Andai Semua Seperti Abu Bakar, Jamaah di Masjid Bisa Jadi Sarana Herd Immunity

Jemaah membentuk herd immunity

Herd immunity adalah kekebalan yang terbentuk dari individu yang banyak sehingga melahirkan kelompok dan komunitas yang kuat. Rata-rata virus kalah dengan metode ini.

Kongkritnya seperti ini; di sebuah kampung dengan 500 jiwa, Beddu terpapar corona. Dia menularkan ke A, B, C, D, dst, sampai satu kampung terpapar.

Dari 500 yang terpapar, 495 sembuh karena kekebalan tubuh mereka yang tinggi, dan A, B, C, D termasuk Beddu dinyatakan meninggal.

Orang yang selamat, mereka saling berhubungan, berinteraksi, bekerja sama satu sama lain. 495 orang inilah yang menjadi herd immunity. Jadi, meski Becce datang dari Wuhan dengan membawa Covid 19 setelah itu, 495 ini tidak akan terpengaruh, mereka sudah kebal.

Ibarat, sesendok racun yang dimasukan ke dalam sumur yang airnya penuh, racun tak akan terasa, kalah banyak oleh air. Kalah oleh banyaknya air yang menyatu tak terpisah.

Herd immunity sangat diharapkan terjadi tapi juga tidak diharapkan terjadi dalam kondisi seperti ini. Kenapa? 5 orang dari 500 adalah contoh kecil saja. Bagaimana kalau 250 juta, berapa yang meninggal?

Olehnya itu, keberadaan vaksin sangat diharapkan sehingga terbentuknya herd immunity tidak membuat was-was berlebihan, meminimalisir persentase korban, dan meredakan kurva penularan agar tidak membesar.

Hubungan jemaah di masjid dengan herd immunity

Masjid adalah rumah Allah. Rumah Allah diserang virus? Sebuah pernyataan yang lucu tentunya. Masjid tidak diserang virus, tapi jemaah yang membawa para penyerang masuk.

Masjid adalah tempat orang bersih. Dan diisi oleh orang-orang yang bersih dengan keimanan yang kokoh. Siapa yang meragukan rahasia wudhu yang jika sekelas influensa, cukup dengan istinsyaq saja.

Baca: secuil rahasia wudhu

Banyak kisah keajaiban masjid. Tsunami meluluhlantakkan semua yang dilalui, tapi yang tersisa hanya masjid. Lalu kenapa, corona seperti membungkam kehebatan mistis fantastis dari sebuah masjid?

Dalam shalat berjemaah, ada perintah luruskan dan rapatkan shaf. Ada kekuatan di sana. Ada rahasia di balik shaf yang kuat. Kekuatan tubuh masing-masing jemaah akan bersatu dalam shaf yang lurus.

Rumah Allah, tempat yang bersih yang diisi orang bersih, kejaiban masjid, shaf yang lurus dan kuat, butuh apalagi? Kiranya itu cukup untuk membentuk kekuatan baru sehingga lahir herd immunity

Tapi tunggu dulu! Ada hal yang penting untuk diketahui. Saat Rasulullah saw ke masjid dan diganggu bahkan nyawa terancam dengan kelebatan pedang, beliau tetap ke masjid. Tapi saat hujan lebat atau datang wabah tha’un, beliau membolehkan sahabat tidak ke masjid. Why?

Saya melihat salah satu sebabnya adalah bahwa tidak semua yang datang di masjid, sama. Iya, mereka berbeda. Ada yang ke masjid ikut-ikutan, ada yang pamer, ada yang imannya bagus, dan ada yang tidak. Yang tidak bagus inilah yang akan diselamatkan!

Andai semua seperti sahabat Nabi saw, Abu Bakar, saya yakin dengan jemaah di masjid bisa dijadikan sarana membentuk herd immunity melawan corona.

Saat perang Tabuk, Abu Bakar ra menyerahkan seluruh hartanya kepada Rasulullah saw untuk digunakan di jalan Allah.

Rasulullah bertanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?”

Opini Terkait
1 daripada 302

Abu Bakar menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya”. Ini bermakna tak ada sedikitpun harta yang ditinggalkan Abu Bakar untuk keluarganya.

Sepintas membaca kisah di atas, terkesan seolah-olah Abu Bakar ra adalah orang berpaham Jabariah. Tak perlu usaha, serahkan sepenuhnya kepada Allah. Pasrah saja begitu kepada Allah, tanpa berusaha terlebih dahulu, atau istilah kita tidak mempunyai sifat jaga-jaga.

Benarkah demikian? Tidak! Abu Bakar ra, memang tidak meninggalkan harta material kepada keluarganya, tapi jauh sebelum itu keluarganya dibekali dengan keterampilan yang paling dibutuhkan saat itu. Bekal yang ditinggalkan bukan bola pendek tapi bola panjang.

Istrinya Ummu Ruman dokter kandungan yang membantu persalinan ibu-ibu di Makkah. Anak gadisnya dibekali keterampilan menjahit dan bikin anyaman tikar yang sangat dibutuhkan di masa itu. Begitu juga anak laki-lakinya diberikan keterampilan beternak dan usaha-usaha yang diperlukan siapapun setiap hari.

Kalau dibandingkan sekarang, istri seorang dokter ahli kandungan, anak perempuan ahli tata busana dan tata boga, anak laki-laki ahli komputer, terampil dalam bisnis dll,. Itulah bekal bola panjang.

Kedua, Abu Bakar sudah sampai pada tingkat tawakal yang sempurna, keimanan yang kokoh, yang tidak goyah hanya karena pengaruh dunia. Jangankan harta, nyawa pun dia serahkan demi perjuangan Rasulullah saw.

Dunia seakan sangat dekat dari matanya. Saking dekatnya, dunia sudah tidak terlihat lagi. Bukan tak butuh dunia, tapi harapan yang ditawarkan dari keindahan duniawi tidak mampu menutupi keindahan ukhrawi yang lebih jelas di mata nya.

Segala hal yang akan mendukung keimanan itu sudah beliau siapkan. Hingga apapun rintangan dan godaan tidak mampan di hadapan Abu Bakar.

Dua hal yang dimiliki Abu Bakar ra yang tidak dimiliki semua orang. Andai dimiliki oleh semua orang dalam kondisi pandemi covid 19, semua ya, maka jemaah di masjid akan menjadi sarana membentuk herd immunity

Ayo jamaah, luruskan shaf, masjid sudah bersih, jemaah sudah bersih, iman jemaah sangat kuat, shaf lurus dan rapat membentuk kekuatan komunitas dari para orang bersih dan beriman. Coba, dari mana virus akan masuk?

Takut? Tentu tidak! Semua jemaah akan menganggap dirinya berjuang, berjuang membentuk herd immunity dari kekuatan shaf shalat berjamah. Bagaimana keluarga? Buat apa khawatir, mereka telah mumpuni dengan bekal bola panjang seperti peninggalan Abu Bakar ra.

Tapi faktanya tidak seperti itu! Masih banyak jemaah ke masjid seminggu sekali. Takut, kerumunan di masjid tapi dan rajin ke pasar. Dia yang hidupnya masih susah dan tidak meninggalkan apa-apa untuk keluarganya.

Masih banyak jemaah yang jangankan mati, miskin saja ditakuti. Takut sama istri tapi tak takut corona. Banyak!

Lalu sebaiknya bagaimana?

Pertama, beribadahlah di rumah. Berjamaahlah di rumah. Bentuk herd immunity di rumah. Bentuk kekuatan baru di rumah dengan keluarga dari virus apapun, termasuk virus penyakit hati.

Satu, dua, tiga, rumah melakukan itu, satu kampung akan terbentuk kekuatan baru dari komunitas antar keluarga berbeda. Jangan anggap remeh kekuatan itu.

Kedua, kita tidak mungkin seperti Abu Bakar sepenuhnya, tapi kita bisa meniru sifat-sifatnya. Bagaimana keimanannya, bagaimana dia menginggalkan bola panjang kepada keluarganya.

Kita harus menghindari virus corona tapi tak perlu takut, seperti Abu Bakar yang tak takut nyawanya melayang demi perjuangannya membela ajaran Rasulullah saw.

Ketiga, capek ma menulis…

Semoga bermanfaat!

Komentar
Loading...