Bagaimana Hukum Tahlilan pada Hari ke-3, 7, 25, 40, 100, dst?

Hukum Tahlilan

Boleh tidak Tahlilan pada hari ke-3, 7, 25, 40, 100, satu tahun, 1000? Jawaban dari pertanyaan ini pada dasarnya sekaligus menjadi jawaban atas hukum Tahlilan.

Sebagaimana diketahui tradisi Tahlilan banyak dilakukan oleh masyarakat muslim Indonesia. Sebagian lagi menyanggah, melarang bahkan mengharamkan.

Sebelum menjawab pertanyaan mendasar itu, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu apa itu Tahlilan.

Arti Tahlilan

Tahlilan adalah istilah dari kegiatan kumpul-kumpul beberapa orang dalam rangka mendoakan mayit yang sudah meninggal.

Tahlilan 3, 7, 25, 40, 100, setahun dan 1000 hari, adalah acara yang dibuat khusus pada hari ke-3, 7, 25, 40, 100, setahun dan 1000, setelah orang yang ditahlilkan meninggal. Bahkan ada acara tahlilan di luar dari hari tersebut.

Tahlil sendiri berarti mengucapkan kalimat la ilaha illa Allah. Kalimat yang menjadi esensi ajaran islam, kalimat tauhid yang sekaligus menjadi kunci surga.

Serangkaian kalimat yang menjadi doa dibaca pada acara dan waktu tertentu. Biasanya doa dalam acara yang dimaksud bertujuan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal. Meski demikian, Tahlilan juga dilakukan sebagai bentuk rasa syukur pada kegiatan syukuran.

Bacaan tahlil secara umum dibaca dengan diawali surat yasin, surah al-Fatihah, al-Ikhlash, al-Falaq, an-Nas, 5 ayat awl surah al-Baqarah, surah al-Baqarah ayat 284-286, ayat kursi, kemudian dilanjutkan dengan bacaan tahlil dan ditutup oleh doa tahlil.

Alasan kelompok yang melarang Tahlilan

Beberapa kelompok agama dalam Islam, melarang dan mengharamkan Tahlilan 3, 7, 25, 40, 100, setahun dan 1000 hari. Kelompok dari Salafi, Wahabi, dan sebagian dari umat Islam dari kelompok sejenis.

Seperti alasan-alasan mereka secara umum, bahwa hukum Tahlilan 3, 7, 25, 40, 100, setahun dan 1000 hari, tidak memiliki dalil yang jelas. Bahwasanya, semua ibadah tergantung dalil yang menyebutkan, karena menurut mereka tidak ditemukan dalil perintah atas Tahlilan, maka Tahlilan haram.

Menurut mereka, Tahlilan 3, 7, 25, 40, 100, setahun dan 1000 hari, justru mengikuti ritual agama lain, seperti agama Hindu maupun beberapa sekte agama di India

Karena patokan ibadah adalah dalil, maka argumen tahlil secara Aqli atau rasional, tidak mereka terima dan dianggap tertolak.

Alasan bolehnya Tahlilan

Bolehkah melaksanakan Tahlilan dan apa hukum Tahlilan? Pertanyaan ini bermakna, bolehkah mendoakan orang yang sudah meninggal? Dan ini juga terkait dengan sampai tidaknya pahala kepada orang yang sudah meninggal.

Dalil Naqli dan Aqli Tentang Mendoakan Mayit

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: ”Apabila anak Adam itu mati, maka terputus amalnya, kecuali dari dari tiga hal: sedekah yang berlaku terus menerus, pengetahuan yang d manfaatkan, dan anak shaleh yang mendoakan dia.” (HR Muslim)

Shadaqah jariyah, yaitu sesuatu yang terus-menerus manfaatnya, seperti wakaf tanah. llmu yang bermanfaat, seperti mengajarkan sesuatu kepada orang lain atau murid, mengarang buku, dan lain sebagainya. Anak shaleh yang selalu mendoakan kedua orangtuanya.

Khusus untuk kata anak yang mendoakan orangtuanya menggunakan kalimat “walad”, yang bermakna tidak mutlak anak kandung, tapi juga anak angkat, atau orang yang mendoakan orang lain, atau anak yang mengajak orang lain mendoakan orangtuanya.

Dalam tafsir Ibn Katsir, Abu Fida Ismail mengatakan Imam Syafi’i berkata bahwa tidak sampai pahala orang yang mendoakan mayit, namun pada akhirnya beliau berkomentar lagi, ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﺬﺍﻙ ﻣﺠﻤﻊ ﻋﻠﻰ ﻭﺻﻮﻟﻬﻤﺎ ﻭﻣﻨﺼﻮﺹ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ bahwa doa dan sedekah dengan niat pahalanya kepada mayit, akan sampai.

Imam Abu Zakariya Muhyiddin Ibn al-Syarof, dari madzhab Syafi’i yang terkenal dengan panggilan Imam Nawawi menegaskan;

ﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَـﻤْﻜُﺚَ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻟﻘَﺒْﺮِ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﺪُّﻓْﻦِ ﺳَﺎﻋَـﺔً ﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻠْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻝُﻩَ. ﻧَـﺺَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻰُّ ﻭَﺍﺗَّﻔَﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻻَﺻْﺤَﺎﺏُ ﻗَﺎﻟﻮُﺍ: ﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَـﻘْﺮَﺃَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺷَﻴْﺊٌ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺃَﻥِ ﻭَﺍِﻥْ خَتَمُوْا اْلقُرْآنَ كَانَ اَفْضَلَ

Opini Terkait
1 daripada 125

“Disunnahkan untuk diam sesaat di samping kubur setelah menguburkan mayit untuk mendo’akan dan memohonkan ampunan kepadanya”, pendapat ini disetujui oleh Imam Syafi’i dan pengikutnya. Para murid Imam Syafi’i mengatakan “sunnah dibacakan beberapa ayat al-Qur’an di samping kubur mayit, dan lebih utama jika sampai menghatamkan al-Quran”.

Selain paparannya di atas Imam Nawawi juga memberikan penjelasan yang lain seperti tertera di bawah ini;

ﻭَﻳُـﺴْـﺘَﺤَﺐُّ ﻟِﻠﺰَّﺍﺋِﺮِ ﺍَﻥْ ﻳُﺴَﻠِّﻢَ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻟﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺰُﻭْﺭُﻩُ ﻭَﻟِﺠَﻤِﻴْﻊِ ﺍَﻫْﻞِ ﺍْﻟﻤَﻘْﺒَﺮَﺓِ. ﻭَﺍْﻻَﻓْﻀَﻞُ ﺍَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﺑِﻤَﺎ ﺛَﺒـَﺖَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻭَﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَﻘْﺮَﺃَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺃٰﻥِ ﻣَﺎ ﺗَﻴَﺴَّﺮَ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﻘِﺒَﻬَﺎ ﻭَﻧَﺺَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎِﻓﻌِﻰُّ ﻭَﺍﺗَّﻔَﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻻَﺻْﺤَﺎﺏُ.

“Dan disunnahkan bagi peziarah kubur untuk memberikan salam atas (penghuni) kubur dan mendo’akan kepada mayit yang diziarahi dan kepada semua penghuni kubur, salam dan do’a itu akan lebih sempurna dan lebih utama jika menggunakan apa yang sudah dituntunkan atau diajarkan dari Nabi saw, dan disunnahkan pula membaca al-Quran semampunya dan diakhiri dengan berdoa untuknya, keterangan ini dinash oleh Imam Syafi’i (dalam kitab al-Umm) dan telah disepakati oleh pengikut-pengikutnya”.

Ibnu Taimiyah juga menjelaskan perihal diperbolehkannya menyampaikan hadiah pahala shalat, puasa dan bacaan al-Qur’an kepada:

ﻓَﺎِﺫَﺍ ﺍُﻫْﺪِﻱَ ﻟِﻤَﻴِّﺖٍ ﺛَﻮَﺍﺏُ ﺻِﻴﺎَﻡٍ ﺍَﻭْ ﺻَﻼَﺓٍ ﺍَﻭْ ﻗِﺮَﺋَﺔٍ ﺟَﺎﺯَ ﺫَﻟِﻚَ

Artinya: “jika saja dihadiahkan kepada mayit pahala puasa, pahala shalat atau pahala bacaan al-Qur’an maka hukumnya dibolehkan”.

Saya pernah bertemu dengan seseorang yang menganggap bahwa mendoakan orang yang sudah meninggal tidak ada gunanya, karena menurutnya, doa itu tidak akan sampai.

“Kalau begitu, saya doakan semoga nenek kamu yang sudah meninggal dihajar oleh Mungkar Nakir di kuburnya!” Jawabku.

Dia marah, dan saya jawab, “buat apa kamu marah, toh menurut kamu doa itu tidak akan sampai kepada orang meninggal. Doa saya tidak ada gunanya terhadap nenek kamu yang sudah meninggal.”

Dalil Tahlilan 3, 7, 25, 40, 100, setahun dan 1000 hari

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻫﺪﻳﺔ ﺇﻟﻰﺍﻟﻤﻮتى

ﻭﻗﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺪﻓن ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺧﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺨﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺇﻟﻰ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻷﺭﺑﻌﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﻣﺎﺋﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻤﺎﺋﺔ ﺇﻟﻰ ﺳﻨﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻟﻒ عام (الحاوي للفتاوي ,ج:۲,ص: ١٩٨

Rasulullah saw bersabda: “Doa dan sedekah itu hadiah kepada mayyit.” Berkata Umar: “sedekah setelah kematian maka pahalanya sampai 3 hari dan sedekah dalam 3 hari akan tetap kekal pahalanya sampai 7 hari, dan sedekah di hari ke-7 akan kekal pahalanya sampai 25 hari dan dari pahala 25 sampai 40 harinya lalu sedekah dihari ke 40 akan kekal hingga 100 hari dan dari 100 hari akan sampai kepada satu tahun dan dari satu tahun sampailah kekalnya pahala itu hingga 1000 hari.”

Angka yang disebut dalam hadis tersebut jelas, 3, 7, 25, 40, 100, satu tahun dan 1000 hari.

Tahlilan adalah berkumpul dan berdoa bersama. Biasa dibarengi dengan acara makan-makan atau menghidangkan sesusatu kepada tamu yang hadir. Hal ini pernah terjadi pada masa Umar bin Khattab ra.

ﻓﻠﻤﺎ ﺍﺣﺘﻀﺮﻋﻤﺮ ﺃﻣﺮ ﺻﻬﻴﺒﺎ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ، ﻭﺃﻣﺮ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻃﻌﺎما، ﻓﻴﻄﻌﻤﻮﺍ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﺘﺨﻠﻔﻮﺍ ﺇﻧﺴﺎﻧﺎ ، ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺟﻌﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﺟﺊ ﺑﺎﻟﻄﻌﺎﻡ ﻭﻭﺿﻌﺖ ﺍﻟﻤﻮﺍﺋﺪ ! ﻓﺄﻣﺴﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻨﻬﺎ ﻟﻠﺤﺰﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻢ ﻓﻴﻪ ، ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻄﻠﺐ : ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﻣﺎﺕ ﻓﺄﻛﻠﻨﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺷﺮﺑﻨﺎ ﻭﻣﺎﺕ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻓﺄﻛﻠﻨﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺷﺮﺑﻨﺎ ﻭﺇﻧﻪ ﻻﺑﺪ ﻣﻦ ﺍﻻﺟﻞ ﻓﻜﻠﻮﺍ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ، ﺛﻢ ﻣﺪ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﻳﺪﻩ ﻓﺄﻛﻞ ﻭﻣﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻳﺪﻳﻬﻢ ﻓﺄﻛﻠﻮﺍ

Ketika Umar sebelum wafatnya, ia memerintahkan pada Shuhaib untuk memimpin shalat, dan memberi makan para tamu selama 3 hari hingga mereka memilih seseorang, maka ketika hidangan–hidangan dihidangkan, orang-orang tak mau makan karena sedihnya, maka berkatalah Abbas bin Abdulmuttalib: “Wahai hadirin, sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum setelahnya, lalu wafat Abubakar dan kita makan dan minum sesudahnya, dan ajal itu adalah hal yang pasti, maka makanlah makanan ini!” Lalu beliau mengulurkan tangannya dan makan, maka orang–orang pun mengulurkan tangannya masing–masing dan makan.

Kemudian dalam kitab Imam as-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawi:

ﻗﺎﻝ ﻃﺎﻭﻭﺱ : ﺍﻥ ﺍﻟﻤﻮﺗﻰ ﻳﻔﺘﻨﻮﻥ ﻓﻲ ﻗﺒﻮﺭﻫﻢ ﺳﺒﻌﺎ ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻳﺴﺘﺤﺒﻮﻥ ﺍﻥ ﻳﻄﻌﻤﻮﺍ ﻋﻨﻬﻢ ﺗﻠﻚ ﺍﻻﻳﺎﻡ

Imam Thawus berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kubur mereka selama 7 hari, maka mereka (sahabat) gemar menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut.”

Kesimpulan:

  1. Mendoakan, dan bersedekah dengan niat pahala untuk orang yang sudah meninggal, adalah sunnah dan pahala tersebut sampai
  2. Hukum Tahlilan baik pada hari ke-3, 7, 40, 100, satu tahun, maupun 1000, dibolehkan oleh para ulama dengan serangkaian dalil
  3. Kegiatan Tahlilan bukan merupakan tradisi yang mengikuti agama lain

Rujukan: Al-Hawi lil Fatawi Juz 2 Hal 198, al Fawaidussyahiir Li Abi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul ummaal fii sunanil aqwaal wal af’al Juz 13 hal 309, Thabaqat al-Kubra Li Ibn Sa’d Juz 4 hal 29, Tarikh Dimasyq juz 26 hal 373, al-Makrifah wattaarikh Juz 1 hal 110, Abul Fida Ibn Katsir al Dimasyqi Al Syafi’i) 774 H beliau mengomentari ayat 39 surah an Najm (IV/236: Dar el Quthb), Majmu’ al-Fatawa: XXIV/322.

Loading...