Hukum Menghajikan dan Mempuasakan Seseorang Berdasarkan Hadis

Menghajikan dan Mempuasakan Seseorang

Menghajikan dan mempuasakan seseorang adalah melaksanakan haji dan atau puasa dengan niat pahalanya untuk orang lain. terdapat perbedaan Ulama tentang masalah ini, masing-masing memiliki argumen tersendiri.

Tulisan ini bukan untuk melihat perbedaan itu, tapi hanya melihat boleh tidaknya menghajikan dan mempuasakan seseorang berdasarkan dalil hadis.

Untuk melihat boleh tidaknya menghajikan dan mempuasakkan seseorang berdasarkan hadis, maka perlu diketahui terlebih dahulu nadq al-matan, yaitu penilaian terhadap terhadap teks hadis mengenai susunan lafal dan kandungannya. Adapun tolok ukur yang dapat diterima (maqbul) adalah; 1) tidak bertentangan dengan akal sehat, 2) tidak bertentangan dengan hukum al-Quran yang telah muhkam, 3) tidak bertentangan dengan hadis mutawatir, 4) tidak bertentangan dengan amalan yang telah menjadi konsensus ulama masa lalu (ulama salaf) 5) tidak bertentangan dengan dalil yang sudah pasti dan 6) tidak bertentangan dengan hadis ahad yang kualitas kesahihannya lebih kuat.

Hadis yang mendukung kedua amalan di atas adalah penggalan matannya sebagai berikut:

اريت لوكان ابيك دين أكنت قاضيه

اريت لوكان اختك دين أكنت قاضيه

Penggalan hadis pertama, mengisyaratkan bolehnya melaksanakan ibadah haji dengan niat pahalanya untuk orang tua, sedangkan potongan matan hadis yang kedua mengisyaratkan bolehnya melaksanakan ibadah puasa dengan niat pahalanya untuk saudara.

Hadis tentang menghajikan seseorang, sesungguhnya merupakan hasil dari penjelasan atas QS. Ali Imran: 97 tentang pentingnya menunaikan haji bagi yang mampu. Sedangkan masalah mempuasakan seseorang merupakan syarahan atas QS. al-Baqarah: 183 yang memerintahkan untuk berpuasa bagi orang yang mampu dan bagi mereka yang tidak mampu hendaknya mencari alternatif lain.

Opini Terkait
1 daripada 90

Kedua matan hadis di atas tidak bertentang dengan pendapat ulama salaf, bahkan sangat ditunjang oleh beberapa argumen yang kuat dan akurat mengenai urgennya menghajikan, dan mempuasakan seseorang jika di antara mereka berhalangan. Dengan demikian kedua matan hadis di atas, berkualitas shahih.

Menurut al-Skhawiy, klausa dalam teks hadis لوكان أبيك دين menunjuk tentang adanya cita-cita orang tua untuk menunaikan haji, tetapi menjadi hutang baginya dikarenakan ia tidak mampu mengerjakan disebabkan tidak mampu untuk (الراحلة) berkendaraan jauh (واالعمر) dan ia sudah pikun, sehingga ia wafat.

Sementara itu, seorang anaknya mampu untuk melaksanakannya, maka haji yang ia laksanakan itu diniatkan pahalanya untuk orang tuanya, yakni الأب (untuk bapaknya). Jika dengan alasan seperti itu atau dengan alasan-alasan yang serupa, maka boleh saja seseorang menghajikan orang lain, khususnya pihak keluarga apalagi kedua orang tuanya.

Mengenai mempuasakan seseorang, para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan boleh dan demikian pula sebaliknya. Ulama yang mengatakan boleh dengan alasan jika pihak anak atau saudaranya benar-benar tidak mampu membayarkan fidyahnya.

Sedangkan yang mengatakan tidak boleh adalah dengan alasan bahwa puasa adalah ibadah munfarid (ibadah person) yang tidak boleh diwakilkan. Akan tetapi, berdasar pada shahihnya hadis di atas, maka mempuasakan seseorang boleh saja dilakukan.

Ringkasnya, masalah haji dan puasa adalah suatu kewajiban bagi setiap orang Islam yang mampu, karena ia merupakan rukun agama sebagaimana sabda Nabi saw.

“Islam didirikan atas lima rukun; bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya; mendirikan shalat; mengeluarkan zakat; menunaikan ibadah haji; dan puasa bulan Ramadhan.” Akan tetapi, ketika kedua rukun Islam tadi yakni haji dan puasa tidak disanggup dilaksanakan dengan alasan yang dapat diterima, misalnya karena “meninggal’ sementara ia telah berjanji untuk melaksanakan sebelum meninggalkan, maka kewajiban tersebut berpindah kepada ahli waris atau keluarganya.

Dengan memahami rumusan tersebut, maka dipahami bahwa antara hadis tentang menghajikan dan mempuasakan seseorang memiliki keterkaitan yang sangat erat, yakni keduanya merupakan ibadah fardhu yang masing-masing boleh terwakilkan kepada orang lain untuk perealisasiannya, tetapi pahalanya diperuntukkan untuk orang yang diniatkannya itu.

Loading...