murid berlangsung dalam jaringan (daring). Itupun hanya menyita sedikit waktu anak di rumah.

Interaksi anak otomatis lebih banyak bersama keluarganya, bersama kedua orang tuanya. Secara tidak langsung kedua orang tua harus mengambil alih peran guru di sekolah. Yah, orang tua praktis harus menjadi guru.

Sampai hari ini, saya sudah menemukan dua orang tua mengeluh akan hal itu di dunia nyata. Mereka berkata, kapan hal ini berakhir. “Cauna mampii anak ku.” Saya sudah tidak sanggup mendidik anak lagi. Katanya.

Baca: mendidik anak melalui cita-cita

Di dunia maya apalagi. Puluhan status curhat akan susahnya mendidik anak, meski itu anak sendiri. Bahkan dalam salah satu video, seorang ayah memukul buah hatinya karena jengkel dengan ulahnya saat belajar.

Bukankah ini adalah sebuah hikmah dan nasihat yang besar? Pandemi corona Covid 19 seakan berpesan, “Sekarang rasakan bagaimana susahnya mendidik anak. Makanya kalau anak mu dididik dengan sedikit ketegasan, sedikit pelajaran tentang sakit, jangan main lapor!”

Sekarang banyak guru sudah tak memperhatikan muridnya secara mendalam. Mereka hanya menunaikan kewajiban, tak peduli berhasil atau tidak. Kenapa? Karena mereka kadang takut melangkah terlalu jauh.

Orang tua sang anak di rumah, kadang merasa lebih hebat dibanding guru di sekolah. Menganggap apa yang dilakukan guru salah. Padahal memukul bagi saya juga adalah salah satu bentuk mendidik.

Ada seorang guru SMK di Makassar membiarkan muridnya merokok. Iya! Dia tidak menegur, alasannya takut. Takut anak itu melawan, lalu diberikan ketegasan, lalu orang tuanya melapor.

Inilah hikmah di balik pandemi Covid 19. Corona seakan berkata, “Wahai orang tua, sekarang rasakan susahnya mendidik anakmu. Pukullah, tak ada yang melapor seperti kamu melaporkan gurunya!”

Menjawab phobia terhadap Islam

Memangnya ada di negara ini yang phobia terhadap Islam? Saya jawab entah! Karena phobia adalah ketakutan terhadap fenomena sesuatu secara berlebihan. Takut itu hanya bisa dilihat dari indikasinya.

Orang yang takut terhadap Islam akan alergi terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan Islam dan syariat Islam. Kenapa demikian? Sederhana kok, di mana ada Muhammad, di situ ada Abu Jahal.

Secara global, phobia terhadap Islam tak perlu dipertanyakan lagi. Kejahatan phobia di eropa tertinggi di dunia, walaupun dikemas dengan bahasa rasis. Di Amerika, di Italia, dan di negara besar lainnya.

Opini Terkait
1 daripada 302

Pandemi corona Covid 19 datang dan membuat mereka takut, tapi juga membawa pesan sebagai nasihat bahwa Islam itu benar, tak perlu takut!

Di Jerman, adzan diminta dikumandangkan. Warga Jerman merasa tenang di tengah ketakutan stay at home yang mendera mereka.

Di Italia, seorang imam diminta membacakan doa kenegaraan dengan bahasa Arab dan doa dalam ajaran Islam. Ini terjadi setelah Italia luluhlantak karena corona.

Di Prancis, para peneliti akhirnya mengakui kalau wanita berhijab dan bercadar adalah manusia yang paling kecil kemungkinan terpapar virus asal Wuhan ini.

Di Amerika, sebuah baliho raksasa terpampang yang tulisannya pesan Rasulullah Muhammad saw.

Hikmah di balik corona
Papan iklan berada di Chicago, IL, dekat Bandara O’Hare.

Corona seakan berkata, “Lu mau apa? Takut terhadap Islam? Padahal ajaran Islam memberikan jawaban atas wabah yang menimpa mu! Bersih, tidak makan hewan yang dilarang, social distance, dll.”

Pandemi Corona membawa hikmah yang sangat besar di negara-negara yang sudah tidak diragukan lagi ke-phobia-an mereka terhadap Islam. Entah di Indonesia!

Pentingnya cadar hijab dan Azan

Dua tahun lalu pas bulan bulan yang sama, April, Sukmawati, putri proklamator membuat heboh dengan beberapa bait puisinya.

Aku tak tahu Syariat Islam

Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah

Lebih cantik dari cadar dirimu…

 

Aku tak tahu syariat Islam

Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok

Lebih merdu dari alunan azan mu

Banyak yang melaporkan hal itu sebagai sebuah bentuk penistaan agama. Tapi entah, kasus ini tidak berlanjut. Itulah hebatnya toleransi muslim Indonesia, yang tidak suka akan keributan. Memaafkan lebih baik.

Terlalu kecil kalau pandemi corona Covid 19 hadir membawa hikmah untuk menjawab puisi itu. Yang jelas, sekarang kita lebih butuh cadar di banding konde. Kita lebih butuh suara azan dibanding suara kidung. Kita tahu atau tidak tentang syariat Islam!

Mengenai cadar juga pernah riuh di negeri ini. Dengan alasan aturan berpakaian, cadar banyak dilarang digunakan saat kerja di kantor.

Seorang dosen dipecat. Seorang pegawai resign. Seorang mahasiswa dipersulit, dikucilkan. Dan masih banyak kisah-kisah kehebatan oang beriman saat mereka melaksanakan keyakinannya yang dilindungi Undang-Undang.

Azan? Ribut kita dengan pengeras suara saat azan. Baca: menjawab panggilan Tuhan

Meiliana, seorang warga Tanjungbalai, Sumatera Utara divonis 18 bulan atau 1,5 tahun penjara karena dianggap melanggar Pasal 156 KUHP, yang awalnya keluhkan suara azan.

Pandemi corona Covid 19 datang, dan kini kita dipaksa menggunakan masker yang bentuknya pas seperti cadar. Shalat jemaah di masjid ditiadakan dulu, yang akhirnya memaksa kita rindu akan suara azan.

Corona seakan berkata, “Sudahlah, cadar itu syariat kok, tuh manfaatnya seperti masker yang kamu gunakan sekarang. Tak usah ribut soal azan, toh sekarang kamu rindukan!”

Terakhir saya ingin mengatakan, hikmah di balik pandemi corona Covid 19 ini berbau cocoklogi. Yah, ilmu mencocok-cocokan sehingga terkesan sebagai hikmah.

Jika di hati pembaca terbersit “iya di, benar juga” maka opini yang saya sampaikan adalah hikmah. Tapi jika tidak, maka ini adalah cocoklogi.

Semoga bermanfaat!

Komentar
Loading...