HMI dan Media Sosial; Refleksi Hari Lahir HMI ke-73

HMI dan Media Sosial

“Dalam setiap momen, akan ada kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di sana.” Ini mitos yang masuk akal, karena HMI bukan underbouwnya Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama atau ormas Islam manapun, apalagi anak partai.

Menjadi anggota HMI juga tak perlu syarat bejubel, cukup Islam dan mahasiswa. Mau Islam Sunni, Syiah, Murjiah, Muktazilah, mau bercadar, cingkrang, apa saja asal Islam. Modal inilah menurut saya, HMI bisa bertahan sampai hari ini.

73 tahun adalah usia yang menakutkan. Andai HMI adalah manusia, maka hari ini sudah memasuki usia renta. Masa dimana manusia sulit berbuat banyak karena tenaga sudah berbeda.

HMI diprediksi secara ilmiah akan mengalami kemunduran jika tidak berbenah. Bahkan sudah banyak tokoh HMI sendiri yang me-lisan-kan agar HMI sebaiknya bubar.

Dari 44 Indikator Kemunduran HMI karya Agussalim Sitompul, yang paling nyata kelihatan adalah memudarnya tradisi intelektual dan daya kritis yang menurun. Hal ini bisa jadi disebabkan pola pengkaderan yang masih mengikuti pola lama kontra dengan gaya calon mahasiswa yang makin manja.

Para kader maupun alumni Himpunan ini sepertinya terjebak tapi tidak mampu berbuat banyak. Mereka tahu, kalau hari ini era media sosial, tahu kalau informasi bertransformasi sangat cepat, tapi toh hanya bisa menjadi konsumen.

Kalau dulu duduk dalam satu lingkaran bersama, yang terjadi adalah diskusi panas, debat, filsafat, siasat, tuhan pun mereka “bedah”. Tapi sekarang, pemandangan itu sudah tidak ada. Yang terjadi adalah pubing. Mereka sibuk dengan gadget masing-masing!

Group-group media sosial HMI bertebaran, banyak, tapi isinya? Sangat jauh dari aroma intelektual. Entah apa yang membuat mereka loyo, sehingga menulis sesuatu sangat sulit dan lebih menikmati tulisan orang lain, disebar, tanpa pilah. Kesadaran serasa hilang, kalau hal itu tidak ada dalam pengkaderan.

Kader HMI pasti sudah ditempa dan dibina bagaimana menganalisa masalah, menemukan solusinya, tapi sayang, di media sosial, seakan buntu bagaimana menyampaikan hal itu kepada publik yang dikemas dalam isu yang menarik.

HMI butuh obat kuat. Caranya, kader HMI harus hadir sebagai sosok yang pernah ditempa dengan Nilai Dasar Perjuangan. Karena hari ini adalah era media sosial, kader himpunan harus mampu hadir dan mendapat perhatian di media sosial dan hadir di gadget setiap orang. Bukan sebagai pendengar, atau hanya bisa copy paste gagasan orang lain.

Sejatinya, kader HMI mampu membuat konten media sosial berdasarkan analisis yang mapan dan berani, atau sekedar status Facebook yang menarik perhatian, dan menyebar sesuai target.

Presiden Jokowi saat menghadiri acara HARLAH HMI ke-73

Saya salut dengan gerakan media sosial seperti salafi. Terlepas dari konten apa yang mereka sebar, mereka seperti satu komando. Tulisan provokatif dengan mudah mereka sebar sesuai target.

Anggota group media sosial mereka seakan tahu apa yang akan mereka harus lakukan. Mereka tidak banyak, tapi mereka tidak terjebak!

HMI? Ah sudahlah! Saya yang pernah mendapat mandat di himpunan ini bersedih. Kita banyak, tapi kayak buih di pantai. Kita punya gagasan, tapi tidak percaya diri dan tidak tahu cara menyampaikan.

Lebih mnyedihkan lagi, masih banyak yang berbangga seakan HMI baik-baik saja. Stop berbangga dengan senior! Karena mereka hidup di zaman yang berbeda!

Berikan Komentar

Alamat email bersifat pribadi